Radar Kajen

7 Kecamatan Potensi Longsor, 10 Lainnya Rawan Banjir

7 Kecamatan Potensi Longsor, 10 Lainnya Rawan BanjirKAJEN – Memasuki perlihan musim kemarau ke musim penghujan perlu diwaspadai masyarakat Kota Santri, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencna. Sebab, perubahan cuaca ini berpotensi terjadinya bencana yang bisa datang kapan saja tanpa diprediksi.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, peralihan dari musim panas ke musim hujan (pancaroba) sering diiringi dengan cuaca-cuaca ekstrim, yang dapat menimbulkan bencana seperti angin kencang, banjir hingga
tanah longsor.

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Pekalongan, setidaknya ada tujuh kecamatan yang masuk dalam daftar daerah rawan longsor di Kabupaten Pekalongan, di antaranya Kecamatan Kandangserang (potensi tinggi), Kecamatan Paninggaran (tinggi), Petungkriyono (tinggi), Lebakbarang (tinggi), Kajen (sedang), Doro (sedang) dan Kesesi (sedang).

Sementara, daerah rawan banjir ada di 10 kecamatan. Meliputi Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto, Siwalan, Sragi, Kesesi, Buaran, Kedungwuni, Wonopringgo, Bojong, Tirto, Wonokerto, Siwalan dan Wiradesa.

Sedang untuk Kecamatan Kedungwuni ancaman terbesar adalah banjir bandang di aliran Sungai Sengkarang. Begitupula di Kecamatan Wonopringgo yang terdapat pertemuan dua sungai sehingga berpotensi terjadi banjir.

Selain banjir dan longsor, bahaya angin kencang juga mengancam 19
kecamatan di Kabupaten Pekalongan

Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko mengatakan, untuk curah hujan di Bulan November sudah mulai meningkat di wilayah atas maupun bawah Kota Santri. Meskipun masih belum merata.

“Berdasarkan hasil kajian Badan Geologi Bandung, kita perlu mewaspadai kejadian tanah gerak maupun longsor. Terutama di daerah-daerah atas,” kata Bambang, kemarin.

Terlebih, lanjut dia, kemarau panjang yang terjadi beberapa bulan lalu menimbulkan rekahan-rekahan tanah yang rawan menyebabkan longsor apabila diguyur hujan.

“Kalau rekahan-rekahan itu tidak ditutup, maka berpotensi longsor,” ujar dia.

Mewaspadai berbagai kemungkinan bencana memasuki musim hujan ini, pihak BPBD telah melakukan antisipasi dengan membentuk desa tangguh bencana. “Desa ini didorong untuk dapat menangani secara mandiri apabila terjadi bencana. Beberapa hal yang kita berikan di antaranya, pelatihan relawan, kajian risiko bencana, dan sosialisasi tanggap bencana,” jelasnya.

Ada empat desa tangguh bencana yang telah dibentuk, di antaranya Desa Kutorembet Lebakbarang yang berkaitan dengan potensi longsor, Desa Kesesi Kecamatan Kesesi, Desa Galangpengampon Wonopringgo dan Desa Tengengwetan Siwalan terkait potensi banjir.

“Kita bentuk desa tangguh bencana. Sudah mulai sejak bulan September sampai sekarang,” tandasnya. (yan)

Penulis: Muhammad Hadiyan

Facebook Comments