Radar Kajen

Entitas Kebudayaan Kota Santri Sudah Diakui Keraton Yogyakarta

Setelah jalin kerjasama dengan dua museum di Rusia, Pemkab Pekalongan juga bekerjasama dengan Keraton Yogyakarta dalam pengembangan budaya. M HADIYAN, Kajen

Entitas Kebudayaan Kota Santri Sudah Diakui Keraton Yogyakarta

SULUK BUMI – Bupati Pekalongan Asip Kholbihi saat menghadiri acara Suluk Bumi Santri ke-3, di Pendopo Kecamatan Kesesi, Sabtu (6/10) malam.
MUHAMMAD HADIYAN

NAMA Kesesi sudah ada sebelum Pekalongan ada. Daerah itu makin terkenal ketika Ki Ageng Cempaluk diberikan tugas khusus oleh Sultan Agung untuk membuka wilayah ini. Maka, sebagai penerus serta sebagai orang yang diberikan mandat untuk membangun Kabupaten Pekalongan, maka meneruskan cita-cita para pendiri daerah, wajib dilakukan.

Seperti itulah yang disampaikan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi pada acara Tadarus Budaya – Suluk Bumi Santri ke-3, di Pendopo Kecamatan Kesesi, Sabtu (6/10) malam.

Dengan mengusung tema : “Kabupaten Pekalongan, Budaya Kita..? Masa Depan Kita..?”, dihadiri oleh narasumber Gus Eko Ahmadi (Ketua Umum LESBUMI PCNU Kabupaten Pekalongan), Camat beserta Muspika Kecamatan Kesesi dan para Kepala Desa se Kecamatan Kesesi.

Bupati mengungkapkan, ia memahami betul bahwa membangun itu harus dengan filosofi. Filosofi pembangunan harus diambil, mengapa banyak muncul budaya di Kabupaten Pekalongan? Itu juga perlu diambil filosofinya.

“Seperti ketoprak yang malam ini ditampilkan, hal itu betul bahwa salah satu tugas sesepuh atau ulama adalah himmayatul ummah (menjadi pelindung umat, menjadi tempat umat untuk menyelesaikan persoalannya),” ungkap Bupati.

Dijelaskan Bupati, antara ulama dengan umaro harus saling melengkapi. Inilah filosofi yang terkandung didalam budaya-budaya Kabupaten Pekalongan. Kita akan tumbuhkan tim kebudayaan yang tangguh di Kabupaten Pekalongan. “Insya Allah nanti pada tanggal 24 akan pentas di RRI Purwokerto, kemudian di TMII Jakarta. Semua itu adalah para seniman kita,” ujar Bupati.

Bupati menuturkan, Pemkab Pekalongan saat ini telah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terkait budaya. Dimana Raja Hamengku Buwono X sudah menganggap dan sudah menetapkan bahwa Kabupaten Pekalongan adalah salah satu mitra, salah satu jaringan terdekat Mataram, karena Panglima Angkatan Laut Mataram pada waktu itu adalah Ki Ageng Bahurekso yang berada di Kesesi.

“Jadi kita dekat dengan Mataram dan diakui Kesultanan Yogyakarta sebagai bagian yang penting. Hal itu baru saja terungkap belum lama ini. Sehingga kemarin tim dari Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah mengadakan acara di Kajen. Ini bentuk bahwa Kabupaten Pekalongan dalam konteks entitas budaya juga sudah diakui oleh Keraton Yogyakarta,” terang Bupati.

Bupati mengutarakan bahwa pihaknya juga telah melakukan kerjasama dengan dua museum terbesar di Rusia, dimana salah satu museum itu merupakan terbesar kedua sedunia. Diceritakan, apabila orang keliling ke Museum untuk melihat benda-benda bersejarah tiap benda 5 menit saja, sehingga untuk bisa melihat keseluruhan benda yang ada di museum itu memerlukan waktu 18 tahun karena saking banyaknya peninggalan yang ada di museum tersebut.

“Kita sudah bekerjasama, dan mereka menganggap bahwa Kabupaten Pekalongan sebagai salah satu point penting untuk pengembangan kebudayaannya. Jadi kita ini sudah mendunia,” tutur Bupati.

Bupati juga menerangkan mengenai program blusukan ke desa-desa yang ada di Kabupaten Pekalongan. Menurutnya, keliling ke daerah-daerah (sonjo deso) adalah dalam rangka untuk menguatkan kembali bahwa membangun tidak lepas dari aspek kebudayaan, termasuk budaya bagaimana kita mengembangkan budaya yang nanti akan kita jadikan wisata kuliner yaitu Apem.

Apem Kesesi ini, kata Bupati, yang membuat orang Kesesi tetapi terkenalnya Apem Comal. Hal itu sudah menjadi hal yang biasa seperti Batik. Batik di seluruh Indonesia bahkan dunia yang membuat itu kita di Kabupaten Pekalongan, tetapi diakuisisi menjadi Batik Kalimantan, Batik Papua, Batik Sumatera, bahkan Batik Cirebon, Batik Solo, Batik Jogja dan lain sebagainya. Semua itu sebenarnya buatan (made in) Kabupaten Pekalongan. “Yang penting adalah bahwa karya masyarakat kita memiliki latar belakang sejarah yang luar biasa,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Bupati Asip menyampaikan informasi penting yakni bertepatan dengan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober 2018, Pemkab Pekalongan akan melaunching Kampung Quran di Desa Proto Kecamatan Kedungwuni.

Disebutkan Bupati, bahwa di Desa Proto terdapat 99 orang yang hafal Al-Quran. Tidak hanya kyai atau ustad saja, akan tetapi tukang becak, tukang menjahit, petani seluruhnya di desa tersebut hafal Al-Quran. “Akan saya buat monumen Kampung Quran,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments