Radar Kajen

Unik, di Desa Ini Proses Pembuatan Tahu Dieksplor jadi Wisata

Sejak tahun 2014 pengembangan wisata edukasi Kampung Tahu Babalan Lor kian berkembang. Para wisatawan diajak untuk berkenalan dengan pengolahan tahu, pemanfaatan biogas, penanaman kedelai, hingga membuat kerajinan berbahan dasar tahu. Seperti apa? EKA ISDITYA, Bojong

Unik, di Desa Ini Proses Pembuatan Tahu Dieksplor jadi Wisata

WISATA – Aktivitas para pengunjung saat tengah berwisata di Kampung Tahu, Desa Babalan Lor, Kecamatan Bojong, Minggu (30/09).
EKA ISDITYA

Munculnya Wisata Edukasi Kampung Tahu Babalan Lor, Kecamatan Bojong telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Babalan Lor dan sekitarnya. Tak hanya sarana dan prasarana yang semakin elok, kesadaran masayarakat akan pentingnya eksplorasi potensi lokal juga kian tumbuh. Hal tersebut salah satunya terbukti dengan bertambahnya intensitas pengunjung dan para wisatawan yang ingin belajar atau sekedar berkunjung di Desa Babalan Lor, Bojong.

Diturukan oleh Pengelola Kampung Tahu Babalan Lor, Dachrun, aktivitas para pengelola dan masyarakat sekitar Kampung Tahu menjadi padat berkat adanya kunjungan para wisatawan yang tak henti sejak beberapa tahun terakhir. “Alhamdulillah setiap harinya kami selalu kedeatangan pengunjung, rombongan dari beberapa wilayah, bahkan kami juga sempat terima kunjungan dari Jakarta, Tangerang, Brebes, Temanggung, dan sekitaran Pekalongan,” tuturnya serayaq menambahkan berkat tangan dingin dan semangat para warga pihaknya berhasil menyulap kampung kumuh menjadi Kampung Wisata Edukasi yang dikenal banyak orang.

Diceritakan, awal mula berdiri Kampung Tahu Bablan Lor adanya gagasan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Margo Mulyo Desa Babalan Lor tahun 2007 silam. “Dulu tahun 2013 kami mendapat penawaran PLBK yaitu Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas, kami ajukan dan alhamdulillah lolos kemudian mendapat bantuan dana sebesar 1 Milyar,” terangnya.

Salah seorang warga Desa Babalan Lor sekaligus pendamping Kampung Tahu Babalan Lor, Siti Mu’arofah, menuturkan, kini kesadaran masyarakat sekitar Kampung Tahu kian meningkat. “Masyarakat sekarang semakin kooperatif, kami bisa seperti ini juga tentunya karena kerjasama yang baik antar semua komponen mulai dari pengelola, pemerintah desa, dan masyarakat yang ikut andil disini,” ujarnya.

Tiap kali kunjungan tiba masyarakat dengan penuh kesadaran menggelar kerja bakti dan kebersihan lingkungan untuk menyambut kedatangan para wisatawan. “Jadi setiap kunjungan, per orang kami kenakan tarif Rp 20.000. Itu sudah termasuk dengan paket kegiatan yang kami fasilitasi, antara lain outbound, belajar tentang pengolahan tahu, belajar mengenal pemanfaatan biogas atau limbah tahu yang kami ubah menjadi gas, belajar menanam kedelai, belajar membuat kerajinan sampah tahu, dan juga membuat makanan atau minuman berbahan dasar tahu misalnya es kopyor tahu,” terangnya.

Tak hanya itu, para wisatawan juga akan diberikan oleh-oleh berupa jajan serta makanan hasil olahan tahu yang dibuat oleh masyarakat Desa Babalan Lor, Kecamatan Bojong.

Hingga kini, pihaknya ingin terus konsisten menjaga Kampung Tahu Babalan Lor agar semakin berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas. Beberapa tahun kedepan para pengelola dan penggagas Kampung Tahu ingin membuat aliran sungai yang dimanfaatkan sebagai salah satu objek wisata bagi para wisatawan saat berkeliling melihat keelokan Kampung Tahu Babalan Lor ini. Namun diungkap, hal tersebut perlu adanya dukungan dari beberapa pihak utamanya para pemangku kepentingan untuk turut serta mendukung gagasan tersebut. “Cita-cita kedepan, kami ingin membuat Kampung Tahu Go International. Tidak hanya dikenal oleh wisatawan lokal saja melainkan juga wisatawan mancanegara,” pungkasnya. (*)

Penulis: Eka Isditya | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments