Radar Jateng

Lagi, Karyawan SPBU Dibacok Begal, Uang Rp10 Juta Raib

Lagi, Karyawan SPBU Dibacok Begal, Uang Rp10 Juta Raib

DIRAWAT – Korban begal, Pipin Rima Intisari, 37 tengah dirawat tim medis RS Mitra Siaga Tegal.
AGUS/RATEG

TEGAL – Tampaknya Kota Tegal kini layak disebut Darurat Begal. Betapa tidak, setelah dua kejadian pada Sabtu (29/9), aksi begal yang sadis kembali terjadi. Kali ini, seorang karyawati SPBU yang akan menyetorkan uang ke Pertamina dibegal saat berada di lampu merah Martoloyo, Tegal Timur, Senin (1/10), sekitar pukul 09.30.

Dari informasi yang dihimpun, sekitar pukul 09.30, korban Pipin Rima Intisari, 37, warga RT 07/06, Surakarta, bersama dengan rekannya yang merupakan karyawan SPBU Kramat, Janus Nur Tandya Asmara, 52, menaiki sepeda motor Vario melalui jalur Pantura. Sesuai rencana, mereka hendak menuju ke Pertamina untuk bisa melakukan pembayaran.

Namun, saat memasuki wilayah Pantura Kota Tegal, laju motornya terhenti saat berada di lampu merah Martoloyo. Sialnya, baru 30 detik terhenti, tiba-tiba datang seseorang membawa parang yang langsung menyerobot tas yang berisikan uang Rp 10 juta dan dua ponsel.

Merasa terancam, Pipin berusaha melawan dan berteriak meminta tolong. Namun, perlawanan itu membuat pelaku begal bertindak sadis. Pelaku menyabetkan parang ke tangan wanita yang saat itu berkaos merah. Berhasil memperdaya korban, begal yang diperkirakan berjumlah empat orang, dengan dua sepeda motor itu langsung tancap gas menuju arah Jalan Perintis Kemerdekaan.

“Saya juga kaget saat melihat ada seseorang yang turun dari motor dan memegang parang. Kemudian, orang itu langsung menyerobot tas yang tengah dipegang seorang wanita yang membonceng motor. Kemudian, begal itu menyabetkan parang ke tangan perempuan itu,” terang Ari, saksi mata yang di tempat kejadian perkara (TKP) kemarin.

Pria yang setiap harinya berjualan minuman di Jalan Martoloyo itu tak bisa berbuat banyak. Sebab, pelaku yang diperkirakan berjumlah empat orang mengendarai dua sepeda motor.

Hal yang sama juga dikatakan tukang becak, Daryono. Dia menyebutkan, tidak ada orang yang membantu lantaran takut. Sebab, begal itu menggunakan parang. Terlebih saat begal itu membacok seorang perempuan.

Sementara itu, Pipin langsung dilarikan ke RS Mitra Siaga Tegal. Saat ditemui Radar, dia menuturkan bahwa pelaku datang dari belakang sebelah kiri. Saat begal merebut tasnya, dirinya berusaha mempertahankan tapi justru langsung dibacok. “Pelaku begal berjumlah empat orang dan menggunakan sepeda motor matic. Saya juga tidak mengenali wajah pelaku karena tertutup helm. Pelaku juga langsung kabur usai mendapatkan tas,” jelasnya.

Menurut dia, di lokasi kejadian tersebut sedang ramai, karena kendaraan sedang berhenti di lampu merah. Namun, tidak ada yang berani menolong atau mengejar pelaku. Termasuk, rekannya yang ikut takut dan gemetar. Terlebih ketika melihat darah kucuran dari tangannya. “Sejak keluar dari SPBU, saya merasa tidak ada yang membuntuti. Teman saya juga tidak melihat ada yang membuntuti pas lihat spion,” bebernya.

Sementara kabar kembalinya aksi begal membuat Tim Resmob datang ke TKP. Namun, polisi berpakaian preman itu kalah cepat dengan aksi begal. Di TKP, polisi hanya bisa mendapatkan keterangan dari para saksi.

Ya, kembalinya aksi begal yang beruntun inipun langsung beredar luas. Sejumlah pesan di media sosial (medsos) langsung menyebar. Termasuk kewaspadaan masyarakat untuk lebih hati-hati saat membawa uang banyak. Terlebih, belum lama ini masyarakat Kota Tegal juga digegerkan dengan aksi begal di dua TKP, yakni di Perumahan Arum Indah Tegal Selatan dan di Jalan Asem Tiga Kraton Tegal Barat, yang menewaskan seorang warga setempat saat hendak menolong korban. Begitu pula dengan kejadian di SPBU Krandon Margadana, yang terjadi pada 17 September 2018.

“Ini harus cepat segera ditangani. Karena sepanjang kejadian begal di Kota Tegal, belum ada yang terungkap. Sementara sudah banyak kejadian korban begal. Karena itu, banyaknya kejadian ini, pantas Tegal dinamakan Darurat Begal,” beber praktisi hokum, Triyanto Patrioko SH.

Pria yang akrab disapa Koko ini menilai, polisi harus bekerja ekstra keras untuk bisa menjawab keresahan yang selama ini dialami oleh masyarakat. Sebab, serentetan kejadian begal di sepanjang 2018 sudah lima kali terjadi. Belum lagi, di tahun sebelumnya, yakni 2017, 2016, 2015, dan 2014 yang hingga kini para pelakunya belum ada yang tertangkap.

“Kalau ini tidak diungkap secara maksimal, Kota Tegal akan menjadi ‘lahan surga’ bagi para pelaku kejahatan, khususnya para pebegal. Sebab, diyakini mereka (komplotan begal) merasa nyaman dan mudah untuk mendapatkan targetnya. Apalagi, masyarakat takut untuk membantu korban. Sehingga, begal merasa di titik aman saat beraksi di Kota Tegal,” tegasnya.

Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly Arianto SIK, didampingi Waka Polres Kompol Pri Haryadi saat dikonfirmasi mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk segera mengungkap dalang maupun pelaku begal sadis. Bahkan, Waka Polres memberikan peringatan keras kepada Tim Buser, jika tidak berhasil mengungkapnya akan dihadiahi daster.

“Kepada semua anggota jika berhasil menangkap begal, kami beri hadiah Rp 10 juta. Demikian dengan warga yang memberikan informasi, kami memberikan hadiah sama yakni Rp 10 juta,” tegasnya. (gus/fat)

Facebook Comments