Metro Pekalongan

Ditunggu, Bencana Rob Pekalongan Tengah Dibuat Filmnya

Pembuatan Film Bencana Rob Pekalongan

PRODUKSI FILM – Jejaring komunitas di Pekalongan, memproduksi film pendek yang menceritakan tentang permasalahan rob di Kota Pekalongan sebagai upaya menyuarakan aspirasi ke berbagai pihak.

KOTA PEKALONGAN – Jejaring komunitas di Pekalongan, membuat film khusus terkait permasalahan rob di Kota Pekalongan. Film yang mengambil tempat di lokasi langganan rob seperti Pabean dan Bandengan tersebut, diberi judul ‘Ada Juang di Tanah Tergenang’ dan diproduksi sejak Sabtu (6/10) hingga Minggu (7/10).

Sutradara film ‘Ada Juang di Tanah Tergenang’, Taufiq Canting, menjelaskan film tersebut dibuat untuk menyuarakan bencana rob yang hingga kini masih dihadapi warga Kota Pekalongan.

“Film ini sebagai bentuk kegelisahan dengan masih terus terjadinya rob di Pekalongan. Produksi film diibuat jejaring komunitas yang prihatin dengan rob serta dampaknya yang besar terhadap warga Pekalongan,” tuturnya.

Canting menjelaskan, film ini berkisah tentang seorang anak SD yakni Tika, yang merindukan daratan karena selama ini di tempatnya tinggal yakni Pabean, terus tergenang rob.

Sebagai anak kecil, Tika merasa tempat bermainnya direnggut keadaan karena dikepung oleh air rob. Bahkan ketika memiliki sepatu baru untuk bersekolah, juga tidak bisa digunakan seperti anak-anak pada umumnya di daerah kering karena harus melewati genangan air rob. Tika mengadu pada sang kakak, Afida, dan orang tuanya, namun tetap tidak bisa merubah keadaan.

“Film ini hanyalah salah satu potret persoalan yang dihadapi oleh warga di sekitar rob. Rob telah berdampak pada kehidupan warga, termasuk kehidupan sehari-hari dan pendidikan anak,” tambahnya.

Penulis naskah film, Makruf Al Hadad, mengungkapkan film tersebut dibuat bergotong royong dari berbagai komunitas yang ada di Pekalongan. Seperti dari Komunitas Perupa, Komunitas Drone Pekalongan, Blogger Pekalongan, Insta Pekalongan, Explore Pekalongan, Akademi Berbagi (Akber), Mahasiswa Pekalongan Raya di Jogjakarta (Mahakarya), Komunitas Fotografi Indonesia Wilayah Pekalongan, Komunitas Film Pekalongan, Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), HMI, Komunitas Peduli Kali Loji, dan berbagai komunitas lainnya.

“Film yang dibuat merupakan film pendek, durasinya lima menit. Untuk lokasi shooting ada di SD Pabean, rumah warga di Pabean serta di SD Bandengan. Di film ini kami juga menggambarkan bagaimana anak-anak tetap melaksanakan upacara bendera di lapangan yang tergenang rob. Meskipun mereka berada di tengah rob, mereka tetap berjuang menempuh pendidikan dan memiliki semangat cinta tanah air,” katanya.

Dia menambahkan, film ini adalah upaya dari jejaring komunitas untuk menyuarakan bahwa ada permasalahan besar yang dihadapi Pekalongan saat ini. Bencana rob telah memunculkan berbagai dampak yang harus dihadapi oleh warga. Tidak hanya soal genangan air yang masuk, tapi juga pada pendidikan anak-anak, kesehatan, sanitasi, hilangnya mata pencaharian sampai pertengkaran rumah tangga.

“Film adalah salah satu bentuk ekspresi teman-teman komunitas Pekalongan untuk menyampaikan aspirasinya ke berbagai pihak. Ada persoalan besar berupa bencana rob yang telah merendam ribuan rumah warga dan harus segera diatasi. Dan sampai sekarang rob belum juga tertangani,” tandasnya. (nul)

Facebook Comments