Radar Jateng

Banser ‘Gerudug’ PN Slawi

Banser ' Gerudug' PN Slawi

KAWAL – Banser dan LBH Ansor Semarang memberi support pada anggota Banser Kendal yang dikriminalisasi, kemarin.
HERMAS PURWADI / RADAR SLAWI

SLAWI – Puluhan anggota Barisan Serbaguna ( Banser) Kabupaten Tegal mendatangi PN Slawi untuk memberi support pada anggota Satkoryon Banser Kecamatan Weleri Kendal dan guru Ma’arif Semarang yang telah dikriminlaisasi. Tidak hanya Banser, support pada kedua terdakwa itu juga dilakukan oleh LBH Ansor Jawa Tengah yang sekaligus menjadi kuasa hukumnya. Kasat Korcab Banser Kabupaten Tegal Zaeny Mashadi menyatakan dukungan moril diberikan kepada anggota Banser atas dugaan kasus penipuan ini dilakukan secara spontan.

” Kami disini datang untuk memberikan dukungan secara moril , agar anggota Banser yang tersandung dikriminaisasi lebih tegar dalam menjalani proses persidangan. Kami yakin kader Banser tidak terblesit pemikiran untuk melakukan tindak kejahatan penipuan,” ujarnya Kamis ( 11/10) kemarin.

Sementara itu pihalk LBH Ansor Jawa Tengah Taufik Hidayat SH MH juga menyatakan bahwa anggota Banser dan guru Ma’arif yang dijadikan terdakwa oleh pihak penyidik Polda Jawa Tengah diyakini menjadi korban dari pelaku utama. Dia menyatakananggota Banser dan guru Ma’arif itu juga harus kehilangan uang Rp 3 juta untuk bisa menjadi karyawan di Kemenag sesuai janji pelaku utama.

Dalam fakta persidangan kasus penipuan yang dipimpin majelis hakim Sutopo Mulyono SH MH dengan anggota Cahya Eka SAH dan Riska Yunia SH tersebut terkuak awal aksi otak penipuan dalam kasus ini didalangi M. Benfani Nindita Rahman ( 22) yang juga putra kepala Kemenag Pemalang warga Gebangsari 06/32 Mrangen Demak. Dia menjebak kedua rekannya masing – masing Tirto Endro Utomo ( 34) guru honorer sekaligus anggota Banser warga Kepunduhan RT 3/ RW 5 Weleri kendal dan Tugiyono ( 55) guru honorer Yayasan Ma’arif MTs Hidayatussubyan Karangroto Genuk Semarang.

Terdakwa Benfani sempat mengajak kedua rekannya itu untuk menawarkan dana hibah dari Kemenag pusat, dan memperalat keduanya berpura – pura menjadi tim supervisi bantuan dana hibah Kemenag pusat. Untuk memudahkan aksinya, terdakwa Benfani mengubah nama Tirto menjadi Sutan dan Tugiyo menjadi Ahmad. Aksi penipuan pun dilakukan di tiga yayasan yang berlokasi di Brebes, Jatinegara, dan Pagerbarang. Ketiga yayasan itu dijanjikan akan mendapat dana hibah dari Kemenag pusat dengan syarat menyetorkan uang senilai Rp 300 juta untuk uang setoran hibah dan dijanjikan akan mendapatkan Rp 2 millar dari Kemenag pusat.

Namun setelah ketiga yayasan itu menyetorkan uang dengan total Rp 900 juta, dana hibah yang dijanjikan tidak kunjung cair. Terdakwa Benfani juga menjanjikan pada kedua rekannya untuk bisa menjadi CPNS dengan gaji Rp 50 juta persemester di Kemenag Pusat dengan keharusan membayar Rp 3 juta kepada Benfani. Kedua rekan Benfani itu sempat memandatangani kwitansi penyerahan uang dari ketiga yayasan, namun uang tersebut langsung dibawa Befani. Dalam kasus ini penyidfik Polda Jawa tengah menjerat ketiga terdakwa dengan pasal 378 KUHP jo pasal 55 ayat1 KUHP atau pasal 372 KUHP junto 55 ayat 1 KUHP. Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa akan dilakukan pekan depan.(her)

Facebook Comments