Penelitian Terbaru Ungkap Obat Anti-Parasit Bisa Bunuh Virus Korona

by
ILUSTRASI: Para peneliti terus mengembangkan untuk menemukan vaksin virus Korona. Terbaru, obat anti-parasit dikatakan bisa membunuh virus Korona (The Verge/jawapos”

Para peneliti terus bekerja untuk menemukan obat dan vaksin virus Korona jenis baru atau Covid-19. Setelah sebelumnya ada Avigan dan Chloroquine, kini ada obat lain yang disebut-sebut efektif untuk melawan virus Korona. Obat itu bersifat anti-parasit.

Dilansir dari AsiaOne, Selasa (7/4) sebuah studi kolaboratif yang dilakukan oleh tim dari Monash University dan Doherty Institute di Australia telah menemukan bahwa obat anti-parasit yang umum digunakan, dapat menghentikan proses inkubasi virus Korona dan berpotensi menyembuhkan pasien positif Covid-19. Penelitian menunjukkan bahwa obat yang tersedia secara global yang disebut Ivermectin mampu membunuh SARS-CoV-2, virus Korona yang menyebabkan Covid-19.

Bahkan, efektivitasnya dalam membunuh virus bisa menghentikannya tumbuh dalam kultur sel dalam waktu 48 jam. Namun, harus dicatat bahwa penelitian ini dilakukan secara in vitro (di lingkungan yang terkendali di luar organisme hidup). Data yang lebih kredibel akan diperoleh sambil menunggu uji klinis pada subjek manusia. Berdasar itu masih membutuhkan studi lebih lanjut.

“Kami melaporkan di sini bahwa Ivermectin, anti-parasit yang disetujui FDA sebelumnya terbukti memiliki aktivitas antivirus spektrum luas secara in vitro, merupakan penghambat virus penyebab,” sebut laporan itu.

Obat itu sebelumnya terbukti efektif melawan beragam virus, termasuk HIV, demam berdarah, influenza, dan virus Zika. Seorang ilmuwan di Monash Biomedicine Discovery Institute yang memimpin penelitian ini, Kylie Wagstaff, mengatakan hasil optimis dari penelitian ini telah menjamin kemungkinan uji coba pada manusia. Diharapkan akan menghasilkan informasi yang lebih kredibel mengenai kemanjuran obat dalam sel hidup.

“Kami menemukan bahkan dosis tunggal dari Ivermectin pada dasarnya dapat menghapus semua viral load asam ribonukleat viral load hingga 48 jam dan bahkan pada 24 jam ada pengurangan yang sangat signifikan di dalamnya,” kata Wagstaff dalam laporan itu.

“Kami perlu mencari tahu sekarang apakah dosis yang dapat digunakan pada manusia akan efektif, itu langkah selanjutnya,” tegasnya.

Ivermectin mungkin telah menghambat proses virus yang melemahkan kemampuan sel inang untuk membunuhnya. Namun, cara spesifik Ivermectin mengesampingkan proses virus tersebut belum ditemukan.

Banyak negara, termasuk Indonesia, berjuang keras untuk menemukan solusi yang mungkin untuk virus mematikan itu. Presiden Joko Widodo mengumumkan bulan lalu bahwa pemerintah telah menyiapkan obat-obatan, termasuk 3 juta dosis Chloroquine, yang digambarkan telah terbukti menyembuhkan Covid-19 di negara lain.

Namun, para ahli kesehatan sejak itu mengangkat kekhawatiran tentang risiko yang melekat dalam pengobatan sendiri menggunakan choloroquine phosphate (obat antimalaria) karena mereka mengklaim obat itu memiliki serangkaian efek samping. Misalnya berbahaya termasuk diare, kesulitan bernapas, otot melemah, dan gangguan mental. (jawapos)