Features

Honorer K2 Jalan Kaki 200 KM, Semoga Ditemui Pak Jokowi

Sukma Umbara. (jpnn.com)

Demi memperjuangkan status PNS, Sukma Umbara, guru tidak tetap (GTT) honorer K2 rela jalan kaki dari kampung halamannya, Kabupaten Indramayu, Jabar, ke Jakarta. Tujuannya utamanya Istana Negara.

Mesya Mohamad – Jakarta

KANG Sukma, begitu akrab disapa. Guru honorer yang mengabdi di SDN Cadasngampar Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu itu punya cara sendiri untuk memperjuangkan nasibnya. Dia memilih ke Istana Negara dengan berjalan kali.

Sejak Senin, 15 Oktober 2018, dengan dikawal 10 honorer K2, Kang Sukma memulai jalan kaki dari Indramayu menuju Jakarta, yang jaraknya lebih dari 200 kilometer. Dia ingin menyampaikan aspirasinya langsung ke Presiden Joko Widodo.

Aspirasi tersebut yang sudah disiapkan dalam bentuk surat sebagai bekal semangat bisa langsung bertemu Jokowi paparnya. Sebelum bertemu Presiden Jokowi, Kang Sukma rencananya mampir ke Gedung DPR RI dengan misi sama yaitu menyampaikan tuntutan honorer

“Semoga pengorbanan menempuh ratusan kilometer untuk bertemu Presiden Joko Widodo bisa berbuah manis. Saya ingin Jokowi mengeluarkan kebijakan yang pro K2,” ujar Kang Sukma, Rabu (18/10).

Dia membantah, aksinya ini untuk mencari sensasi. Baginya, daripada demo dan harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, lebih baik dia yang berkorban. Berjalan kaki pagi, siang, malam. Sesekali dia harus mampir ke masjid untuk salat dan istirahat.

Sebelum memulai aksinya, Kang Sukma sudah membuat surat pernyataan. Dia menyatakan, bila terjadi sesuatu apapun dengan dirinya, adalah tanggungjawabnya.

Tidak ada satupun pihak yang disalahkan. Aksi ini semata-mata untuk memperjuangkan nasib honorer K2 se-Indonesia dan khususnya di Kabupaten Indramayu.

“Semua perjuangan butuh pengorbanan. Saya rela berkorban demi nasib honorer K2,” ucapnya.

Perjuangan Kang Sukma mendapat respons pengurus pusat Forum Honorer K2-Persatuan Guru Republik Indonesia (FHK2-PGRI) Riyanto Agung Subekti alias Itong. Sebagai sesama honorer, Itong mengaku terenyuh melihat situasi dan kondisi yang memprihatinkan ini.

Betapa tidak honorer K2 yang jelas-jelas sudah lama mengabdi dan ada di Database Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), kok ya tega-teganya disingkirkan pemerintah dengan kebijakan tidak manusiawi.

“Apakah kami ini mau digiring dan dijadikan komoditi untuk mendulang suara di Pilpres Tahun 2019 nanti. Mbok ya pemerintah ini melihat realita dan kenyataan di lapangan. Selama ini nasib honorer K2 benar-benar terpuruk dan compang-camping perekonomiannya,” bebernya.

Hal itu, lanjut Itong, mencerminkan pemerintah masih abai terhadap kesejahteraan para honorer. Janji tinggallah janji. Janji yang tertuang dalam Piagam Ki Hajar Dewantara belum direalisasi atau mungkin nemang tidak akan ditepati,malah sekarang bikin janji lagi.

Menurut Itong, penderitaan batin yang dialami para honorer K2 seluruh Indonesia, inilah yang menginspirasi Kang Sukma berjalan kaki dari Indramayu menuju Jakarta guna menyampaikan dan menyerahkan surat kepada Presiden Jokowi.

“Mudah-mudahan Kang Sukma selalu dalam lindungan Allah SWT dan tidak ada gangguan selama dalam perjalanan. Kami sangat berharap semoga Presiden Jokowi bisa menemui Kang Sukma dan segera menyekesaian masalah honorer K2 ini dengan diskresi dalam bentuk Peraturan Presiden ataupun Keputusan Presiden,” pungkasnya. (esy/jpnn)

Facebook Comments