Metro Pekalongan

Awas Banjir dan Longsor! Siklus Banjir 5 Tahunan

SirklusPEKALONGAN – Beberapa hari belakangan ini, intensitas hujan sudah mulai tinggi. Dengan perubahan musim sesuai prediksi BMKG di pertengah November masuk penghujan, masyarakat harus waspada dengan bencana banjir dan longsor.

Di Kota misalnya. Saat ini waspada siklus banjir 5 tahunan. Hal itu melihat pengalaman pada awal tahun 2014. banjir besar menerjang sebagian besar wilayah Kota Pekalongan. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi merata di semua wilayah dari hulu hingga hilir. Volume air sungai meningkat hingga melimpas menggenangi sebagian besar wilayah. Kejadian tersebut dinyatakan sebagai siklus banjir besar yang terjadi setiap 5 tahun sekali. Jika melihat siklus waktunya, kondisi serupa diprediksi akan kembali terjadi pada akhir tahun 2018 atau awal tahun 2019.

“Kalau melihat siklus waktunya yaitu 5 tahun sekali, kemungkinan kondisi serupa bisa terjadi pada akhir tahun 2018 ini atau awal tahun 2019. Kami minta masyarakat mulai waspada pada musim penghujan ini. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi setidaknya masyarakat harus melakukan antisipasi awal dan siaga menghadapi kondisi jika banjir besar kembali terjadi,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan, Suseno.

Menghadapi musim penghujan tahun ini, dikatakan Suseno Pemkot sudah menetapkan status siaga darurat bencana banjir, angin besar dan longsor sejak 1 November 2018 hingga 28 Februari. Rentang wwaktu penetapan status siaga darurat bencana itu menyesuaikan prediksi musim penghujan yang sudah diterbitkan BMKG.

Atas penetapan status tersebut, BPBD Kota Pekalongan juga telah menetapkan posko siaga yang dipusatkan di Kantor BPBD. Walaupun dalam kondisi normal posko sudah bersiaga selama 24 jam, namun usai penetapan status tersebut posko dikuatkan dengan melibatkan beberapa komunitas dan relawan di Kota Pekalongan.

“Posko tersebut berfungsi untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat terkait dengan masalah kebencanaan. Posko akan segera turun jika muncul laporan terjadinya bencana di wilayah Kota Pekalongan. Jika dibutuhkan, maka BPBD juga akan melibatkan dinas teknis dalam penanganan bencana,” tambah Suseno.

Mengenai penyiapan logistik, dia menyatakan bahwa untuk penanganan dengan skala besar sudah disiapkan dana cadangan jika status darurat ditetapkan. Namun sebagai penanganan awal, BPBD juga sudah menyiapkan logistik yang dapat digunakan. “Untuk kesempatan pertama, BPBD sudah menyiapkan logistik. Seperti jika terjadi bencana kemudian didirikan dapur umum, maka logistik bisa disediakan oleh BPBD atau SKPD teknis lain. Tapi untuk penanganan skala besar sudah disiapkan dengan dana cadangan,” jelasnya.

Begitu juga untuk peralatan evakuasi dan titik pengungsian, juga telah disiapkan. Untuk peralatan evakuasi, BPBD melibatkan SKPD lain seperti ambulans dari puskesmas atau truk milik Satpol PP. Sedangkan untuk titik pengungsian, beberapa lokasi dapat digunakan seperti GOR Jetayu, Stadion Hoegeng hingga Kantor Kecamatan Pekalongan Utara. Juga beberapa kantor milik pemerintah yang bebas dari banjir juga dapat diakses sebagai lokasi pengungsian.

“Kami sebenarnya sudah menyiapkan titik-titik pengungsian untuk seluruh Kota Pekalongan dan sudah kami ajukan dalam Raperda RTRW. Namun karena saat ini masih dalam tahap evaluasi di Gubernur maka masyarakat dapat mengakses lokasi-lokasi yang biasa digunakan untuk pengungsian,” kata Suseno.

Sedangkan mengenai pemetaan wilayah rawan bencana, Suseno menyatakan bahwa seluruh kelurahan di wilayah Kota Pekalongan masuk dalam wilayah rawan banjir. Namun pihaknya memiliki prioritas perhatian pada sembilan kelurahan, yang selain rawan banjir juga menjadi wilayah yang rutin diterjang rob.

“Kalau kerawanan, semua wilayah, semua kelurahan di empat kecamatan masuk dalam wilayah rawan banjir. Namun sembilan kelurahan menjadi prioritas perhatian yakni tujuh atau semua kelurahan di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara dan dua kelurahan di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat,” ungkapnya.

Tetapi dikatakan Suseno, saat ini juga tengah dilakukan proyek normalisasi drainase di beberapa wilayah. Dia berharap apa yang tengah dikerjakan saat ini bisa memberikan dampak yakni meminimalisir banjir yang terjadi. “Semoga bisa memberikan efek positif yakni meminimalisir genangan-genangan yang biasa terjadi saat hujan lebat,” tandasnya.

Kabupaten Pekalongan

Di Kota Santri BPBD bentuk Desa tangguh bencana. Hal ini untuk mewaspadai berbagai kemungkinan bencana memasuki musim hujan ini. BPBD Kabupaten Pekalongan pun telah melakukan berbagai antisipasi. Selain kesiapan para relawan tanggap bencana, program pembentukan desa tangguh bencana juga dilaksanakan.

Berbagai upaya waspada bencana ini dinilai penting, mengingat fase perlihan musim kemarau ke musim penghujan seperti saat ini, potensi bencana cukup tinggi. Bencana yang bisa datang kapan saja tanpa diprediksi. Desa tangguh bencana yang mengedukasi warganya untuk bisa mandiri dalam mengahadapi kerawanan bencana, menjadi program panjang yang perlu dilakukan.

Jika melihat tahun-tahun sebelumnya, masa peralihan dari musim panas ke musim hujan (pancaroba) sering diiringi dengan cuaca-cuaca ekstrim, yang dapat menimbulkan bencana seperti angin kencang, banjir hingga
tanah longsor.

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Pekalongan, setidaknya ada tujuh kecamatan yang masuk dalam daftar daerah rawan longsor di Kabupaten Pekalongan, di antaranya Kecamatan Kandangserang (potensi tinggi), Kecamatan Paninggaran (tinggi), Petungkriyono (tinggi), Lebakbarang (tinggi), Kajen (sedang), Doro (sedang) dan Kesesi (sedang).

Sementara, daerah rawan banjir ada di 10 kecamatan. Meliputi Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto, Siwalan, Sragi, Kesesi, Buaran, Kedungwuni, Wonopringgo, Bojong, Tirto, Wonokerto, Siwalan dan Wiradesa.

Sedang untuk Kecamatan Kedungwuni ancaman terbesar adalah banjir bandang di aliran Sungai Sengkarang. Begitupula di Kecamatan Wonopringgo yang terdapat pertemuan dua sungai sehingga berpotensi terjadi banjir.

Selain banjir dan longsor, bahaya angin kencang juga mengancam 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan

Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko mengatakan, untuk curah hujan di Bulan November sudah mulai meningkat di wilayah atas maupun bawah Kota Santri. Meskipun masih belum merata.

“Berdasarkan hasil kajian Badan Geologi Bandung, kita perlu mewaspadai kejadian tanah gerak maupun longsor. Terutama di daerah-daerah atas,” kata Bambang, kemarin.

Terlebih, lanjut dia, kemarau panjang yang terjadi beberapa bulan lalu menimbulkan rekahan-rekahan tanah yang rawan menyebabkan longsor apabila diguyur hujan.

“Kalau rekahan-rekahan itu tidak ditutup, maka berpotensi longsor,” ujar dia.

Maka dari itu, pihaknya telah membentuk empat desa sebagai desa tangguh bencana. Program ini dilakukan untuk meningkatkan tingkat kemandirian warga terhadap kemungkinan terjadinya bencana.

“Desa ini didorong untuk dapat menangani secara mandiri apabila terjadi bencana. Beberapa hal yang kita berikan di antaranya, pelatihan relawan, kajian risiko bencana, dan sosialisasi tanggap bencana,” jelasnya.

Ada empat desa tangguh bencana yang telah dibentuk, di antaranya Desa Kutorembet Lebakbarang yang berkaitan dengan potensi longsor, Desa Kesesi Kecamatan Kesesi, Desa Galangpengampon Wonopringgo dan Desa Tengengwetan Siwalan terkait potensi banjir.

“Kita bentuk desa tangguh bencana. Sudah mulai sejak bulan September sampai sekarang,” tandasnya.

Di Batang, Potensi Longsor

Di Batang musim hujan mulai berlangsung, khusus wilayah Batang bagian selatan atau daerah atas di Dasarian I November ini. Untuk itu, berbagai upaya kesiapsiagaan untuk mengantisipasi segala potensi bencana pun terus dimatangkan, terutama tanah longsor.

Salah satu upaya dimaksud, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang telah diinstruksikan untuk melakukan survei terhadap wilayah-wilayah yang sejauh ini diidentifikasi sebagai rawan longsor.

Hal itu ditegaskan Sekda yang ex-officio Kepala BPBD Kabupaten Batang, Drs NH Nasikhin MH, saat Rakor Pengurangan Resiko Bencana (PRB) di aula Bappelitbang, baru-baru ini. Menurut dia, proses peralihan dari kemarau ke musim hujan telah dimulai, sehingga pemerintah daerah beserta seluruh stakeholder kebencanaan harus siap siaga sejak dini.

“KUncinya adalah pada pengurangan resiko bencana, karena ancaman bencana kan tidak bisa dihilangkan. Makanya, kita minta BPBD segera mensurvei titik-titik rawan longsor untuk melihat apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko bencana,” kata Nasikhin.

Untuk diketahui, saat ini sebagian besar wilayah Kabupaten Batang masih menghadapi musim kemarau. Bahkan, sesuai data monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) per 31 Oktober menunjukkan Kabupaten Batang masih masuk dalam daftar HTH, yakni berturut-turut tidak hujan lebih dari 60 hari. Kategori kekeringan ekstrim itu sesuai data BPBD Provinsi terjadi di Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing.

“Kalau prakiraan hujan sesuai prediksi BMKG, untuk Batang utara baru dimulai di dasarian 3 atau akhir November nanti. Sementara untuk Batang selatan sudah mulai dasarian satu, atau awal November ini. Kalau kemarin-kemarin sempat ada hujan, itu sifatnya baru peralihan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Batang, Ulul Azmi AP MM, Senin (5/11).

Masih sesuai prediksi BMKG, puncak hujan 2018/2019 diperkirakan akan terjadi mulai akhir Desember sampai Januari dan dimungkinkan sampai Februari. Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Rakor PRB juga merekomendasikan dihidupkannya posko-posko penanggulangan bencana di masing-masing kecamatan. Selain itu, DPUPR dan BLH juga diminta melakukan penataan pohon-pohon tua di pinggir jalan kabupaten dan provinsi untuk mengurangi potensi kecelakaan saat musim hujan.

“Sementara dari aparat TNI dan Polri berharap segera digelar apel siaga bencana. Prinsipnya, BPBD dengan kapasitas yang dimiliki saat ini siap untuk menghadapi musim hujan 2018/2019. Seluruh stakeholder kebencanaan, termasuk relawan, juga akan disiagakan,” tegas Ulul.

Rakor PRB yang digelar Jumat (2/11) lalu dihadiri Sekda, Kasdim, Kabag Op Polres, BPBD, serta DPUPR. Dari provinsi juga ada Pusdataru, ESDM, dan Bina Marga, lalu ada Asper Perhutani Subah, Bawang, dan Bandar. OPD terkait seperti DLH, Dinsos, Bagian Kesra, hingga PMI dan relawan juga dihadirkan.

Terkait dengan persiapan semisal terjadi bencana, Kepala Dinsos Batang, Ir Joko Tetuko menyatakan siap membantu jika sampai ada korban yang mengungsi. Pihaknya telah menyiapkan sejumlah anggaran untuk keperluan selimut, tenda, dan keperluan dapur umum.

“Kami harap selama penghujan nanti tidak ada bencana di Batang. Meski begitu sesuai dengan tupoksi kami, kami juga telah menyiapkan anggaran. Semisalnya nanti ada pengungsian kami akan siapkan tenda, dapur umum dan selimut serta keperluan lainnya yang menjadi tupoksi kami. Tapi kami harap jangan sampai ada bencana atau musibah di Kabupaten Batang selama penghujan nanti,” tandasnya. (nul/yan/sef/nov)

Facebook Comments