Radar Jateng

Waspada, Jateng Berada di Jalur Patahan Gempa

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie sedianya mengatakan, hasil studi PuSGeN berhasil mengidentifikasi sekitar 34 sesar lokal di Pulau Jawa. (dok. PuSGen/jawapos)

*Skalanya Diklaim Tidak Cukup Besar

Berdasarkan hasil studi Pusat Studi Gempa Bumi Nasional (PuSGeN), wilayah Jawa Tengah ternyata berada pada jalur sesar atau patahan gempa. Meski potensi kegempaan ada, namun skalanya diklaim tidak cukup besar.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie sedianya mengatakan, hasil studi PuSGeN berhasil mengidentifikasi sekitar 34 sesar lokal di Pulau Jawa. Khusus di Jawa Tengah, yang mendominasi adalah sesar Baribis-Kendeng.

Baribis-Kendeng ini memanjang di bagian utara pulau Jawa, mulai dari timur Jawa Barat hingga Jawa Timur. “Segmen sesar yang ada biasanya merupakan percabangan dari sesar tersebut, misalnya melewati Tegal, itu sesar Baribis-Kendeng-Tegal, Brebes itu Baribis-Kendeng-Brebes. Semarang juga. Yang sedikit berbeda itu ada sesar Pati, sesar Muria, sesar Lasem,” ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa malam (16/10).

Aji, sapaan karib Setyoajie, tak menampik jika potensi kegempaan itu bisa muncul di daerah-daerah yang dilalui sesar tersebut. Kendati demikian, ia menyebut bahwa aktivitas kegempaan di Jawa Tengah, bahkan Pulau Jawa, lebih tenang dibanding pulau-pulau lain di Indonesia.

“Kalau untuk sumber gempa secara umum ada dua, yaitu aktivitas subduksi di selatan Jawa dan aktivitas sesar di daratan. Tapi karakteristik sesar di Jawa ini lebih tenang dari Sumatera. Karena sumber keraknya lebih tua di atas 100 juta tahun ketimbang di Sumatera yang 46 juta tahun,” terangnya.

Sehingga, Aji menyebut bahwa periode ulang gempa di Jawa lebih besar sekitar 600-800 tahunan. Berbanding terbalik seperti di Sumatera yang hanya 300 tahunan ataupun di Sulawesi.

Karena lebih tua, maka periode akumulasi energinya lebih panjang jika dibandingkan Sumatera. Wilayah Rembang, Semenanjung Muria (Kabupaten Jepara, Pati, dan Kudus) dan Demak tergolong berada di daerah dengan seismisitas yang rendah atau kegempaan yang sedikit, jika dibandingkan dengan daerah di keseluruhan selatan Jawa.

Untuk kawasan yang berada di jalur sesar Baribis-Kendeng seperti di antaranya Tegal dan Brebes, ia juga menyebut rata-rata wilayah tersebut jarang terjadi gempa. Pergerakan laju geser segmennya cukup kecil, yaitu sebesar 4,5 mm/tahun. Dibandingkan dengan sesar Palu Koro di daerah Palu sebesar 20-40 mm per tahun.

“Potensi tsunami juga, di Pantura lebih kecil. Karena secara historis, gempa di Pantura itu lebih sering gempa dalam. Patahannya rata-rata kedalamannya di atas 250 kilometer. Luasan sesar lokal tak cukup membangkitkan tsunami karena tak mampu mendeformasi dasar samudra,” sambungnya.

Namun, pihaknya tak bisa menerawang situasi ke depan lantaran peran BMKG sendiri bukan untuk memprediksi datangnya gempa. Yang terpenting, bagi masyarakat adalah memahami konsep evakuasi mandiri. Karena jika mengandalkan peringatan dini atau BMKG saja tak akan cukup.

“Kami tak bisa bilang sesar ini aktif atau tidak, karena kalau dibilang tidak aktif, nanti muncul gempa bagaimana. Tidak bisa diramal. Kami juga tidak bisa menjamin besar atau tidaknya (gempa). Sebenarnya hampir tiap hari juga bisa dibilang ada gempa. Tapi kita punya policy hanya gempa-gempa yang dirasakan dan ber-magnitude di atas 5 yang kita rilis,” pungkasnya. (jawapos)

 

Facebook Comments