Nasional

Wow, Paket Wisata mulai Rp 600 Ribu selama 5 Hari di Bali

IKLAN PAKET MURAH: Contoh promosi paket wisata ke Bali dengan nilai Rp 2 juta (foto kiri) dan Rp 1,5 juta yang ada di China. (ISTIMEWA/Baliekspres)

*Sudah Termasuk Tiket Pesawat China-Bali PP

*Diduga Ulah Mafia di China

DENPASAR – Tingginya jumlah wisatawan China ke Bali, diduga akibat adanya permainan “mafia.” Sebab saat ini Bali terkesan murahan di Tiongkok (China). Karena para mafia ini “menjual” paket wisata sangat murah di Tiongkok. Yakni mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp 2 juta dengan fasilitas tiket pesawat PP (pulang-pergi), hotel dan makan selama lima hari di Bali.

Paket super murah itu diungkapkan oleh sejumlah tokoh dan pelaku pariwisata di Bali. Mereka di antaranya Ketua Bali Liang (Komite Tiongkok Asita Daerah Bali) Elsye Deliana, Wakil Ketua Bali Liang Bambang, Sekretaris Bali Liang (Komite Tiongkok Nasional) Herman, Komite Tingkok Nasional

Chandra Salim dan Ketua Komite Tiongkok DPP Asita (Nasional) Hery Sudiarto.

Elsye Deliana menjelaskan, saat ini memang wisatawan Tiongkok kunjungan tertinggi di Bali. Namun ada praktik – praktik yang terkait Bali dijual murah di Tiongkok sudah menjadi masalah yang sangat mengkawatirkan bagi Bali. “Kasarnya gini ya, Bali itu dijual sangat murah di Tiongkok oleh agent – agent tertentu. Sangat murah, bahkan semakin berlomba untuk lebih murah,” jelasnya.

Dia mengatakan fenomena ini sudah berlangsung sekitar 2 sampai 3 tahun di Bali. Tahun terakhir sudah semakin parah. Elsye mengatakan bahwa, sebelumnya Bali dijual 999 RMB (Renin Bi) atau sekitar Rp 2 juta. Itu sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi, makan dan hotel 5 hari empat malam.

“Coba dibayangkan, dengan uang Rp 2 juta orang Tiongkok sudah bisa ke Bali, menginap di Bali 5 hari 4 malam dan sudah dapat makan,” kata Elsye.

Yang lebih parah lagi, adalah belakangan dijual lebih murah lagi. Setelah angka 999 RMB atau Sekitar Rp 2 juta, kemudian turun menjadi 777 RMB sekitar Rp 1,5 juta, kemudian turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta dan terakhir sudah sampai 299 RMB sekitar Rp 600 ribu.

“Coba dipikir, dengan Rp 600 ribu bisa dapat tiket ke Bali dan balik lagi ke Tiongkok. Dapat makan dan hotel selama 5 hari 4 malam. Jadi kualitasnya seperti apa,” kata perempuan yang kerap disapa Meylan ini.

“Yang menjadi pertanyaan saat ini, kenapa sampai bisa dengan harga seperti ini? Istilah kami zero tour fee (perjalanan biaya murah),” sambungnya.

Ini, kata dia, karena ada permainan besar dari penjual. Ada pengusaha dari Tiongkok juga yang membangun usaha Art shop di Bali. Dengan jumlah yang sudah cukup banyak di Bali. Toko – toko ini yang mensubsidi wisatawan dengan biaya murah itu ke Bali. Namun mereka nantinya wajib untuk masuk ke toko – toko itu. “Ada subsidi dari art shop besar yang punya beberapa di Bali. Subsidi ini yang bisa membuat harga murah,” ungkapnya.

Namun mereka sudah seperti beli kepala, wisatawan itu wajib masuk toko itu. Seperti dipaksa belanja di sana. Mereka masuk, kemudian membeli barang – barang berbahan Latex, seperti kasur, sofa, bantal dan lainnya. “Dengan alasan bahwa Indonesia penghasil karet, sehingga barangnya jauh lebih murah. Padahal barang itu sebenarnya barang buatan Tiongkok juga,” saut Bambang Putra. “Kemudian juga ada toko sutra dan lainnya,” sambungnya.

Mereka dalam lima hari empat malam, selama empat hari hanya masuk toko – toko milik orang Tiongkok juga. Bahkan diduga pembayarannya juga dengan wechat (pola Tiongkok) dengan sistem barcode. “Jadi transaksinya berputar saja, datang ke Bali dari Tiongkok, belanja ke Toko Tiongkok, kemudian sistem pembayaran masih ala Tiongkok,” ungkap Elsye.

Uniknya lagi, ada yang mengambil barang di Bali, ada juga yang mengambil barang di Tiongkok.

“Selama lima hari ini, hanya satu hari mereka menjalani tour ke Objek Wisata di Bali. Dulunya Tanah Lot, namun ketika harga naik hanya diajak ke Uluwatu karena lebih murah,” ungkapnya.

Dengan kondisi ini, ada banyak kerugian yang dialami Bali. Yang pertama keuntungan bagi Bali, tidak ada. Kasarnya Bali hanya dapat sampahnya. Kemudian karena pola tour seperti ini, seperti ada permainan – permainan mafia. Wisatawan juga merasa seperti ditipu. Mereka ke Bali, namun tidak tahu Bali. Bagi mereka Bali itu tidak menarik, mereka tidak akan kembali lagi.

“Bali itu bagi mereka isinya hanya toko – toko yang jual latex karena Indonesia penghasil karet,” imbuh Elsye.

Sedangkan menurut Herman, pola permainan lainya terkait Tiongkok adalah masalah ilegal dan legal. Yang terjadi saat ini, sangat banyak ada guide ilegal, kemudian travel agent ilegal, fotografer prewed di Bali menggunakan visa wisata namun bekerja, termasuk juga toko – toko jaringan yang mensubsidi wisatwan murah itu, juga banyak warga Negara Tiongkok yang tidak memegang visa kerja.

“Ini yang harus dituntaskan oleh pemerintah. Mesti dipastikan mana legal mana ilegal,” harapnya.

Ini akan sangat merugikan Bali ke depan. Bahkan Bali yang begitu hebat di mata dunia, menjadi sangat tidak menarik bagi wisatawan Tiongkok yang merasakan permainan ini. Fenomena ini juga terjadi di Thailand dan Vietnam, namun saat ini pemerintah sudah mulai tegas dan melakukan perbaikan – perbaikan.

“Jika tidak membawa uang sekitar Rp 5 juta, dalam rekening tidak diberikan masuk Thailand untuk wisatawan Tiongkok,” urai Chandra.

Sedangkan menurut Herry Sudiarto perlu ada ketegasan pemerintah, sebelum semakin parah praktek – praktek yang terjadi di dunia pariwisata Bali khususnya terkait pangsa Tiongkok.

“Pemerintah mesti berani tegas, untuk bisa Bali lebih bagus. Jika dibiarkan seperti ini jelas, akan semakin parah kedepannya. Mesti dibuatkan regulasi yang kuat, untuk bisa melindungi yang legal dan menertibkan yang ilegal,” harapnya.

“Menjadi sangat aneh ketika kita di Indonesia mau ke Tiongkok, paling murah tiket, hotel dan makan habis sekitar Rp 20 juta. Berbanding Rp 600 ribu,” pungkasnya. (Baliekspres/jawapos)

Facebook Comments