Radar Kendal

Waduh, Angka Kematian Ibu dan Bayi masih Tinggi

Waduh, Angka Kematian Ibu dan Bayi masih Tinggi

MEMBUKA – Sekda Kendal Moh Toha saat membuka Desiminasi Hasil Kajian Audit Maternal Perinatal (AMP).
NUR KHOLID MS

KENDAL – Angka kematian ibu, bayi, dan balita di Kabupaten Kendal tercatat masih tinggi. Data tahun 2017 menyebut ada 25 kasus yang ditemukan, sedangkan di 2018 hingga September terdapat 13 kasus.

Sementara untuk kasus kematian bayi sebanyak 142 dan balita 99 di tahun 2017. Adapun di tahun 2018 hingga September ada 25 kasus kematian bayi dan 12 kasus kematian balita.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (sekda) Kabupaten Kendal, Moh Toha, saat membuka kegiatan Desiminasi Hasil Kajian Audit Maternal Perinatal (AMP), yang digelar di Tirto Arum Baru, Rabu (31/10). Dikatakan, dengan peningkatan mutu pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Puskesmas atau Rumah Sakit melalui upaya penerapan tata kelola klinik yang baik penurunan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal/neo natal dapat tercapai.

“Saya kira dengan pelayanan yang bersih dan aman sesuai SOP, kematian ibu, bayi, dan balita bisa dicegah. Pelayanan dari tingkat dasar hingga rujukan diharapkan semakin meningkat sejalan dengan peningkatan sarana dan prasarana,” katanya.

Desiminasi menghadirkan 6 orang narsumber, yaitu 2 orang dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, 2 orang anggota Tim AMP Kabupaten Kendal dan 2 orang dari Dinkes Kabupaten kendal. Kegiatan diikuti 33 peserta, meliputi kepala Puskesmas, pengelola program KIA, perwakilan rumah sakit, organisasi wanita dan Tim AMP Kabupaten Kendal.

Kasie Kesga dan Gizi Dinkes Kendal, Endang Jumini mengatakan, penyampaian hasil Audit Maternal Perinatal tingkat Kabupaten Kendal merupakan serangkaian kegiatan hasil penelusuran sebab kematian dan kesakitan ibu, perinatal dan neo natal sebagai cara mencegah kesakitan atau kematian serupa di masa yang akan datang. “Dan penyampaian hasil rekomendasi serta rencana tindak lanjut yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat,” kata dia yang bertindak selaku ketua panitia.

Menurut Endang, sebagian besar kematian dapat dicegah melalui pelayanan antenatal yang mampu mendeteksi dan menagani kasus resiko tinggi secara memandai dengan pertolongan persalinan yang bersih dan aman serta pelayanan rujukan kebidanan/perinatal yang terjangkau pada saat diperlukan. “Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengembangkan konsep Audit Maternal Perinatal,” terangnya.

Dijelaskan, hasil audit dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan hal-hal yang mempengaruhi kematian ibu dan bayi, yakni faktor medis, non medis serta faktor pelayanan kesehatan yang berpengaruh. Melalui kegiatan itu diharapkan lintas sektor, lintas program juga pengelola program kesehatan ibu da anak dan pemberi pelayanan kesehatan di tingkat pelayanan dasar dan pelayanan rujukan primer. “Serta masyarakat dapat menetapkan prioritas untuk mengatasi faktor – faktor yang mempengaruhi kematian ibu maternal dan perinatal,” tandasnya.

Salah satu narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, dr Joko Mardiyanto mengatakan, penurunan jumlah kematian ibu bayi dan balita di Jawa Tengah pada umumnya kurang maksimal lantaran kurangnya sarana dan prasarana. Serta keinginan banyak rumah sakit untuk turun kelas dan lebih mementingkan pemasukan. “Sehingga kurang ada niat meningkatkan sarana dan prasarana yang memadai,” katanya. (nur)

PENULIS: NUR KHOLID MS

Facebook Comments