Nasional

Dikira Bawa Makanan, Truk Pembawa Kantong Mayat Pun Nyaris Dijarah

Petugas menurunkan jenazah korban gempa tsunami Palu untuk dimakamkan di Poboya, Mantikulore, Palu, Senin (1/10). Sebanyak 18 jenazah dimakamkan secara bersamaan, dan dilakukan secara bertahap. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Matahari meninggalkan peraduan, Rabu (3/10). Cahaya bulan tak begitu terang. Gelap gulita di Palu, Donggala, dan Sigi. Tiga daerah yang dihantam gempa dan tsunami. Listrik tak beroperasi. Kebanyakan warga memilih tidur di halaman rumah. Bahkan di pinggir jalan.

Begitu pula dengan awak Kaltim Post (Jawa Pos Group) dan para jurnalis lain yang bertugas di Palu. Halaman kantor Telkom di Jalan Ahmad Dahlan, sebagai jantung kota Palu, disulap jadi tempat istirahat. Sekaligus berkumpul. Untuk mengetik berita dan menggali informasi.

Semuanya jadi serba mungkin dilakukan. Tak bisa lagi berpikir untuk makan enak. Mi instan dirasa jadi menu paling wah di Palu saat ini. Dukungan logistik memang sudah mengalir tak berhenti. Tapi, beberapa daerah seperti Donggala dan Sigi, kabarnya pasokan masih sangat terbatas.

Setelah tiba di pelabuhan di Pantoloan Senin (1/10), media ini menumpang truk Basarnas menuju jantung kota Palu, tepatnya di kantor Telkom itu. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari pelabuhan. Kebanyakan penduduk sekitar bertahan di halaman rumah. Membangun tenda dari terpal. Sumber cahaya dari api unggun. Bahan bakarnya ranting atau tumpukan kayu.

Tiga malam sudah media ini di Palu. Pada Selasa (2/10) malam, awan tebal sempat menyelimuti Palu. Lepas tengah malam hingga dini hari kemarin (3/10), gerimis membuat sejumlah jurnalis terbangun dari tidur. Berpindah tempat yang ada atapnya. Tak begitu lama, bintang bertaburan muncul seketika. Baju dan jaket, jadi tameng dinginnya malam.

Tak lagi peduli dengan kondisi tempat istirahat. Tidur beratapkan langit, jadi pemandangan yang lumrah bagi warga yang kini terkena musibah. Selasa (2/10) pukul 05.00 Wita, goncangan kembali terjadi. Media ini pun sempat berpindah tempat istirahat. Tepat di bawah tiang bendera kantor Telkom.

Jangan berpikir untuk bisa makan enak. Mi instan dan telur jadi menu paling istimewa. “Ayo makan ala militer. Nasi campur mi atau telur,” ucap jurnalis lokal jaringan Jawa Pos Group (JPG). Matahari mulai merekah, langit cerah menandakan aktivitas tim relawan dan search and rescue (SAR) bekerja. Belum banyak kedai atau warung kecil yang beraktivitas. Palu bak kota mati yang dihuni manusia.

Semuanya dilakukan demi bisa bertahan hidup. Kebanyakan pengungsi yang meninggalkan Palu, mereka sudah tak memiliki harta benda, termasuk rumah yang hancur digoncang gempa dan diterjang tsunami. Semua aktivitas lumpuh total. Listrik yang serba terbatas, hingga makanan ala kadarnya. “Ya begitulah bencana. Semoga cepat berlalu,” sambung rekan jurnalis nasional.

Sepanjang jalan dari Korem menuju Kelurahan Petobo, salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah. Ratusan rumah hancur. Diprediksi, banyak pula warga sekitar yang tertimbun dalam reruntuhan bangunan. Aroma jasad begitu menusuk hidung. Bukan hanya di Petobo, sepanjang jalan dari Pelabuhan Pantoloan hingga markas Korem, aroma itu begitu terasa.

Lampu jalan memang menyala. Sumber dayanya adalah tenaga matahari, menggunakan solar cell. Sementara aliran listrik di beberapa rumah atau tempat penampungan, menggunakan mesin genset. Akses komunikasi di Palu tak seperti dua hari setelah kejadian. Jaringan seluler berangsur membaik.

Untuk mendapatkan daya listrik, pengungsi atau awak media harus saling menyambung kabel. Selain makanan, listrik menjadi yang paling dicari di Palu. “Kalau tidak penting, jangan komunikasi. HP memang juga bagian penting,” ungkap jurnalis lainnya.

Palu, Donggala, dan Sigi, benar-benar jadi daerah yang butuh perhatian. Hampir seluruh objek vital dijaga TNI-Polri. Pasalnya, banyak penjarahan di beberapa sudut kota. Sungguh daerah yang ironi bak kehilangan kesadaran. Toko retail, diler, serta beberapa pasar sempat menjadi sasaran penjarahan. Awak media pun menyayangkan adanya tindakan tersebut.

Jika berhubungan dengan makanan, rasanya wajar. Tapi, ketika perlengkapan elektronik, sudah bisa digolongkan aksi kriminal. Dari informasi yang diperoleh Kaltim Post (Jawa Pos Group), penjarahan sudah mengarah ke beberapa rumah warga.

Sementara itu, menuju beberapa daerah yang belum banyak dijangkau, beberapa kendaraan yang mengangkut logistik juga beberapa kali sempat diberhentikan. Namun, demi sampai ke tangan pengungsi, pendistribusian bahan makanan dipasok malam hari. Tentunya dengan pengawalan ketat TNI-Polri.

Truk yang ditumpangi awak media ini pun sempat dihentikan, tak jauh dari Pelabuhan Pantoloan. “Apa itu, kasih turun yang dibawa,” pekik seorang pria berkepala pelontos dengan membawa kayu panjang. Padahal, truk Basarnas mengangkut kantung mayat. Yang peruntukannya membawa korban-korban meninggal.

Beranjak ke Petobo, kehadiran Kaltim Post langsung disambut dengan ditemukannya jasad seorang perempuan. Setelahnya, berangsur-angsur tim SAR menemukan korban lain yang tertimbun. Salah satunya adalah jasad pria yang berusaha melindungi anak kecil.

Keduanya ditemukan di daerah kompleks BTN. Terimpit di belakang salah satu rumah warga yang belum jadi. Di sela-sela proses pengumpulan korban, gempa kembali mengguncang. Meski tak sekuat saat pertama kali terjadi, goncangan itu cukup membuat masyarakat panik.

Selasa, pukul 14.10 Wita, guncangan kembali terasa. Tetapi, tak berdampak kerusakan. Masih terjadi gempa, membuat sebagian masyarakat memilih tidur di jalanan. Mereka juga berjaga-jaga. Agar tak jadi sasaran penjarahan.

(fab/jpg/JPC)

Facebook Comments