Features

San Siro, Markas Kebanggaan Klub Papan Atas AC Milan

*Belajar Budaya Eropa untuk Membangun Spirit dan Menemukan Inspirasi (14/Habis)

Malam ini rombongan memiliki kesempatan sekitar dua jam untuk berkeliling di Kota Milan. Setelah itu istirahat satu malam dan keesokan harinya bagi yang belum mendapatkan barang yang diinginkan masih punya waktu sisa 2 jam sebelum ke bandara Milan. Bagaimana ceritanya? A ASEP SYARIFUDDIN, Milan

San Siro, Markas Kebanggan Klub Papan Atas AC Milan

SAN SIRO – San Siro, markas klub papan atas AC Milan.
FOTO: ASEP

DARI Masjid Al Rahman, perjalanan dilanjutkan ke pusat Kota Milan. Bus parkir di salah satu sudut kota agak ke pinggir, tepat di depan Gereja Basilica di San Simpliciano. Gereja tersebut sangat besar dari ujung ke ujung, memiliki menara. Di depannya ada air mancur menambah romantis suasana di malam hari.

Rombongan menyebar ke titik-titik yang diinginkan. Ada yang mencari tas-tas murah buatan usaha kecil menengah Itali. Kalau dibandingkan dengan harga tas di Paris, sangat jauh harganya. Harga di Paris 10 kali lipat harga tas di Milan. Padahal secara kualitas tidak beda-beda amat. Konon katanya, tas di Paris memang branded, sementara tas di Milan adalah hasil kerajinan masyarakat setempat, sehingga harganya jauh lebih murah.

Sebagian rombongan mencari jersey AC Milan dan Juventus dan Inter Milan sebagai jersey kebanggaan tim fanatisnya. Ada juga yang mencari merk adidas, di sini tempatnya. Ketika menghampiri sebuah toko kaos dan menanyakan jersey klub Itali, petugasnya menggeleng-gelengkan kepala. Di sana hanya ada kaos Milan dengan brand Milano di kaosnya. Sellesnya menunjukkan ke sebuah sudut kota sambil menulis, San Siro. Artinya, cari toko di sebuah sudut dengan nama toko San Siro. Agak jauh dari sana, harus jalan kaki lagi. Beberapa orang merencanakan keesokan harinya untuk mencari jersey tersebut karena hari sudah larut malam.

Keesokan harinya, sebelum ke toko Jersey, bus menyempatkan diri mampir di stadion San Siro. Ini adalah stadion kesebelasan klub Itali. Sebenarnya stadion tersebut adalah milik pemerintah, boleh dipakai oleh siapa saja dengan status sewa. Sementara AC Milan dan Inter Milan saat ini belum memiliki stadion. Akhirnya, kedua klub boleh menyewa stadion tersebut. Kalau AC Milan laga kandang, maka nama stadion tersebut diganti menjadi San Siro,

Stadion San Siro adalah stadion sepak bola di Milan, Italia. Stadion ini adalah kandang bagi dua tim Liga Italia dari Serie A: AC Milan dan Internazionale atau lebih dikenal dengan Inter Milan.

Stadion San Siro mulai dibangun oleh Piero Pirelli, presiden AC Milan saat itu, pada 1 Agustus 1925 dan selesai pada 15 September 1926 dengan nama Nuovo stadio Calcistico San Siro. Pembangunan tersebut menghabiskan dana sekitar 5 juta lira. Stadion ini dibuka secara resmi pada tanggal 19 September 1926 dengan pertandingan derby antara AC Milan melawan Inter Milan, yang dimenangkan oleh Inter Milan dengan skor 6-3.

Pada awalnya Stadion ini adalah Stadion kandang bagi AC Milan, hingga pada tahun 1935 AC Milan mengalami kebangkrutan dan harus menjual stadion tersebut pada Pemerintah kota Milan. Inter Milan kemudian menyewa Stadion ini dari Pemerintah kota Milan pada tahun 1947, sejak saat itu stadion ini digunakan sebagai kandang bagi Inter Milan dan AC Milan. Jauh sebelum menggunakan Stadion San Siro, Inter selalu menggunakan Stadion Arena.

Nama Giuseppe Meazza dipilih oleh Inter Milan sebagai nama Stadion pada 3 Maret 1980 untuk menghormati pemain sepak bola legendaris yang membawa Italia menjuarai Piala Dunia 1934 dan 1938, sekaligus mantan pemain Inter dan Milan. Tetapi FIFA dan UEFA lebih mengakui San Siro sebagai Nama stadion ini. Karena lebih dahulu terdaftar sebagai Stadion San Siro, dan Suporter AC Milan lebih suka menggunakan nama “San Siro” untuk menyebut nama stadion ini, karena Giuseppe Meazza lebih identik sebagai ikon Inter Milan walaupun pernah bermain untuk AC Milan.

Rombongan berkesempatan untuk berfoto-foto di stadon. Setelah itu kembali ke toko jersey yang semalam belum sempat kesampaian membeli. Yang paling ramai toko jersey di AC Milan karena memang kota ini adalah markasnya. Kostum serba merah mewarnai toko jersey tersebut.

Perjalanan dilanjutkan menuju Bandara Milan. Setelah memasuki kantor imigrasi, ternyata perut terasa lapar, belum diisi makan berat. Sebagian rombongan mampir ke restoran. Satu-satunya menu yang dikenal dan tidak mengandung unsur-unsur makanan haram adalah spagheti. Akhirnya dipesanlah spagheti alias mie dicampur saus walaupun rasanya asam banget. Daripada lapar di pesawat. (*/habis)

Penulis: Ade Asep Syarifuddin | Radar Pekalongan

Facebook Comments