Radar Batang

Lari Menyelamatkan Diri, Judi Lihat Orang Tertimpa Bangunan hingga Meninggal

Dok Istimewa
Bupati Wihaji dengan seksama mendengarkan penuturan sejumlah warga Batang yang selamat dari bencana Gempa dan Tsunami.

*Kisah Warga Batang yang Selamat dari Musibah Gempa dan Tsunami

BATANG – Judi (36) warga Desa Sukomangli, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang tidak pernah membayangkan sebelumnya jika daerah tempatnya mengadu nasib selama lima bulan akan porak poranda akibat gempa dan terjangan tsunami. Namun, dia tetap merasa bersyukur bisa selamat setelah kejadian memilukan yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu.

Judi kini telah kembali ke Batang setelah difasilitasi kepulangannya oleh pihak Pemkab Batang. Dia bersama 10 temannya telah tiba di rumah Dinas Bupati Batang pada Jumat (12/10) pagi dan disambut langsung oleh Bupati Wihaji bersama jajarannya.

“Waktu kejadian bumi seperti digunjang, saya bersama rekan-rekan langsung lari keluar dari gedung tempat kami bekerja. Sekitar 30 menit kami lari naik ke atas bukit,” ungkapnya saat ditemui di Rumah Dinas Bupati Batang, Jumat (12/10).

Mata bapak dua anak tersebut berkaca-kaca seolah tak bisa menyembunyikan trauma akan gempa tsunami yang ia alami. Dia tak bisa menyembunyikan kesedihan serta ketakutannya saat mengingat mencekamnya situasi di lokasi saat guncangan dahsyat memporak-porandakan bangunan di Palu.

“Saat menyelamatkan diri, saya selalu mengumandangkan takbir, karena saya sudah pasrah dan hanya bisa pasrah. Pada saat lari itu saya juga melihat orang tertimpa bangunan dan meninggalkan di tempat tanpa sempat meminta tolong,” kisahnya.

Judi mengaku pada saat itu dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena diselimuti rasa panik dan takut. “Mau menolong juga bagaiman, karena saya juga lari kencang menyelamatkan diri, miris kalau mengingat peristiwa itu, waktu itu yang ada di benak saya, hanya keluarga di rumah,” jelas Judi.

Judi kini sudah bisa bernafas lega, karena berhasil pulang ke Batang bersama 10 orang rekannya. Sebelumnya dia sempat tertahan, karena pihak mandor bangunan memintanya untuk bertahan terlebih dulu. Pihak mandor merasa bertanggungjawab atas keselamatan pekerjanya dan juga belum memberikan gaji pada mereka.

Bupati Batang Wihaji yang menyambut kepulangan 11 warga itu mengatakan, warga Batang yang yang menjadi korban yang dipulangkan sudah kali kedua ini, setelah sebelumnya ada 13 orang. Sedangkan kesebelas orang yang dipulangkan hari ini memang sempat ditahan oleh mandor proyek, karena merasa mempunyai tanggung jawab atas keselamatan anak buahnya, dan belum  mendapatkan bayaran atau gaji.

“Pasca gempa memang belum bisa mendapatkan gaji karena tidak bisa mengambil uang tunai di Bank, setelah mendaptkan gaji mereka di perbolehkan pulang,” kata Wihaji didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP dan Naker), Dinas Sosial dan juga Camat Reban.

Wihaji menambahkan, saat ini masih ada tersisa 7 warga Batang yang di Sulteng, namun ada penanggung jawabnya. “Kita akan pantau terus perkembangannya, dan kalau mereka mau pulang kita fasilitasi. Untuk warga Batang yang meninggal ada satu orang atas hillang nama Mudi, yang hilang Naryo,” tandas Wihaji. (don)

Facebook Comments