Metro Pekalongan

LGBT Ancam Pergaulan Anak

Di Jateng Gay Capai 77.722 Orang

Perilaku seksual menyimpang saat ini dirasa cukup mengkhawatirkan. Ironisnya, saat ini perkembangan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) bukan hanya dilakukan oleh kalangan orang dewasa namun sudah merebak ke remaja, yang notabene usia pelajar.

Satu contoh perkembangan gay di Provinsi Jawa Tengah. Seks sesama jenis atau homo seksual (lelaki dengan lelaki) jumlahnya sangat fantastis. Diperkirakan jumlah lelaki gay (man seks man) di Jawa Tengah mencapai 77.722 orang. Angka tersebut berdasarkan data estimasi populasi kunci permodelan 2017 dari Dinkes Provinsi Jawa Tengah.

Fenomena gay yang mencuat di media ternyata tidak hanya di kota-kota besar. Di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang dan Kendal, juga diperkirakan mencapai ribuan. Secara angka, populasi gay di empat daerah ini pun cukup tinggi. Dari estimasi yang dikeluarkan oleh Dinkes Provinsi itu, perkiraan jumlah gay di Kota Pekalongan mencapai 840 orang, Kabupaten Pekalongan 1.840 orang, Batang 1.603 orang, dan Kendal 2.069 orang.

Bahkan eksistensi mereka terang-terangan ditampakkan di media sosial seperti grup-grup FB, yang anggota tidak kurang dari dua ribu orang. Melalui media sosial facebook, mereka tak sungkan merayau sesama jenis meski di dunia nyata kaum gay masih mendapat penolakan secara norma agama dan adat di tengah masyarakat.

Muhammad Iqbal Masruri, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan, kaum gay biasanya timbul karena faktor lingkungan yang mempengaruhi orientasi seks lain pada seorang lelaki. “Faktor lain bisa diakibatkan karena trauma psikologis, seperti dikhianati atau disakiti pasangannya, yang pada akhirnya membuat orang tersebut menemukan kenyamanan dengan sesama jenis,” ujar Iqbal, kemarin.

“Kelainan psikologis ini bisa menular, terutama kalau kondisi psikologis kita tidak stabil, maka dapat menular. Tapi butuh proses atau jalan yang panjang. Sehingga kita perlu memahami diri kita sebagaimana manusia yang diciptakan Tuhan dengan dua jenis, yaknilaki-laki dan perempuan,” imbuhnya menjelaskan.

Menurutnya, secara penelitian tidak ada yang menyebutkan bahwa sifat gay atau homo timbul sejak lahir. Lelaki sejak lahir sudah jelas memiliki sifat dan biologis sebagai laki-laki, begitu pula dengan perempuan. Hal itu lebih dikarenakan faktor lingkungan dan trauma psikologis.

“Di Kabupaten Pekalongan, berdasarkan estimasi dari Kemenkes 2012, jumlah pria gay diperkirakan mencapai 4.046 jiwa. Jumlah tersebut kemungkinan berkembang pesat. Sampai sekarang data baru belum ada, tapi apabila Kemenkes menerbitkan data yang terbaru, pasti langsung dipublikasikan,” kata dia.

Dikatakan, perilaku menyimpang itu cenderung mereka sadari, sehingga rata-rata mereka menutup diri. Orientasi seks yang berbeda ini tidak tampak, bahkan nyaris tak ada yang mencurigakan.

“Mereka berada di antara kita. Sama dengan pria-pria lain, cuma mereka punya ketertarikan dengan sesama. Artinya, mata mereka lebih tertari melihat pria daripada wanita,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut dia, perilaku LSL ini dapat menjadi boomerang bagi mereka. Pasalnya, bahaya virus HIV/AIDS membayangi hidup mereka. Sebab kebiasaan berhubungan dengan sesama ini merupakan perilaku berisiko penyebaran wabah HIV yang hingga kini belum ada obatnya. “Kaum gay menyumbang 4 persen dari kasus HIV yang telah ditemukan di Kabupaten Pekalongan,” ungkap dia.

Nah, ia menyebutkan, belakangan ini fenomena gay yang viral di media dan sosmed, cukup menggemparkan. Mulai dari terungkapnya komunitas gay SMP dan SMA di Bandung, hingga kontes Gay dan Waria di Bali. “Termasuk di Pekalongan. Grup-grup gay di dunia maya juga cukup ramai dengan jumlah anggota ribuan. Melalui media sosial, mereka berusaha menunjukkan eksistensinya agar diterima di masyarakat. Namun, di kehidupan nyata, masih terbentur dengan norma agama dan adat,” kata Iqbal.

Perilaku gay yang memiliki kecenderungan menyukai sesama itu sebenarnya merupakan kesalahan pola pikir. Secara psikis, perilaku ini bisa menular apabila intensitas interaksi cukup tinggi. Namun, ada terapi dan penyembuhan bagi mereka yang ingin menjadi normal.

“KPA siap membantu siapapun yang memiliki perilaku berisiko AIDS untuk sembuh, baik PSK, gay, maupun waria,” tandasnya.

Kecenderungan menyukai sesama itu, adalah kesalahan pola pikir. Psikisnya. Bisa menular, kalau kesehariannya bareng terus. Lama2 bisa mengikuti.

Di Kota Pekalongan, Beri Pendidikan Karakter

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Suroso mengatakan, untuk menangkal pergaulan menyimpang ke anak pelajar, pihaknya akan menguatkan pendidikan agama dan karakter bagi siswa. Saat ini hal itu dapat menjadi benteng yang efektif untuk mencegah masuknya perilaku abnormal tersebut. “Kalau di Dinas Pendidikan, untuk membentengi hal itu ada penguatan pendidikan karakter dan agama,” tuturnya, Jumat (12/10).

Suroso mengatakan, penguatan karakter dan pendidikan agama pada sekolah di Kota Pekalongan diaplikasikan melalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Di sekolah, PPK diterapkan secara integrasi melalui kegiatan-kegiatan di dalam maupun di luar kelas. Suroso menyebut, memang dalam PPK tidak ada poin spesifik pendidikan untuk menjauhkan siswa dari perilaku menyimpang namun secara umum sudah terangkum dalam lima poin yang ada di dalamnya.

“Di dalam PPK ada lima poin pendidikan yaitu religius, nasionalis, integritas, gotong royong dan mandiri. Kelima poin pendidikan tersebut memang masih bersifat umum namun jika berhasil dikuatkan maka dapat mencegah agar perilaku-perilaku menyimpang tidak berkembang,” jelas Suroso.

Dia juga menyatakan sampai saat ini, pihaknya meyakini PPK masih efektif untuk benteng bagi siswa agar tak tertulari perilaku menyimpang. Ditanya apakah sudah ada informasi atau laporan terkait keberadaan gay atau LGBT di kalangan siswa sekolah di Kota Pekalongan, Suroso menyatakan sampai saat ini belum mendapat informasi tersebut. “Sampai saat ini belum ada laporan dan informasi yang

Batang, Perkuat Keagamaan

Sementara Kepala Disdikbud Batang, Achmad Taufik SP MSi mengecam perbuatan tersebut. Ia berharap tidak ada pelajar Batang yang menyimpang dan masuk ke dalam jurang LGBT. Untuk menanggulangi perilaku menyimpang tersebut, Disdikbud menggencarkan kegiatan pendidikan karakter dan keagamaan. Salah satunya dengan adanya Porgram Matikan TV dan Smartphone. Dimana waktu itu dimanfaatkan untuk belajar, mengaji dan berinteraksi dengan keluarga.

“LGBT itu perbuatan biadab. Agama apapun tak mengajarkan itu. Oleh karenanya harus menjadi perhatian kita bersama. Cegah dan antisipasi anak-anak kita, jauhkan dari perbuatan setan itu. Di sekolah, guru-guru harus mewaspadai hal-hal yg mengindikasikan itu. Di rumah, ortu harus lebih waspada. Nah salah satunya dengan program Matikan TV dan Smartphone, dimana di jam 18.00-20.00 WIB hendaknya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar, mengaji dan lainnya,” ujar Taufiq.

Menurutnya program ini dapat meminimalisir berbagai perilaku negatif seperti LGBT. Pasalnya rata-rata penyimpangan terjadi lantaran kurangnya interaksi anak dengan orang tua. Selain itu anak juga kurang memiliki pengetahuan agama. Sehingga tidak bisa membedakan mana perilaku yang baik dan buruk.

“Nah yang lebih penting, di tengah-tengah masyarakat, kita semua harus meningkatkan kepedulian sosial kita. Segera atasi jika ada tanda-tanda penyimpangan seksual seperti ini. Harapannya dengan adanya program matikan TV anak dapat memanfaatkan waktu untuk belajar agama. Sehingga mereka bisa terbentengi dari hal-hal yang menyimpang dan tidak bermanfaat,” tandasnya.

Kendal Juga Pendidikan Karakter

Begitupun di Kabupaten Kendal. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal Agus Rifai menyatakan prihatin dengan fenomena LGBT yang mencapai angka cukup fantastis sesuai data dari Provinsi Jawa Tengah. Lebih parahnya lagi bahwa pelaku LGBT perinkat terbanyak adalah anak dibawah umur atau pelajar. Sehingga hal itu merupakan terjadinya degradasi kemerosotan moral yang sangat tajam menghinggapi generasi muda dewasa ini. Oleh karenanya pihaknya akan melakukan antisipasi sehingga fenomena LGBT itu tidak sampai merambah di kalangan pelajar di Kabupaten Kendal.

“Untuk mengantisipasinya, kami akan berikan pendidikan karakter bagi siswa-siswi Seolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Kendal. Karena ranah kami pada tingkat pendidikan sekolah pertama. Semua pihak akan dilibatkan, baik orangtua, tokoh agama, tokoh masyarakat dan guru BK,” katanya, saat dikonfirmasi, Jumat (12/10).

Lebih lanjut, Agus Rifai, mengungkapkan, bahwa perilaku LGBT merupakan bentuk kelainan seksual yang sangat dilarang atau bertentangan dengan ajaran agama. Sehingga dengan memberikan pendidikan karakter selain dapat menanamkan sikap kedisiplinan juga memperkuat kembali akan keagamaan yang selama ini menjadi keyakinan dan pedoman hidupnya. Pasalnya akibat anak salah pergaulan dapat menjadikannya terjerumus ke dalam prilaku-prilaku yang negatif. Seperti halnya prilaku LGBT yang saat ini meresahkan masyarakat.

“Tidak menutup kemungkinan, Misal awalnya siswa A baik perilakunya. Namun, akibat salah pergaulan atau faktor X tersebut, maka siswa yang baik tersebut akan berperilaku menyimpang. Disinilah pentingnya pendidikan karakter itu. Tertib, disiplin dan kuat keberagamaanya akan terbentuk ke dalam jiwa setiap siswa,” tukasnya. (yan/nul/nov/nur)

Facebook Comments