Lain-lain

Waduh, Penderita Kaki Gajah di Kota Santri Ada 46 Jiwa

Waduh, Penderita Kaki Gajah di Kota Santri Ada 46 Jiwa

MINUM OBAT – Bupati Pekalongan bersama unsur Muspida, para Kepala OPD, para Camat serta para tamu undangan dan para pelajar minum obat secara bersama-sama, dalam acara POPM tahap 4, di Wonopringgo, kemarin.
MUHAMMAD HADIYAN

KAJEN – Memutus penyebaran penyakit filariasis atau kaki gajah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai program pencegahan dilakukan Pemkab Pekalongan agar penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut, tidak semakin meluas.

Sejak tahun 2010 hingga 2018 ini, sudah ditemukan 46 kasus kaki gajah di Kota Santri. Untuktu Pemda terus memasifkan program Pencanangan Minum Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) agar menjadi upaya yang betul-betul diketahui dan dilaksanakan oleh masyarakat untuk mencegah penyebaran filariasis.

Hal itu diungkapkan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, pada acara POPM Tahap 4 Tingkat Kabupaten Pekalongan, di Balai Desa Wonopringgo, Selasa (2/10)

Kata Bupati, dari 46 kasus ini terdapat di 9 Kecamatan dan desa endemis. Untuk itu pihaknya minta semua pihak untuk serius membebaskan Pekalongan dari kaki gajah. 46 kasus baginya itu terlalu banyak.

“Satu kasus kaki gajah ini saja, kita bisa membayangkan akan penderitaannya. Oleh karena itu, upaya ini menurut saya sangat luhur yang diikuti oleh para pemangku kepentingan bersama Pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk menjadikan wilayah Kabupaten Pekalongan ini betul-betul tereliminasi dari filariasis,” terang Asip.

Dijelaskan, kaki gajah adalah penyakit yang secara medis penyembuhannya lama, kemudian proses terjadinya penyakit juga butuh 5 sampai 10 tahun. Dimana awalnya tidak terasa, yakni ditandai dengan demam tidak turun-turun.

Bupati mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama mengikuti perkembangan tentang filariasis di Kabupaten Pekalongan, termasuk pasien yang sudah diindikasikan menderita penyakit Kaki Gajah. Tetapi apa yang kita lakukan hari ini, kata dia, adalah jawaban bahwa kalau Allah menurunkan penyakit pasti memberikan obatnya dan Pemerintah harus berada di garda terdepan. Sebab Pemerintah mempunyai fungsi sebagai fasilitator dan menciptakan regulasi (regulator).

“Kita dorong seluruh masyarakat untuk sadar dan tahu tentang bagaimana mendeteksi penyakit Kaki Gajah (filariasis). Masyarakat diberikan pemahaman biar melek atau paham dulu. Program itu akan berhasil ketika di tingkat pemahamannya itu bagus,” ujar Bupati.

Dijelaskan Bupati penyakit Kaki Gajah ini adalah salah satu penyakit yang masuk kategori membahayakan. Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk, sehingga tidak mengenal wilayah maupun golongan atau kasta sosial.

“Siapapun dapat terkena penyakit ini. Tetapi kita tidak boleh putus asa apalagi pesimis. Kita berikan pemahaman-pemahaman tentang bagaimana kita menyikapi akan musibah ini kepada keluarga kita semua,” terangnya.

Program Minum Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) menjadi program prioritas nasional. Untuk itu, kita akan bersama-sama berikhtiar dalam melakukan eliminasi filariasis. “Intinya bahwa setelah kita launching bersama, kita semua harus minum obat ini. Bagi masyarakat yang ada di rumah, petugas kesehatan wajib mendatangi mereka untuk diberikan obat. Para pengurus organisasi masyarakat seperti Muslimat NU, Aisyiyah dan lain sebagainya wajib menginformasikan kepada anggotanya,” harap Bupati.

Bupati mendorong agar seluruh warga masyarakat Kabupaten Pekalongan untuk minum obat filariasis sebagai bentuk ikhtiar. Kepada para kader silahkan menginformasikan kepada seluruh warga. Hal ini agar bulan eliminasi filariasis yang biasanya dimulai bulan Oktober di Kabupaten Pekalongan ini bisa berhasil.

“Ayo sosialisasikan secara masif di balai-balai desa, di pos-pos kesehatan, di sekolah, di posyandu, di forum-forum keagamaan dan seluruh pihak yang bertanggungjawab bahwa ketika kita berikhtiar untuk menyehatkan sesama adalah bagian dari ibadah kita. Agama kita memerintahkan agar kita lebih bermanfaat untuk orang lain,” ajak Bupati.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Kesehatan – Setiawan Dwi Antoro menuturkan pelaksanaan pencanangan minum obat filariasis dimulai tanggal 2 Oktober dan berlangsung selama satu bulan dan dilakukan serentak. Dengan jumlah sasaran 876.427 orang pada rentang usia 2 hingga 70 tahun.

“Jumlah pos minum obat yang disediakan sebanyak 2.300 pos yang tersebar di 285 desa dan sekolah ditingkat PAUD/TK,” katanya.

Menurut Setiawan, ada 46 kasus kaki gajah yang ditemukan di sembilan kecamatan diantaranya kecamatan Wiradesa, Tirto, Buaran, Bojong, Petungkriyono, Kandangserang, Paninggaran, Wonopringgo dan Kedungwuni. “Namun berdasarkan hasil survei darah jadi atau (SDJ) yang dilakukan pada bulan April dan agustus oleh Tim Kementerian RI kabupaten Pekalongan dinyatakan negatif microfilaria,” tandasnya.

Sebagai tanda pencanangan pencegahan massal filariasis, dalam kesempatan itu, Bupati bersama unsur Muspida, para Kepala OPD, para Camat serta para tamu undangan dan para pelajar minum obat secara bersama-sama. (yan)

Penulis: Muhammad Hadiyan | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments