Lain-lain

Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Tingkat Pengangguran Kabupaten Pekalongan

Sri Mulyati

Sri Mulyati

Pembangunan ekonomi telah dijalankan oleh seluruh pemerintah daerah di Indonesia. Pembangunan ekonomi tidak hanya meningkatkan pendapatan per kapita suatu daerah, tetapi peningkatan kesejahteraan masyarakat dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan politik. Kondisi ekonomi Kabupaten Pekalongan dapat diketahui melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yaitu salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan (BI, 2017). Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Pekalongan Periode 2011-2017 dapat dilihat pada diagram sebagai berikut:

Tabel 1
Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Pekalongan
Periode 2011-2017

Berdasarkan Laju Pertumbuhan PDRB di Kabupaten Pekalongan Periode 2011-2017 diketahui bahwa PRDB tertinggi pada tahun 2013 sebesar 5,99% dan terendah pada tahun 2015 sebesar 4,78%. Pada tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah mampu meningkatkan laju pertumbuhan PDRB sebesar 5,28%, peningkatan PDRB ini diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan terhadap masyarakat pekalongan. Namun di satu sisi pertumbuhan tersebut masih diikuti angka inflasi yang cukup tinggi yaitu 4,01%. Hal ini tentunya akan mengurangi kualitas dari pertumbuhan tersebut. Kondisi tersebut sesuai dengan konsensus umum yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan sebesar 2,5-3,5% per tahun menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup untuk memberikan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan keuntungan, namun belum cukup aman terhadap inflasi.

Laju pertumbuhan ekonomi atau PDRB Kabupaten Pekalongan tahun 2013 merupakan laju pertumbuhan tertinggi yang mencapai 5,99%, yang artinya dalam memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah cukup berhasil, namun pemerintah tidak dapat menekan inflasi karena pada waktu bersamaan tingkat inflasi di Kabupaten Pekalongan sebesar 8,18%. Inflasi merupakan sebuah keadaan perekonomian yang menunjukan adanya kecenderungan kenaikan tingkat harga secara umum (price level) dan bersifat secara terus-menerus. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya arus barang dan arus uang yang disebabkan oleh berbagai faktor. Inflasi juga merupakan salah satu indikator penting dalam menganalisis perekonomian selain pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, dan ekspor-impor. Berdasarkan data BPS Kabupaten Pekalongan inflasi pada tahun 2011-2017 dapat dilihat pada diagram sebagai berikut:

Tabel 2
Inflasi Kabupaten Pekalongan
Periode 2011-2017

Berdasarkan tabel inflasi di Kabupaten Pekalongan Periode 2011-2017 menunjukkan bahwa inflasi terbesar terjadi pada tahun 2014 sebesar 8,32%, namun inflasi di Kabupaten Pekalongan dalam periode 2011-2017 masih dalam katagori inflasi merayap yaitu kenaikan harga relatif lambat dalam jangka waktu lama dengan persentase di bawah 10%.

Inflasi dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang tinggi akan menurunkan laju pertumbuhan ekonomi sehingga berkurang terhadap permintaan tenaga kerja. Berdasarkan data BPS diketahui tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kabupaten Pekalongan Periode 2011-2017 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3
Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Pekalongan
Periode 2011-2017

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa trend tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Pekalongan periode 2011-2017 cenderung mengalami penurunan. Tingkat pengangguran terbuka tertinggi pada tahun 2011 sebesar 6,91% dan terendah pada tahun 2017 sebesar 4,39%. Pengurangan tingkat pengangguran terbuka dapat dilakukan dengan penciptaan lapangan kerja dan perluasan penyerapan tenaga kerja. Perluasan penyerapan tenaga kerja diperlukan untuk mengimbangi laju pertumbuhan penduduk usia muda yang masuk ke pasar tenaga kerja. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan angkatan kerja dan penciptaan lapangan kerja akan menyebabkan tingginya angka pengangguran. (*)

Facebook Comments