Radar Batang

Alhamdulillah, 13 Warga Batang Korban Gempa dan Stunami Sulteng Berhasil Dipulangkan

Dok Istimewa
DIPULANGKAN – Warga Batang yang sempat menjadi korban gempa dan Stunami di Sulteng disambut oleh Bupati Wihaji di rumah dinasnya.

*Sempat Terseret dan Tertimbun Lumpur saat Gempa Terjadi

BATANG – 13 Warga Kecamatan Reban, Kabupaten Batang yang sempat menjadi korban gempa dan Tsunami di Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, akhirnya bisa bernafas lega. Setelah berhasil di evakuasi dari lokasi musibah, Minggu (7/10) pagi mereka kembali bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halamannya.

Mereka sebelumnya berhasil ditemukan oleh tim Derm-Aksi Cepat Tanggap (ACT) di dua lokasi bencana, hingga akhirnya berhasil dibawa pulang ke Batang. Selanjutnya oleh pihak Pemkab Batang, mereka dikembalikan ke keluarganya.

Adapun dari 13 orang yang berhasil di pulangkan diantaranya Riyanto Teguh santoso, Mahyun, Giyono, Sujud Desa Sukomanglu Reban Wasto Dukuh Gumelem, Pecalungan, Nasoha adal Sukomangli, Reban, Nurhadi asal Gerjo, Reban, Miskam asal Sukomangli, Reban, Kasmudi asal Tombokboyo, Reban, Sopi’i asal Padomasan, Reban, Saiful Mungminin asal Sukomangli, Reban, Fahrozi asal Sukomangli, Reban.

Saat tiba di rumah dinas Bupati Batang Minggu pagi, masih nampak adanya rasa trauma dari 13 warga tersebut. Seperti yang dialami oleh Fahrozi (30) warga Desa Sukomangli, Reban yang nyaris kehilangan nyawanya saat musibah gempa dan tsunami terjadi.

Menurutnya pada saat musibah datang pada Jumat (28/9) lalu dirinya sedang antri mandi sore setelah selesai bekerja menjadi buruh bangunan. Namun tiba – tiba terdengar suara ledakan disertai suara pohon tumbang dan lumpur.

“Pada saat itu saya sempat menyelamat diri, namun karena cepatnya lumpur dan longsor sehingga tidak mamapu berlari. Saya hanya berdoa agar di berikan keselamatan,” ungkap Fahrozi dengan mata berkaca-kaca.

Fahrozi mengungkapkan, dirinya saat itu sempat terseret lumpur sejauh 1 km, dan tenggelam di lumpur selama 3 jam. “Saya sempat pasrah karena sempat tenggelam dan terendam lumpur yang menyisakan kepala. Ditengah gelapnya suasana, Alhamdulillah saya berhasil keluar dari lumpur dengan merangkak hingga akirnya ditemukan oleh relawan,” beber Fahrozi.

Kejadian serupa juga dialami oleh Saiful Mukminin ( 35) Warga Sukomangli yang pada saat kejadian berada berdekatan dengan Fahrozi. “Hanya saja saya ditemukan dulu oleh tim SAR, dan kemudian langsung berusaha ikut mencarai teman-teman yang sebelum kejadian sempat bersama,” kisah Saiful Mukminin.

Bupati Batang, Wihaji yang menyambut kedatangan warganya di rumah dinas mengatakan, berdasarkan masing – masing laporan ada 3 kelompok warga Batang yang ada di Sulawesi Tengah saat gempa dan tsunami terjadi. Masing-masing terdiri dari 9 orang, 10 orang dan 15 orang, sehingga total ada 34 orang. Dari jumlah tersebut ada satu orang yang dipastikan meninggal dan satu lainnya atas nama Mudi hingga saat ini masih belum diketahui keberadaan dan nasibnya.

“34 orang warga Batang itu bekerja sebagai buruh bangunan, yang tersebar di Sigi, Palu dan Donggala. Dan hari ini kita berhasil memulangkan 13 orang korban selamat, namun ada juga yang belum mau pulang. Hal itu dikarenakan mereka berangkatnya dibiayai oleh mandor bangunanya, sehingga belum diperbolehkan pulang,” jelas Wihaji, didampingi Kepala Dinas Sosial dan DPMPTSP dan NAKER Batang.

Wihaji menambahkan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan mereka yang masih berada di Sulteng. Jika mereka ingin pulang, maka Pemda akan memfasilitasi. Sedangkan yang sudah sampai di Batang, selanjutnya diserahkan ke kepala desanya untuk diantar sampai ke rumahnya masing-masing.

“Dalam suasana bencana mereka pulang tidak membawa uang, karena belum ‘bayaran’. Mereka bekerja baru dua setengah bulan, dan belum sempat terima bayaran. Dengan kondisi tersebut, dan untuk sedikit meringankan beban mereka, maka kami berikan sedikit uang saku,” lanjut Wihaji.

Pada kesempatan itu Wihaji juga menghimbau kepada warganya agar untuk sementara tidak ke Sulteng dulu. Sambil menunggu kondisi pulih, maka para warga tersebut diminta untuk mencari pekerjaan lain di daerah asalnya dulu.

“Sedangkan untuk menangani pasca trauma dari 13 koraban yang di pulangkan, kondisi mereka akan dipantau oleh puskesmas masing – masing Kecamatan. Kita akan damping guna memantau perkembangannya, karena saya lihat dari psikisnya nampak ketakutan dan trauma,” tandas Wihaji.

Proses pemulangan 13 warga Batang itu sendiri dilakukan menggunakan pesawat Hercules dari Bandara Mutiara Sis Aljufri Sulawesi menuju Lanud Sultan Hasanudin Makasar. Selanjutnya melanjutkankan penerbangan ke Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, dan kemudian dijemput oleh personil dari Pemkab Batang dan melakukan perjalanan lewat jalur darat. (don)

Facebook Comments