Nasional

Kondisi Korban Lion Air Lebih Parah daripada Tragedi AirAsia

Anggota keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang menunjukan foto Puspita Eka Putri saat berada di Posko Antemortem Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (30/10). (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Proses identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air terbilang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Hingga kemarin (1/11) Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri belum menambah jumlah korban yang bisa dikenali. Bagian tubuh korban yang ditemukan belum representatif untuk diidentifikasi dengan menggunakan metode struktur gigi dan sidik jari.

Kondisi itu mengindikasikan betapa parahnya tubrukan atau crash yang terjadi pada pesawat bernomor penerbangan JT 610 itu.

Bahkan, crash yang terjadi diprediksi lebih dahsyat daripada pesawat AirAsia QZ 8501 yang jatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada 2014.

Kepala Bidang DVI Polri Kombespol Lisda Cancer menuturkan, jenazah korban yang berupa bagian tubuh atau body part hanya memungkinkan dikenali dengan menggunakan metode tes DNA. Artinya, di body part yang ditemukan itu, tidak ada bagian gigi dan sidik jari. “Ini yang terjadi,” jelasnya.

Bahkan, secara wujud, body part yang diterima tim DVI hanya bagian-bagian kecil. Misalnya, kulit, daging, atau tulang. Bila dibandingkan dengan korban kecelakaan AirAsia, kondisi jenazah korban jatuhnya Lion Air lebih parah. “Saat AirAsia, ma­sih banyak jenazah yang utuh. Tapi, Lion Air ini sama sekali tidak ada jenazah korban yang utuh,” tuturnya.

Meski begitu, dia tidak bisa menyimpulkan apakah kondisi itu terjadi karena parahnya crash yang terjadi pada Lion Air JT 610. “Apa yang menyebabkan dan bagaimana kecelakaan terjadi, saya tidak bisa menyimpulkan. Nanti itu berhubungan dengan kewenangan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT),” ungkapnya.

Sementara itu, mantan Direktur Eksekutif DVI Kombespol (pur) Anton Castilani membeberkan, kondisi jenazah korban kecelakaan itu berbanding lurus dengan parahnya tubrukan dalam kecelakaan itu. “Semakin rusak berarti semakin tinggi dahsyat kecelakaannya,” jelasnya.

Menurut dia, hal itu bisa terjadi karena gaya sentrifugal atau percepatan pada pesawat Lion Air lebih besar jika dibandingkan dengan kecelakaan pesawat lainnya. “Tapi, untuk mengetahui bagaimana kecelakaan, tentunya perlu kerja sama antara DVI dengan KNKT dan lainnya,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia, untuk mengetahui betapa parahnya kecelakaan berdasar kondisi jenazah, itu bisa dilakukan. Namun, selama ini metode tersebut belum pernah dilakukan secara riil. “Sebab, biasanya ini untuk kepentingan perusahaan pembuat pesawat. Dalam konteks perbaikan desain agar lebih aman,” paparnya.

Dia menuturkan, kecelakaan itu memberikan kesadaran betapa pentingnya data antemortem bagi penumpang pesawat. Bila tak bisa sepenuhnya untuk penumpang, setidaknya perlu dibuat regulasi yang mewajibkan data antemortem bagi yang berprofesi high risk seperti TNI, Polri, atau pegawai yang pekerjaannya memiliki potensi kecelakaan.

Sementara itu, Wakil Kepala RS Polri Kombespol Haryanto mengatakan, dari 189 korban jatuhnya Lion Air, hingga kemarin baru didapatkan 152 sampel DNA. Dengan begitu, masih ada 37 keluarga penumpang yang belum bisa diambil sampel DNA-nya. “Kemungkinan ada dua sebab,” ujarnya.

Pertama, satu keluarga menjadi korban di pesawat nahas itu. Kedua, keluarga yang akan diambil sampel DNA tidak datang. “Data dari tim antemortem itu setidaknya ada dua keluarga yang semua keluarga inti menjadi korban. Dari ayah, ibu, dan anak,” tuturnya.

Satu keluarga berisi empat orang dan satu keluarga lainnya berisi tiga orang. Total, ada tujuh orang dari dua keluarga yang menjadi korban. “Kami masih berupaya,” papar polisi dengan tiga melati di pundaknya tersebut. (jawapos)

Facebook Comments