Radar Kajen

Sebar Virus Membaca, Pemuda Lolong Rintis Perpusdes

FAKHRUN NISA
BELAJAR – Anggota Perpusdes Atap Welit belajar bersama di alam terbuka.

Ketergantungan anak terhadap gadget membuat resah sebagian pemuda Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar. Hal itulah yang mendasar sekelompok pemuda untuk membuat sebuah taman baca yang kemudian dinamakan Perpustakaan Desa (Perpusdes) Atap Welit. Perpusdes tersebut menyelenggarakan berbagai kegiatan literasi bagi anak-anak di Lolong untuk belajar dan menyebarkan virus membaca. Seperti apa?

Fakhrun Nisa, Karanganyar

Kedatangan mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, menjadi angin segar bagi pemuda sekitar. Pasalnya, beberapa program mahasiswa KKN dirasa membantu para pemuda dalam membawa perubahan di desanya, diantaranya program pengadaan taman baca. Hal itulah yang dirasakan oleh Umriyah Fathimah Azzahra, salah seorang pemuda yang menggagas pendirian Perpusdes Atap Welit.

Diceritakan, bersama mahasiswa KKN dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Umriyah dan kawan-kawan mulai membentuk kepengurusan perpusdes pada akhir tahun 2017. Setelah berjalan beberapa lama, kegiatan Perpusdes Atep Welit semakin meredup seiring kepulangan mahasiswa KKN. Baru pada awal tahun 2018, ketika mahasiswa KKN dari Universitas Pekalongan (Unikal) datang, geliat Perpusdes Atep Welit kembali dirasakan.

“Kami sudah lama ingin membuat taman baca, karena anak-anak di sini sudah sangat tergantung pada gadget. Anak-anak SD sering main di sekolah untuk pakai wifi, bahkan sampai malam. Maka ketika ada mahasiswa KKN yang datang kami merasa senang, terutama karena program mereka sejalan dengan kami. Yang awalnya taman baca akhirnya kami jadikan perpusdes karena tujuannya sama, untuk menyebarkan virus membaca ,” ujar Umriyah, selaku Pembina Perpusdes Atep Welit.

Selain mengadakan peminjaman buku, Perpusdes Atap Welit juga mengadakan kegiatan lain, diantaranya belajar bahasa Inggris, membaca dan menulis, bimbingan belajar, menanam pohon, serta memperkenalkan pahlawan, lagu nasional, dan permainan tradisional. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap Jumat dengan tema berbeda setiap minggu. Anggota perpusdes juga rajin mengadakan sosial di masyarakat, antara lain pembagian sedekah parcel lebaran dan santunan anak yatim 10 Muharram.

Menurut penuturan Umriyah, sekolah-sekolah di sekitar perpusdes belum mempunyai perpustakaan sekolah, sehingga kehadiran perpusdes menjadi sangat bermanfaat. Beberapa kali pihak sekolah mengajak kerja sama perpusdes untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan literasi. Perpusdes Atap Welit kini tengah mencoba untuk menjalin kerja sama dengan pihak pemerintahan desa dan kecamatan.

“Desa Lolong ini kan masih asri, kami ingin anak-anak juga mendapatkan kegiatan yang bermanfaat. Sekarang kami masih perintisan dan membutuhkan dukungan dari desa dan kecamatan juga. Beberapa kali kami mengadakan studi banding ke taman baca di Kedungwuni dan di tempat lain untuk belajar,” imbuhnya.

Perintisan sebuah perpusdes membutuhkan pengorbanan dan dedikasi tinggi. Diakui Umriyah, hingga kini Perpusdes Atap Welit masih menemui banyak kendala, diantaranya ketiadaan tempat sekretariat. Sementara ini, koleksi buku ditempatkan di rumah Umriyah, sedangkan kegiatan diadakan di berbagai tempat menyesuaikan tema. Selain itu, kesibukan masing-masing anggota juga menjadi kendala dalam melaksakan kegiatan rutin setiap Jumat.

“Untuk mengganti kegiatan rutin setiap Jumat kami tengah merancang program bimbel bagi anak-anak. Perpusdes tetap melayani peminjaman buku, tetapi untuk kegiatan tambahan kami adakan bimbel. Kegiatan rutin tiap Jumat tetap diusahakan meskipun mungkin tidak rutin, yang penting tetap bermanfaat bagi masyarakat,” lanjutnya.

Perpusdes Atap Welit memanfaatkan media sosial dalam membangun relasi dengan dunia luar. Berkat itu, Perpusdes Atap Welit beberapa kali mendapatkan donasi buku dari relawan dan komunitas di luar Pekalongan. Kini, koleksi buku di Perpusdes Atap Welit sudah beragam, mulai dari buku anak-anak hingga buku bidang ilmu umum. (run)

Facebook Comments