Renungan Jum'at

Kisah Pemakaman Rasulullah SAW

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

KH Anang Rikza Masyhadi MA, Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah

Beberapa minggu sebelum Rasulullah SAW wafat, Aisyah RA seperti telah mendapat firasat. Sebagaimana diriwayatkan dari Yahya bin Said RA bahwa Aisyah RA isteri Nabi SAW berkata: “Aku melihat dalam mimpi ada tiga rembulan jatuh di kamarku, kemudian aku ceritakan kepada bapakku, Abu Bakar.” Ketika Rasulullah SAW wafat, jasad Beliau dimakamkan di kamar Aisyah RA, maka Abu Bakar RA berkata: “Ia adalah salah satu dari ketiga rembulan itu, dan ini yang terbaik.”

Rasulullah SAW wafat pada hari Senin dan dimakamkan pada hari Selasa sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik. Satu per satu orang menshalati jenazahnya tanpa seorang imam pun. Artinya shalat jenazah atas Rasul tidak dilakuan berjamaah sebagaimana lazimnya, namun dilakukan sendiri-sendiri. Konon, tidak ada seorang sahabat pun yang sanggup menjadi imam shalat jenazah atas Rasul SAW.

Sebelum prosesi pemakaman, terjadi sedikit perdebatan di kalangan pemuka sahabat. Ada yang menyarankan agar Rasul SAW dimakamkan di mimbar, tempat dimana Rasulullah biasa memberikan khutbah dan menyampaikan pesan-pesan penting. Ada pula yang menyarankannya di Baqi, sebuah pemakaman umum dimana para sahabat dan kaum muslimin dimakamkan di situ. Ada pula yang menyarankannya di mihrab, tempat Rasulullah biasa mengimami shalat.

Perdebatan tersebut hampir meruncing sebelum datangnya Abu Bakar As-Shiddiq RA, namun menjadi reda setelah sahabat terdekat Nabi itu datang. “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tak seorang nabi pun yang meninggal dunia kecuali dimakamkan di tempat dia meninggal,” demikian Abu Bakar RA menyampaikan apa yang didengarnya dari Rasul SAW di hadapan seluruh para sahabat yang hadir waktu itu.

Setelah Abu Bakar RA mengingatkan dengan sabda Rasul tersebut, maka meredalah perdebatan para sahabat itu, seolah-olah mereka tak menyadarinya. Dan akhirnya semua sepakat Rasulullah SAW dimakamkan di tempat meninggalnya, yaitu di kamar Aisyah RA.

Di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik disebutkan bahwa ketika beberapa sahabat dan keluarga terdekat hendak melepas pakaian Rasul untuk memandikan jenazahnya, tiba-tiba terdengar suara: “jangan dilepas”, maka dimandikanlah jasad Rasul bersama pakaiannya.

Demikianlah sekilas kisah dibalik pemakaman manusia paling mulia di sisi Allah, Muhammad SAW. Bagaimanakah dengan kisah pemakaman kedua sahabat Rasul lainnya, yaitu Abu Bakar As-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA, yang makamnya berada tepat di sisi Rasul?

Kisah pemakaman Abu Bakar RA diceritakan oleh sebuah riwayat dari Said bin Urwah RA dan Qasim bin Muhammad RA, sebagaimana dimuat dalam kitab At-Thobaqaatul Kubro”. Keduanya berkata: “Abu Bakar memberikan wasiat kepada Aisyah agar ia dimakamkan di samping Rasulullah SAW, maka ketika ajalnya tiba dibuatkanlah sebuah liang lahad di samping Rasulullah, dan posisi kepala beliau (Abu Bakar) sejajar dengan pundak Rasulullah. ”

Maka, hingga saat itu kamar Aisyah ditempati oleh kedua orang yang sangat dicintainya, yaitu Rasulullah SAW yang tak lain adalah suaminya, dan Abu Bakar RA yang merupakan bapak kandungnya.

Sedangkan Umar bin Khattab RA pulang ke rahmat Ilahi dengan cara yang pernah ia harapkan melalui doanya. Dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah menjanjikan bagi seorang yang meninggal di Madinah, maka akan mendapatkan persaksiannya. Maka Umar pun berdoa: “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan syahid di jalan-Mu, di bumi Rasul-Mu.”

Sebelum wafatnya, Umar bin Khattab RA mengutus puteranya, Abdullah bin Umar RA untuk menemui Aisyah RA. “Pergilah kepada Ummul Mukminin, Aisyah RA dan sampaikanlah salamku kepadanya, kemudian mintalah izin kepadanya agar saat meninggalku nanti aku dapat dimakamkan bersama kedua sahabatku (Rasulullah & Abu Bakar)” perintah Umar kepada puteranya itu.

Setelah mendengar pesan Umar yang disampaikan puteranya itu, lalu Aisyah menjawab: “Awalnya aku menginginkan tempat itu, tetapi hari ini aku berikan kepadanya.” Alhasil, Abdullah bin Umar pun kembali kepada Umar bin Khattab dengan membawa berita gembira. “Bagaimana hasilnya?” tanya Umar kepada Abdullah bin Umar. Kemudian dijawabnya: “Aisyah telah memberikan izin kepadamu wahai Amirul Mukminin.” Maka, Umar pun menimpalinya: “Tempat itulah yang paling penting bagiku.”

Disamping makam Rasul dan kedua sahabatnya itu, sebetulnya masih terdapat satu tempat kosong lagi yang bisa digunakan untuk makam seseorang. Aisyah sendiri pernah menawarkan tempat kosong itu kepada Abdurrahman bin Auf RA, namun ia menolaknya karena jika tawaran itu diterima maka akan mempersempit rumah Aisyah. Sebaliknya, justru para sahabat malah menawarkannya kepada Aisyah tetapi Aisyah menolaknya. “Kuburkan aku bersama sahabat-sahabatku di Baqi'”, kata Aisyah RA.

Beberapa ulama menerangkan bahwa sebenarnya ruang kosong itu diperuntukkan bagi Nabi Isa AS. Pendapat ini berdasarkan pada sebuah riwayat dari Abdullah bin Salam, dia berkata: “Pada Kitab Taurat tertulis sifat-sifat Muhammad SAW, dan bahwasanya Isa AS akan dikuburkan bersamanya.” Imam Turmudzi menyatakan bahwa hadis riwayat Abdullah bin Salam itu derajatnya hasan gharib. Wallahu a’lam. (*)

Facebook Comments