Radar Kajen

Di Kota santri, Ternyata Ada Dua Lokasi Balap Liar

Lokasi Balap Liar

LOKASI BALAPAN – Jalan Raya Kesesi ini dijadikan lokasi balapan liar. Hampir tiap malam, klub-klub motor maupun perwakilan bengkel balapan di jalan ini.

Polisi Tingkatkan Pengawasan

Di Kabupaten Pekalongan ternyata ada dua jalan raya yang dijadikan balap liar. Dua lokasi tersebut Jalan Raya Kajen- Kesesi dan Jalan Raya Pekajangan Kedungwuni. Polres sudah sering melakukan razia di dua ruas jalan tersebut. Namun para joki balap liar tetap nekad menggelar balapan.

Hal itu dibenarkan Kasatlantas Polres Pekalongan AKP Boby Anugerah Rachman ketika dikonfirmasi, kemarin. Menurutnya, akhir-akhir ini sudah ada masukan bahwa Ruas Jalan Bahurekso yakni Kesesi – Kajen jadi balap liar. Padahal, lokasi tersebut sering dilakukan razia oleh anggota gabungan Polres Pekalongan.

“Ya, padahal sekitar seminggu yang lalu Tim Gabungan Polres Pekalongan sudah dua kali melakukan razia di lokasi tersebut,” katanya.

Polisi yang dikerahkan untuk melakukan razia di lokasi tersebut dari Satuan Intelkam, Reskrim, Sabhara, Propam, Satlantas.

“Dari catatan kami ada dua titik yang rawan jadi area balap liar, yaitu di Jalan Raya Kesesi dan Jalan Raya Pekajangan, Kedungwuni yang juga pernah diazia oleh Tim Gabungan,” lanjutnya.

Sementara untuk mengantisipasi adanya balap liar, anggota Dikyasa Satlantas Polres Pekalongan juga secara rutin melakukan sosialisasi. Diantara ke sekolah sekolah dan sejumlah perusahaan, karena selain pelaku balap liar usia pelajar juga sebagai penyumbang angka kecelakaan dan pelanggar terbanyak.

“Karena angka pelanggaran didominasi oleh pelajar dan karyawan swasta. Profesi tersebut juga paling banyak menempati angka kecelakaan,” jelasnya.

Namun, apabila kedepan masih ada balap liar maka aparat Kepolisian tidak segan segan menindak tegas dengan menahan joki dan kendaraan yang digunakan. Karena selain mengganggu keamanan juga pastinya, kendaraan yang digunakan sudah tidak sesuai pabrikan, sudah dimodifikasi.

“Untuk itu kami juga meminta kerjasama masyarakat agar memberikan informasi apabila di lingkungan masing masing ada balap liar. Melalui laporan masyatrakat maka kita bisa cepat mengamankan para pelaku sehingga tidak menggangu ketertiban umum,” pintanya.

Sementara bagi orang tua, yang memiliki anak usia pelajar melihat kendaraanya dirubah untuk balapan, diharapkan untuk dikembalikan seperti awal sesuai pabrikan. Karena dengan mengubah tersebut juga mengancam keselamatan pemakai atau pengguna jalan lainnya.

Sementara itu, Lukito, pengguna jalan yang biasa melintas di Jalar Raya Kesesi pada malam hari mengaku sering mendapati rombongan pemuda balap liar. Mereka terkesan tidak takut akan resiko dirinya sendiri dan orang lain.

“Lokasi balap liar itu gelap lho mas, makanya saya ketima melintas ada suara motor lebih memilih minggir, karena mereka terlihat tidak taku7t mati. Bayangkan saja mas, mereka mengadu kecepatan tanpa disertai lampu penerangan. Jadi, kalau ada sesuatu di depannya, ya pasti ditabrak,” katanya.

Ia pun berharap polisi melakukan tindakan. “Kalau saran saya, sebagai pembelajaran jangan dilakukan razia terbuka, tapi razia tertutup. Ya semisal, polisi berpakaian preman mengintai terlebih dahulu, kemudian begitu ada rombongan balapan, polisi mencegat jalan dari Barat dan Timur, maka pembalap liar tidak akan bisa kabur, karena lokasi balapan liar itu tak ada jalan lain, selain jalur tersebut. Paling, mereka kabur ke sawah dan meninggalkan motor mereka. Nah, nanti kan pemiliknya akan datang sendiri dan diketahui pemiliknya,” sarannya. (yon)

Facebook Comments