Renungan Jum'at

Tafsir Al-Fatihah (Bagian 4 dari 5 Tulisan)

KH Anang Rikza Masyhadi MA
Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Dalam Al-Fatihah, ‘Ar-Rahman’ dan ‘Ar-Rahim’ disebut dua kali. Pertama di dalam basmalah, dan kedua pada ayat ketiga. Menurut Syaikh Dr. Rajab Deeb dalam tafsirnya, At-Tafsir Ar-Rohib bahwa yang pertama merujuk pada Dzat-Nya, sedang yang kedua merujuk pada sifat-Nya.

Seperti halnya, misalnya, ada orang namanya Dermawan yang memang punya sifat dermawan. Dermawan yang pertama merujuk pada sosok orangnya, sedang dermawan kedua merujuk pada sifat-sifatnya.

Dengan demikian, sesungguhnya Allah sedang ingin menunjukkan pada kita sebuah konsistensi antara wujud dan sifat. Dan inilah yang mestinya bisa kita tiru.

‘Ar-Rahman’: Allah Memberi nikmat bersifat umum; seperti matahari, bulan, bumi, air, udara, dan lain sebagai. Semua nikmat itu dinikmati umum oleh seluruh makhluk-Nya.
Sedangkan ‘Ar-Rahim’: Allah Memberi nikmat bersifat rinci. Seperti mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, lidah bisa merasakan, dan lain sebagainya.

Melalui ‘Ar-Rahman’ Allah Memberi nikmat kepada semua manusia, baik mukmin maupun kafir. Akan tetapi, melalui ‘Ar-Rahim’ Allah Memberi nikmat hanya kepada orang-orang yang beriman saja, seperti halnya nikmat hidayah dan surga kelak.

Maka, hidayah iman itu nikmat. Lawan katanya adalah kesesatan dan kekafiran. Sebagaimana kelak kaum beriman akan diberi nikmat surga di akhirat, tentu saja nikmat ini tidak diberikan kepada orang-orang kafir yang tidak beriman kepada-Nya.

Selanjutnya, pada ayat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah; dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. Menurut Syaikh Dr. Rajab Deeb, inilah salah satu rahasia penciptaan semesta. Sesungguhnya, menurut Beliau dalam kitabnya ‘At-Tafsir Ar-Rahib’ bahwa tujuan Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya adalah untuk beribadah dan memohon pertolongan-Nya.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Jadi, tugas kita di hadapan Allah adalah untuk beribadah dan memohon pertolongan-Nya.

“Hanya kepada-Mu kami menyembah & hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah bentuk penegasan: bahwa tidak ada yang disembah selain Allah dan tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Allah.

Sebagai contoh, jika ada orang sakit pergi ke dokter, hakekatnya ia tetap memohon pertolongan kepada Allah, yaitu agar Allah Berkenan memberikan pertolongan-Nya melalui tangan dokter. Demikian pula, dokter yang didatangi pasien ia akan memohon pertolongan Allah agar diberi izin dan kemampuan mengobati pasiennya.

Sehingga dengan demikian, baik pasien maupun dokter sama-sama fokus pada Allah. Bertemulah harapan keduanya di Tangan Allah. Maka, Al-Quran pun menegaskan: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (*)

Facebook Comments