Radar Kajen

Piye Kiye, Ternyata Jumlah Gay Berkembang Pesat

Piye Kiye, Ternyata Jumlah Gay Berkembang Pesat**Diperkirakan Ribuan, Kini Berani Tunjukkan Eksistensinya

KAJEN – Fenomena gay yang mencuat di media ternyata tidak hanya di kota-kota besar. Di Kabupaten Pekalongan saja diperkirakan ada sekitar empat ribu lebih lelaki memiliki obsesi seks dengan sesama jenis atau homoseksual alias gay.

Bahkan mereka secara terang-terangan aktif di dunia maya. Media sosial Facebook misalnya, terdapat grup komunitas gay Pekalongan yang anggotanya mencapai dua ribu lebih. Mereka tak sungkan menunjukkan eksistensinya di dunia maya meski mendapat penolakan norma agama dan adat di tengah masyarakat.

Itu artinya, populasi gay di Pekalongan sudah cukup mengkhawatirkan. Salah satu populasi kunci yang berisiko AIDS adalah kaum gay atau laki-laki seks laki-laki (LSL), dimana di Kabupaten Pekalongan diperkirakan populasinya mencapai 4.046 jiwa. Data tersebut berdasarkan estimasi dari Kemenkes tahun 2012 yang berarti berpotensi bertambah mengikuti perkembangan jumlah penduduk dan tren peningkatan temuan kasus AIDS.

Muhammad Iqbal Masruri, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Pekalongan, mengungkapkan, kaum gay biasanya timbul karena faktor lingkungan yang mempengaruhi orientasi seks lain pada seorang lelaki. “Faktor lain bisa diakibatkan karena trauma psikologis, seperti dikhianati atau disakiti pasangannya, yang pada akhirnya membuat orang tersebut menemukan kenyamanan dengan sesama jenis,” ujar Iqbal, kemarin.

“Kelainan psikologis ini bisa menular, terutama kalau kondisi psikologis kita tidak stabil, maka dapat menular. Tapi butuh proses atau jalan yang panjang. Sehingga kita perlu memahami diri kita sebagaimana manusia yang diciptakan Tuhan dengan dua jenis, yakni laki-laki dan perempuan,” imbuhnya menjelaskan.

Menurutnya, secara penelitian tidak ada yang menyebutkan bahwa sifat gay atau homo timbul sejak lahir. Lelaki sejak lahir sudah jelas memiliki sifat dan biologis sebagai laki-laki, begitu pula dengan perempuan. Hal itu lebih dikarenakan faktor lingkungan dan trauma psikologis.

“Di Kabupaten Pekalongan, berdasarkan estimasi dari Kemenkes 2012, jumlah pria gay diperkirakan mencapai 4.046 jiwa. Jumlah tersebut kemungkinan berkembang pesat. Sampai sekarang data baru belum ada, tapi apabila Kemenkes menerbitkan data yang terbaru, pasti langsung dipublikasikan,” kata dia.

Dikatakan, perilaku menyimpang itu cenderung mereka sadari, sehingga rata-rata mereka menutup diri. Orientasi seks yang berbeda ini tidak tampak, bahkan nyaris tak ada yang mencurigakan.

“Mereka berada di antara kita. Sama dengan pria-pria lain, cuma mereka punya ketertarikan dengan sesama. Artinya, mata mereka lebih tertari melihat pria daripada wanita,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut dia, perilaku LSL ini dapat menjadi boomerang bagi mereka. Pasalnya, bahaya virus HIV/AIDS membayangi hidup mereka. Sebab kebiasaan berhubungan dengan sesama ini merupakan perilaku berisiko penyebaran wabah HIV yang hingga kini belum ada obatnya. “Kaum gay menyumbang 4 persen dari kasus HIV yang telah ditemukan di Kabupaten Pekalongan,” ungkap dia.

Nah, ia menyebutkan, belakangan ini fenomena gay yang viral di media dan sosmed, cukup menggemparkan. Mulai dari terungkapnya komunitas gay SMP dan SMA di Bandung, hingga kontes Gay dan Waria di Bali. “Termasuk di Pekalongan. Grup-grup gay di dunia maya juga cukup ramai dengan jumlah anggota ribuan. Melalui media sosial, mereka berusaha menunjukkan eksistensinya agar diterima di masyarakat. Namun, di kehidupan nyata, masih terbentur dengan norma agama dan adat,” kata Iqbal.

Perilaku gay yang memiliki kecenderungan menyukai sesama itu sebenarnya merupakan kesalahan pola pikir. Secara psikis, perilaku ini bisa menular apabila intensitas interaksi cukup tinggi. Namun, ada terapi dan penyembuhan bagi mereka yang ingin menjadi normal.

“KPA siap membantu siapapun yang memiliki perilaku berisiko AIDS untuk sembuh, baik PSK, gay, maupun waria,” tandasnya. (yan)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments