Ribuan Pemudik Nganggur

by
PULANG DINI – Akibat wabah corona, banyak pemudik yang pulang dini dengan hasil yang tak optimal. Selama di kampung pun mereka nganggur.

KAJEN – Puluhan ribu pemudik yang pulang kampung secara dini akibat imbas wabah Covid-19 saat ini menganggur di kampung halaman. Mereka rata-rata bekerja di sektor informal, seperti pedagang sayur, pembantu rumah tangga, dan buruh yang mulai dirumahkan.

Ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Paninggaran, Agus Susilo, Jumat (3/4/2020), mengatakan, persoalan urbanisasi saat ini menjadi masalah serius yang harus dipikirkan pemerintah. Menurutnya, banyak warga dari Kecamatan Paninggaran yang bekerja di perantauan seperti Jakarta dan sekitarnya mudik tanpa membawa hasil.

Di desanya saja, kata dia, ada sekitar 200 orang yang merantau untuk mencari nafkah, dan saat ini pulang kampung tanpa membawa hasil. “Dengan kondisi wabah seperti ini pemudik banyak yang pulang kampung, dan saat di desa tidak bekerja. Ini harus ada solusinya juga dari pemerintah,” kata dia.

Menurutnya, jika bisa bagaimana caranya agar ke depan tidak ada lagi urbanisasi besar-besaran ke Jakarta dan daerah lainnya. Untuk itu, diharapkan pemda bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup di daerah sendiri.

Dikatakan, desa di Kecamatan Paninggaran rata-rata sudah menyiapkan kegiatan padat karya untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19, dengan rata-rata alokasi anggaran perdesa Rp 100 juta. Untuk alokasi anggaran bagi pencegahan Covid-19 berkisar antara Rp 30 juta – Rp 40 juta.

“Alokasi anggaran ini belum maksimal karena kita tidak tahu corona ini sampai kapan,” kata dia. Ditambahkan, dengan wabah ini sektor perekonomian warga lainnya juga terpuruk. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemulihan ekonomi secara spesifik.

“Banyak warga terutama pemudik sekarang tidak kerja. Mereka banyak juga yang terjerat utang dan kredit. Kami hanya bisa membuat surat imbauan agar bank tongol, leasing, koperasi, dan sejenisnya tidak masuk ke desa untuk melakukan penagihan. Namun ini tidak kuat, karena hanya bersifat imbauan,” imbuh dia.

HARGA MANGGIS ANJLOK
Dampak wabah corona juga dirasakan petani manggis di Kecamatan Paninggaran. Menurutnya, akibat dampak wabah corona, harga manggis anjlok. “Harga manggis dulu Rp 20 ribu perkilo, sekarang hanya Rp 5 ribu perkilo,” terang dia.

Dikatakan, manggis Paninggaran kualitasnya bagus, sehingga diekspor ke sejumlah negara. Namun dengan pandemi Covid-19, ekspor manggis tidak berjalan dengan baik. “Kami berharap ada solusi untuk nasib petani manggis ini,” ujar dia.

Perangkat Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, M Puji Purwanto, menyatakan hal yang sama. Menurutnya, beberapa pemudik di desanya sudah pulang kampung. Saat ini, kata dia, mereka tengah mengisolasi diri di dalam rumah hingga 14 hari. “Pemudik ini juga bingung di kampung nanti mau kerja apa jika wabah ini berkepanjangan. Padahal sebentar lagi Lebaran,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi usai Musrenbang menyatakan, selain antisipasi pengawasan pemudik, penekanan selanjutnya adalah dampak ekonomi akibat wabah corona, dan hal ini menjadi konsen pemerintah kabupaten.

“Hari ini kita mengirimkan blangko ke kades untuk mendata warga desa yang secara ekonomis terdampak paling parah,” ujar dia. Menurutnya, prioritas pertama adalah para penyandang disabilitas. Prioritas kedua, kata dia, orang miskin baru. “Saudara saudara kita karena faktor pembatasan wilayah tidak bisa bekerja maksimal,” katanya.

Selanjutnya, prioritas ketiga adalah para perantau yang menjadi tulang punggung keluarganya, karena mereka pulang dini sehingga tidak membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. “Ini lah yang akan kita sigi, nanti ketemunya berapa, nanti akan kita sinergikan kebijakan dari pemprov dan pemkab dan mengacu kebijakan yang diputuskan pemerintah pusat. Jadi bersifat kolaboratif. Program penanggulangan dampak sosial kemiskinan ini,” ujar Bupati. (had)