Nasional

Timnas Indonesia, Ambisi Pupus Kutukan dan Rekor Bima Sakti

Timnas Indonesia, Ambisi Pupus Kutukan dan Rekor Bima Sakti

Timnas Indonesia berambisi mematahkan kutukan di final Piala AFF (Miftahul Hayat/Jawa Pos)

Timnas Indonesia punya harapan besar di Piala AFF 2018 ini. Mereka berambisi memupus kutukan selalu kalah di laga final. Memang, selama ini, Garuda bisa dibilang cukup gemilang ketika berlaga di Piala AFF yang sebelumnya bernama Piala Tiger. Namun, setiap kali lolos ke final, Indonesia selalu takluk.

Indonesia pertama kali melaju ke final pada 2000. Namun, Merah Putih kalah dari Thailand dengan skor 1-4. Pada 2002, Indonesia kembali mencapai final dan lagi-lagi bersua Thailand. Kali ini perlawanan sempat sengit. Hingga perpanjang waktu skor imbang 2-2. Namun, dalam adu penalti, Indonesia kalah 2-4.

Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Indonesia kembali menyentuh final pada edisi 2004. Namun, dalam final format baru yakni kandang dan tandang, Indonesia tetap dijauhi keberuntungan. Indonesia kalah agregat 2-5 dari Singapura.

Sempat meredup pada 2007 dan hanya mencapai semifinal pada 2008, Indonesia kembali lolos ke final pada 2010. Lagi-lagi kutukan final menghantui. Indonesia dikalahkan Malaysia dengan agregat 2-4.

Kemudian, dalam dua perhelatan berikutnya yakni 2012 dan 2014, Indonesia selalu kandas di fase grup. Baru pada 2016, Garuda kembali terbang tinggi dan lolos ke final untuk kelima kalinya. Namun, lima kali pula gagal juara. Merah Putih tak kuasa menahan Thailand dan kalah agregat 2-3.

Pelbagai upaya dilakukan demi memupus kutukan final. Indonesia menggandeng pelatih asal Spanyol, Luis Milla, untuk mengubah gaya permainan. Hasilnya memang terlihat. Indonesia lebih berani memainkan bola-bola pendek seperti ciri khas Spanyol.

Namun, setelah Asian Games 2018, Milla tak kunjung kembali ke Indonesia meski sudah dinyatakan kontraknya diperpanjang. Pada akhirnya PSSI kehilangan kesabaran dan tak lagi menggunakan jasa Milla. PSSI lantas menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih kepala. Bima Sakti bisa dikatakan tinggal meneruskan fondasi yang ditanamkan Milla. Apalagi sebelumnya dia merupakan asisten pelatih dari Milla.

Penunjukkan Bima Sakti sebagai pelatih Timnas Indonesia membuat dia mengukir rekor. Bima Sakti menjadi sosok pertama di Indonesia yang terlibat di Piala AFF sebagai pemain dan pelatih. Sebelumnya, saat menjadi pemain, Bima Sakti, tampil di tiga edisi Piala AFF dan masih bernama Piala Tiger.

Rekor tersebut akan semakin gemilang andai Bima Sakti bisa mewujudkan ambisi masyarakat Indonesia yakni merengkuh gelar juara Piala AFF. Bima sendiri ingin membalas kegagalan juara saat masih sebagai pemain. Capaian terbaik Bima Sakti sebagai pemain di Piala AFF adalah runner-up pada 2000. Sebelumnya pada 1996 hanya peringkat keempat dan pada 1998 peringkat ketiga.

“Saat masih bernama Piala Tiger, saya sempat masuk final dan semifinal. Sekarang kesempatan saya sebagai pelatih untuk bisa membawa Indonesia juara. Saya berharap bisa melakukannya,” ungkap Bima Sakti seperti dilansir laman resmi PSSI.

Bima sendiri berani melakukan gebrakan terkait pemilihan skuad. Sejumlah pemain muda diandalkan. Bima berani meminggirkan pemain-pemain senior seperti Boaz Solossa dan Lerby Eliandry. Bahkan, dua pemain naturalisasi yang berpengalaman juga tidak dipanggil meski sempat memperkuat Garuda. Mereka adalah Ilija Spasojevic dan Esteban Vizcarra. Penyerang Irfan Bachdim juga tak masuk skuad.

Di lini depan, Bima justru percaya kepada striker naturalisasi gaek, Alberto Goncalves. Kemudian beberapa pemain muda seperti Irfan Jaya dan Febri Hariyadi, serta muka baru Dedik Setiawan.

Menurut Bima, skuad saat ini yang terbaik. Kolaborasi pemain senior dan junior diharapkan tampil apik sepanjang Piala AFF 2018 bergulir.

Pencapaian Indonesia di Piala AFF
1996 – Peringkat Empat
1998 – Peringkat Tiga
2000 – Runner-up
2002 – Runner-up
2004 – Runner-up
2007 – Fase Grup
2008 – Semifinal
2010 – Runner-up
2012 – Fase Grup
2014 – Fase Grup
2016 – Runner-up

Data Timnas Indonesia
Julukan: Merah Putih, Garuda
Pelatih: Bima Sakti
Ranking FIFA: 160 (per 25 Oktober 2018)

(epr/JPC)

Facebook Comments