Radar Batang

Perlindungan Pekerja Perempuan Masih Rendah

Perlindungan Pekerja Perempuan

TERANGKAN – Dekan FKM Undip, Hanifa Maher Denny SKM MPH PhD saat menjadi pemateri dalam Sosialisasi dan Advokasi Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif, Selasa (2/10), di aula PMI Kabupaten Batang.
NOVIA ROCHMAWATI

BATANG – Jumlah pekerja perempuan seiring waktu kian meningkat, baik di sektor pemerintah, maupun bidang lainnya. Sayangnya, belum semua tempat kerja memberikan perlindungan yang memadai untuk kaum perempuan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang berharap adanya perlindungan kepada pekerja perempuan. utamanya agar mendapatkan fasilitas kerja yang sehat dan melindungi hak-hak perempuan.

Oleh karenanya, Dinkes Batang menggandeng instansi terkait dalam Sosialisasi dan Advokasi Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif (GP2SP) di Aula Kantor PMI Batang, Selasa (2/10). Hadir dalam kegiatan tersebut, Dekan FKM Undip, Hanifa Maher Denny SKM MPH PhD. Menurutnya, pekerja perempuan perlu mendapatkan perlindungan, karena mereka memiliki peran ganda. Mengurus rumah tangga dan juga bekerja. Mereka juga masih merasakan sakitnya menstruasi setiap bulan, dan ada juga yang mengandung ketika bekerja, padahal beban kerja mereka juga sama dengan kaum adam.

“Jadi kami harap Kabupaten Batang ini menjadi salah satu Kabupaten yang peduli terhadap pekerja perempuan. Karena perlindungan perempuan ini sangat penting. Perempuan butuh hak-haknya dipenuhi. Seperti dengan penyediaan bilik laktasi, kebersihan toilet, pendidikan terkait gizi, dan juga adanya Kawasan Tanpa Rokok yang dapat mengurangi resiko gangguan perkembangan janin pada pekerja perempuan yang sedang hamil,” terang perempuan asal Magelang ini.

Dengan adanya sosialisasi itu, Hanifa berharap Batang juga dapat menjadi contoh untuk kabupaten dan kota sekitarnya untuk lebih peduli pada perlindungan pekerja perempuan. Pihaknya juga mengapresiasi adanya program Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Batang. Program KTR ini diharapnya bisa menjadi awal perhatian pemkab Batang untuk melindungi pekerja perempuan. Program tersebut bisa menyadarkan perokok untuk tidak egois dan lebih menghargai pekerja lain.

“Kawasan Tanpa Rokok itu sangat perlu. Karena kalau wanita hamil terpapar rokok, dapat membuat daya tahan anak yang sedang dalam kandungan itu turun. Dan juga bisa mengalami gangguan kesehatan lainnya. Salah satunya infeksi telinga yang menyebabkan keluarnya cairan dari lubang telinga. Harapan kami setelah ini Batang bisa jadi contoh, tidak hanya rumah saja yang sehat tapi juga lingkungan dan kantor yang sehat, sehingga Batang bisa menjadi percontohan Kabupaten yang sehat,” harap Hanifa.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Kesmas Dinkes Batang, Dra Sri Eprileni APt menerangkan, GP2SP ini menjadi salah satu program Kemenkes untuk melindungi pekerja perempuan. Pihaknya berharap setelah adanya sosialisasi ini banyak kebijakan terkait perlindungan kesehatan perempuan yang bisa diberikan Pemkab Batang.

Dalam sosialisasi tersebut, Dinkes mengundang 66 instansi terkait. Baik dari OPD Kabupaten Batang, dan juga perwakilan sekolah di Kabupaten Batang.

“Belum semua sektor di Kabupaten Batang ini memberikan perlindungan yang memadai bagi pekerja perempuan. Salah satu yang cukup vital adalah belum semua instansi memiliki bilik laktasi. Dan terkadang pekerja menyusui harus melakukan pemerahan ASI di kamar mandi. Padahal kamar mandi juga belum tentu bersih dan rentan kontaminasi bakteri dan kuman. Sehingga kami harap setelah ini banyak sektor yang lebih epduli pada pekerja perempuan, khususnya dalam kesehatan pekerja perempuan,” tandasnya. (nov)

Facebook Comments