Nasional

Cari Keluarganya Pascagempa, Warga Gunakan Alat Seadanya, Salah Satunya Endusan Bau Mayat

Cari Keluarganya Pascagempa, Warga Gunakan Alat Seadanya, Salah Satunya Endusan Bau Mayat

MEMERIKSA JENASAH – Sejumlah warga memeriksa jenazah yang ditemukan di sekitar pesisir pantai jalan Raja Moili Palu Timur, Palu.
Istimewa

Pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, menyisakan cerita pilu bagi warga. Banyak warga yang terus berjuang mencari anggota keluarganya yang belum ditemukan. Seperti apa?

Getaran gempa yang cukup besar mengakibatkan sejumlah bangunan seperti rumah, ruko dan tempat ibadah di wilayah tersebut roboh. Bahkan, akibat gempa tersebut, muncul tsunami dengan ketinggian 1,5 meter di Pantai Talise dan menerjang bangunan di sekitarnya.

Pemandangan memprihatinkan wilayah Palu setelah dilanda gempa dan diterjang tsunami terlihat dari udara. Pada foto-foto yang beredar di jejaring sosial, terlihat wilayah itu luluh lantak.

Banyak warga yang terus berjuang mencari anggota keluarganya yang belum ditemukan. Salah seorang warga Palu, Afdal, mengatakan saat ini warga hanya mengandalkan alat seadanya untuk mencari anggota keluarganya. Bahkan, ada warga yang merujuk bau menyengat yang diduga mayat dari reruntuhan puing bangunan akibat gempa.

“Seadanya kita ini dengan alat sederhana. Lihat saja sendiri, bantuan minim. Kita juga lihat yang bau menyengat dari bangunan-bangunan runtuh,” kata Afdal.

Afdal menceritakan dirinya juga saat ini masih mencari lima anggota keluarganya yang belum ditemukan. Salah seorang di antaranya merupakan keponakan yang masih berusia dua tahun. “Dari keluarga itu sementara lima orang. Ada keponakan umur dua tahun. Tante saya sudah ditemukan 200 meter dari rumahnya. Tapi, sudah jadi mayat,” jelas Afdal.

Kemudian, ia kembali menceritakan peristiwa gempa yang mencekam pada Jumat sore, 28 September 2018. Ia bilang, gempa tersebut bertepatan dengan warga saat ingin salat Maghrib. Namun, tak lama berselang suaraair bergelombang tsunami langsung meluluhlantakan rumah-rumah di dekat pantai.

“Itu saya langsung ajak tiga anak saya lari ke luar rumah. Rumah saya hanya 150 meter dari pinggir pantai,” tutur Afdal.

**744 Jenazah Palu Teridentifikasi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sebanyak 744 korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, telah teridentifikasi. Jumlah tersebut berdasarkan data BNPB hingga Senin (1/10) siang.

“Data yang ditemukan dan diidentifikasi jumlah korban tewas sebanyak 744 orang sampai pukul 13.00 WIB hari ini,” kata Kepala Humas dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat konferensi pers di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Senin (1/10).

Sutopo menjelaskan, jumlah korban tewas masih sangat mungkin bertambah mengingat proses evakuasi masih terus dilakukan. Sutopo juga mengatakan, saat ini membutuhkan lebih banyak alat berat untuk mengevakuasi korban. Lebih dari itu, proses evakuasi dan pencarian tidak mudah karena sulitnya akses, terputusnya komunikasi, hingga mati listrik. “Kita membutuhkan alat berat dengan jumlah banyak. Kondisi listrik di sana juga masih padam, kalau malam gelap gulita, kesulitan proses evakuasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Sutopo menambahkan, wilayah yang terdampak gempa dan tsunami terbilang luas. Sementara, sumberdaya yang ada sangat terbatas. Karena itu, hingga saat ini pemerintah terus mengupayakan penambahan personel gabungan dibantu oleh para relawan.

Sedangkan jumlah korban meninggal paling banyak kata Sutopo berada di Palu, yakni sebanyak 821 orang. Dan sebanyak 744 jenazah di antaranya sudah teridentifikasi. Lalu, di wilayah Parigi Moutong ada 12 orang meninggal dan di Donggala 11 orang meninggal. “Dari wilayah Sigi belum dapat informasi,” terangnya.

Sutopo menekankan bahwa data ini adalah data sementara. Menurutnya, kemungkinan jumlah korban bisa bertambah. Ia menjelaskan, korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan setelah gempa dan tersapu tsunami.

”Korban meninggal harus segera dimakamkan karena kondisinya sudah membusuk. Korban akan dimakamkan secara massal. Prosesi pemakanan akan dilakukan seperti ketika pemakaman massal korban gempa dan tsunami di Aceh dan erupsi Merapi,” paparnya. (AF/fin)

Facebook Comments