Metro Pekalongan

25 Komunitas Berkomitmen Suarakan Penanganan Rob

Komunitas Rob

TEMU KOMUNITAS – Kegiatan temu komunitas Pekalongan membahas penanganan rob dihadiri berbagai elemen. Kegiatan juga diisi pelatihan menulis dan fotografi sebagai bagian peningkatan kapasitas komunitas untuk menyuarakan penanganan rob.
M. AINUL ATHO

KOTA PEKALONGAN – Sekitar 25 komunitas di Pekalongan berkomitmen untuk terus menyuarakan persoalan rob yang masih terjadi di Kota Pekalongan. Ini menjadi bagian dari kontribusi yang ingin dilakukan elemen-elemen masyarakat dalam penanganan bencana rob yang sudah melanda Pekalongan lebih dari 10 tahun. Komitmen tersebut disampaikan dalam acara temu komunitas, pelatihan menulis serta fotografi di Kelurahan Bandengan, Minggu (30/9).

”Rob sampai saat ini terus mengancam Pekalongan. Sudah lebih dari 10 tahun terjadi di Pekalongan, namun belum juga tertangani. Untuk itu, seluruh komponen, termasuk komunitas harus membangun kepedulian untuk ikut terlibat dalam penanganan bencana rob,” ujar perwakilan komunitas Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Pekalongan., Sri Haryani Lestari.

Menurut dia, rob yang terjadi di Pekalongan sudah benar-benar mengkhawatirkan. Ini karena ada berbagai dampak yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar sembilan kelurahan yang terkena rob sejak tahun 2003. Seperti masyarakat terdampak rob yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian karena sawahnya terendam air, sarana pendidikan terganggu, sanitasi yang buruk, munculnya kerentanan penyakit akibat rob yang berkepanjangan sampai merembet pada kehidupan rumah tangga warga sekitar.

”Komunitas di Pekalongan harus bisa menyuarakan pada berbagai pihak bahwa rob benar-benar bencana serius yang harus ditangani. Termasuk melalui berbagai instrumen seperti tulisan, fotografi, film, ataupun media-media lainnya,” tegasnya.

Acara pelatihan menulis komunitas diisi Ki Ashad Kusumadjaya, penulis buku dari Jogjakarta dan Adrian Mulya, fotografer profesional dari Jakarta. Mereka memberikan materi-materi terkait penulisan dan fotografi dikontekskan dengan persoalan rob yang terjadi di Pekalongan. Sebelumnya juga sudah dilakukan pelatihan pembuatan film. Acara ini difasilitasi Lembaga Kemitraan bagi Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan.

Komunitas yang hadir seperti Akademi Berbagi, Komunitas Kali Loji, Komunitas Bara Air, Komunitas Fotografi Indonesia Wilayah Pekalongan, Komunitas Drone Pekalongan, Komunitas Insta Pekalongan, Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), Pekalongan Info, dan Komunitas Great Pekalongan. Ada juga Komunitas Genbi, Blogger, Perupa Pekalongan, Sketser, Karang Taruna, GP Ansor, Fatayat NU, HMI, Guru Belajar, komunitas film dan lainnya.

Beragam Cara

Perwakilan dari komunitas Akademi Berbagi (Akber) Pekalongan Alfida menambahkan, persoalan rob masih kalah dengan isu-isu lainnya seperti Pilpres atau kasus-kasus korupsi. Padahal rob menyentuh secara langsung kehidupan ribuan orang yang ada di Pekalongan. Karena itu, komunitas di Pekalongan harus bisa menjadi kekuatan besar untuk terlibat dalam menyuarakan penanganan rob.

”Untuk menyuarakan persoalan ini bisa melalui beragam cara. Seperti kalau generasi milenial melalui media sosial, film, seni dan lainnya. Isu rob selama ini masih kalah jauh dengan isu kecebong dan kampret di Pilpres misalnya. Ini tantangan bagi komunitas-komunitas di Pekalongan untuk bisa menyuarakan lebih kuat lagi,” tuturnya.

Sekretaris Kelurahan Bandengan Sri Setyaningsih mengapresiasi kegiatan yang digelar jejaring komunitas Pekalongan. Apalagi bersentuhan dengan permasalahan sosial yang dihadapi secara langsung oleh masyarakat. Kelurahan Bandengan sendiri merupakan salah satu daerah paling parah terdampak rob di Kota Pekalongan.

”Ini tentu sangat positif karena komunitas-komunitas aktif untuk berkontribusi dalam penanganan rob. Kami berharap melalui apa yang dilakukan bisa ikut untuk mendorong agar rob bisa tertangani secara maksimal. Ini karena dampak rob memang sangat luas di tengah masyarakat,” katanya. (nul)

Facebook Comments