Radar Batang

Dukung Pariwisata, Enam Produk Desa jadi Unggulan

Ngobrol dengan Wihaji

OBROLAN RINGAN – Bupati Wihaji menjelaskan program pembangunan Kabupaten Batang sampai 2022 saat menerima tim Radar Pekalongan, Kamis (1/11).
AKHMAD SAEFUDIN

BATANG – Berbagai program pendukung untuk mensukseskan Visit Batang 2022 terus dilakukan Pemerintah Daerah, salah satunya menyeriusi program one village one product. Saat ini, Pemkab bahkan telah menetapkan produk dari enam desa sebagai unggulan.

Keenam produk tersebut juga dinilai layak jual. Pertama, Emping Mlinjo yang banyak tersebar di Kecamatan Limpung, terutama Desa Ngaliyan. Produk desa itu bahkan sejauh ini telah memenuhi permintaan pasar luar Jawa. Kedua, Desa Reban Kecamatan reban dengan produk Minyak Atsiri. Ketiga, Batik Tulis di Desa Denasri Kulon, Kecamatan Batang.

Keempat, untuk komoditas kulit ada di Desa Masin, Kecamatan Warungasem. Kelima, produk madu dari Desa Kedawung, Kecamatan Banyuputih. Terakhir, Gula Semut yang menjadi produk khas Desa Margosono, Kecamatan Tersono. “Produk-produk ini tidak hanya menjadi andalan di desanya masing-masing, tetapi pangsa pasarnya juga sejauh ini sudah teruji. Komoditas lain juga sudah banyak bermunculan, seperti bambu untuk Desa Sodong, lalu pisang di Pecalungan, dan lainnya,” ungkap Bupati Wihaji, Kamis (1/11), saat menerima Tim Radar Pekalongan di ruang kerjanya.

Menurut Bupati, selama masa kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Suyono, ada tiga program yang menjadi prioritasnya, yakni soal rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), peningkatan investasi, serta pembangunan pariwisata melalui tagline ‘Visit Batang Year 2002, Batang Heaven of Asia’. Dalam hal ini, one village one product menjadi program penopang, terutama untuk pariwisata.

“Kenapa wisata, karena Batang punya kekuatan alam yang wow. Kenapa investasi, ya karena ada magnet PLTU, harga tanah masih murah, lahannya tersedia luas, UMK kita juga masih terjangkau. Nah, kalau investasi jalan, perekonomian akan tumbuh, perputaran uang meningkat, larinya ke kesejahteraan masyarakat. Begitupun dengan pariwisata, jadi semua-muanya bisa mendongkrak IPM,” bebernya.

Sementara untuk sektor pendidikan yang menjadi indikator IPM, salah satu strateginya adalah dengan menarik Universitas Diponegoro (Undip) untuk buka kampus di Bandar melalui Program Studi di luar Kampus Utama (PSDKU). Kata Wihaji, nantinya kampus itu akan menampung hingga 5.000 mahasiswa.

“Bayangkan, perputaran ekonomi setiap tahunnya dari mahasiswa sejumlah itu. Kalau satu mahasiswa dirata-rata pengeluarannya Rp 1 juta/bulan, perputaran uang setahunnya bisa lebih dari 50 miliar. Bandar akan tumbuh menjadi pusat pendidikan, terlebih di situ juga ada Pondok Modern Tazakka. Keberadaan pusat pendidikan ini juga mau tak mau akan meningkatkan angka kunjungan ke Batang. Makanya kepada mahasiswa Undip angkatan ini saya pesan, tolong bantu promosikan Batang,” ujarnya. (sef)

Facebook Comments