Renungan Jum'at

Orang Mati Seperti Orang Hidup

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Di dunia ini, ada orang hidup tetapi seperti orang mati. Akan tetapi, ada orang mati seperti orang hidup. Orang hidup yang seperti orang mati adalah orang yang tidak pernah berbuat manfaat dan tidak punya karya. Kematiannya adalah akhir segalanya. Hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, maka kematiannya mengakhiri kediriannya itu.

Namun, bagi orang yang banyak berbuat dan selalu menebar manfaat, serta terus menerus melahirkan karya monumental di masyarakat, kematiannya bukanlah akhir. Ia mati, tetapi seperti masih hidup.

Sebab, setelah itu namanya akan terus dikenang, jasa-jasanya pun masih akan diingat orang dalam iringan doa untuknya. Dan karya-karya monumentalnya masih bisa dinikmati dan dimanfaatkan generasi setelahnya. Meskipun telah mati, mereka tetap hidup. Inilah orang mati yang seperti orang hidup. Kematian bukanlah akhir dari kehidupannya. Kematian tidak mengubur namanya.

Itulah mengapa Allah menegaskan: “Janganlah kamu katakan terhadap orang-orang yang mati di jalan Allah bahwa mereka itu mati; bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. [2]: 154)

“Bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dg mendapat rezeki” (Qs. [3]: 169)

Rasul pun bersabda: “Jika anak cucu Adam mati, maka terputuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Di Indonesia ini ada banyak contoh orang mati tetapi seperti orang hidup. Sebut saja, misalnya, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, pendiri Muhammadiyah dan NU. Secara fisik keduanya telah mati, akan tetapi secara spirit dan karya keduanya masih hidup hingga kini.

Muhammadiyah yang didirikannya kini berkembang dengan ratusan perguruan tinggi & rumah sakit, puluhan ribu sekolah dari dasar hingga menengah, dan ratusan panti yatim. Demikian pula NU yang didirikannya, kini menjelma menjadi puluhan ribu pesantren, puluhan ribu majelis ta’lim yang memenuhi pelosok negeri dengan ajaran-ajarannya. Keduanya terus memberi untuk negeri meskipun pendirinya telah tiada.

Maka, berbuatlah dan berkaryalah agar setelah kematianmu, orang-orang masih mengenangmu dan mendoakanmu seperti ketika engkau masih hidup. (*)

Facebook Comments