Lain-lain

Pasar Konveksi Sepi, Pengusaha Tepuk Jidat

Pasar Konveksi Sepi, Pengusaha Tepuk Jidat

PRODUKSI – Pasar konveksi yang sepi membuat sebagian pengusaha di Pekalongan mengurangi jumlah produksi.
MUHAMMAD HADIYAN

KEDUNGWUNI – Nilai tukar mata uang dolar AS yang kian meroket hingga ke angka Rp15.000 lebih, membuat kondisi pasar konveksi sepi. Akibatnya, banyak pengusaha konveksi yang mengalami penurunan omzet hingga 50 persen.

Tak sedikit pula yang akhirnya mengurangi jumlah produksi. Sebab di tengah minimnya permintaan pasar, biaya produksi konveksi justru naik. Sementara harga jual menurun.

Hal itu diungkapkan salah seorang pengusaha konveksi asal Kedungwuni, Pekalongan, Mirza (29), kemarin. Ia mengatakan, saat ini kondisi pasar tengah sepi. Bahkan sepinya pasar melebihi kondisi sebelum lebaran haji.

“Kemarin saya di Pasar Tanah Abang tiga hari, permintaan sepi. Bahkan, kabar dari temen-temen saya, tidak hanya Tanah Abang, pasar di Surabaya, Solo, Jogja, Kudus, dan pasar konveksi lain di Luar Jawa, juga sepi,” kata Mirza.

Akibat minimnya permintaan, harga jual pun menurun. Padahal, kata dia, harga bahan produksi mengalami peningkatan pasca kenaikan dolar. Seperti benang, kain, plastik, kancing, dan lain-lain.

“Memang sih, biasanya menjelang pemilu, pasar selalu sepi. Bahkan dua kali lipat lebih sepi dari biasanya. Tapi ini akan makin parah kalau nilai dolar tidak kembali normal,” terangnya.

Untuk mengantisipasi minimnya permintaan, ia pun terpaksa mengurangi jumlah produksi. Sebab, menurutnya, untuk bisa bertahan dalam kondisi saat ini saja sudah syukur.

“Bertahan aja udah syukur. Tak sedikit yang berhenti. Nunggu ramai lagi,” ungkap Mirza.

Ia berharap, kondisi pasar bisa kembali normal. Sehingga para pelaku bisnis konveksi di Pekalongan bisa beraktivitas dengan baik.

“Saya sih punya solusi, Kedungwuni kan sentral industri jins di Pekalongan. Kalau bisa, Pemda bikin sentra produksi jins, seperti sentra batik di IBC dan Setono,” ujarnya.

Dengan begitu, lanjut dia, orang dari luar daerah bisa langsung ambil barang ke Pekalongan.

“Kalau demikian kan kita tak harus ngirim ke sana. Jadi, para pedagang yang ambil kesini. Sistemnya bukan ngirim lagi. Sehingga, minim penipuan dan mengurangi hutang pedagang pada pengusaha konveksi. Selain itu, biaya distribusi juga jadi ringan,” tandasnya. (had)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments