Radar Batang

Waspada, Ancaman Bencana Tersebar di 21 Desa

BATANG – Kabupaten Batang sejauh ini relatif aman dari bencana alam yang mematikan. Namun demikian, potensi ancaman bencana itu bukan tidak ada. Data BPBD setempat bahkan menyebut ada 21 di 15 kecamatan desa yang terbilang rawan ancaman bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Ulul Azmi AP MM, mengatakan, jenis ancaman bencana yang ada di masing-masing desa itu bervariasi sesuai kondisi alamnya. Untuk daerah utara misalnya, ancaman bencana yang mungkin terjadi adalah rob dan abrasi pantai. Sementara di daerah atas/selatan, ada ancaman pergerakan tanah, gempa bumi, hingga angin puting beliung.

Ulul menyebut ada 9 ancaman bencana yang secara umum potensial terjadi di Kabupaten Batang, yakni banjir, rob, abrasi, angin puting beliung, longsor, gas beracun, gempa bumi, kekeringan, dan kebakaran. “Termasuk potensi gas beracun untuk desa Pranten Kecamatan Bawang. Sudah pernah ada kejadian saat terjadi kebocoran, areal tanaman hingga rumah warga di sana ikut terdampak,” ucapnya.

Dalam hal resiko dan ancaman bencana tersebut, Kabupaten Batang juga sempat masuk dalam peringkat 13 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah berdasarkan Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI) yang dirilis BNPB tahun 2013 silam. Sesuai hasil kajian tersebut, skor IRBI Kabupaten Batang adalah sebesar 168 dengan kategori kelas risiko tinggi.
Dengan skor itu, Kabupaten Batang menempati urutan 175 dari total 496 kabupaten di seluruh Indonesia sebagai daerah dengan risiko bencana tinggi. Sementara untuk tingkat Jateng, Batang menempati posisi ke 13.

“Skor tinggi Batang bisa jadi terkait corak geografisnya yang memuat pesisir, daratan, dan pegunungan. Resiko bencana itu pun sifatnya multi. Sebelumnya BPBD sudah pernah membuat peta rawan bencana di era Pak yesa (Yesaya Simanjuntak –red). Nah, tahun ini kami melengkapinya dengan kajian resiko bencananya,” jelas Ulul.

Kajian itu adalah dibiayai BNPB dengan melibatkan konsultan. Ulul optimis pekerjaan itu akan selesai di Bulan November dengan hasil berupa dokumen peta resiko/bahaya bencana. Dokumen itu nantinya menjadi acuan kebijakan penanggulangan bencana daerah.

Untuk mengurangi resiko bencana itu, kata Ulul, BPBD Batang siap siaga dengan rutin melakukan pelatihan mitigasi bencana kepada relawan maupun masyarakat. Selain itu, BPBD juga sudah membentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) yang terdiri dari Polres, Kodim, dunia usaha, masyarakat relawan, dan dinas instansi terkait. “Termasuk kita juga mencetak buku saku tentang jenis bencana dan penanggulangannya agar masyarakat semakin siagsiaga menghadapi bencana. Saat terjadi bencana, mereka sudah siap, sehingga dapat mengurangi resiko yang terjadi,” jelas Ulul.

Sekda Batang yang juga ex officio Kepala BPBD, Drs H Nasikhin MH, meminta seluruh stakeholder kebencanaan bisa bersinergi dan terlibat aktif, baik dalam tanggap darurat bencana, saat terjadi maupun paska bencana.

“Salah satu strategi terkait PRB ini adalah bagaimana membangun kemitraan dengan seluruh stakeholder dan meningkatkan partisipasi publik. Ingat, penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” tandas dia. (sef)

Facebook Comments