Kesehatan

Hati-Hati, Patah Hati Bisa Sebabkan Kematian

Hati-Hati, Patah Hati Bisa Sebabkan Kematian (Kaspars-Grinvalds/123rf/klikdokter)

Siapa yang menginginkan patah hati terjadi dalam hidupnya? Tentu tidak ada. Namun patah hati ternyata sulit untuk dihindari. Rata-rata setiap remaja hingga orang dewasa pernah mengalami patah hati minimal satu kali dalam hidupnya. Buruknya lagi, sejumlah studi telah membuktikan bahwa patah hati dapat mencetuskan berbagai penyakit hingga sebabkan kematian.

Tak hanya patah hati, saat terjadi kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, atau didiagnosis penyakit berbahaya, Anda  pun akan merasakan rasa sedih yang teramat sangat. Ketika inilah Anda mungkin merasakan nyeri dada secara tiba-tiba. Dapat pula disertai sesak napas, jantung berdebar, dan lemas. Semua gejala ini mirip seperti serangan jantung.

Dalam dunia medis, keluhan-keluhan tersebut dikenal sebagai broken heart syndrome (BHS), atau Takotsubo cardiomyopathy. BHS merupakan perubahan kondisi jantung yang bersifat sementara.

Saat terjadi stres yang berlebihan, produksi hormon stres seperti adrenalin ikut meningkat. Akibatnya jantung mengalami pembengkakan pada sebagian area sehingga kesulitan untuk memompa darah. Bagian jantung lainnya yang masih normal dituntut untuk memompa darah lebih keras dari biasanya.

Jika dibiarkan, kondisi ini lama-kelamaan akan menyebabkan kerusakan yang permanen pada otot jantung dan berujung pada kegagalan fungsi jantung (gagal jantung). Tapi tenang saja. Jika ditangani dengan tepat, pada kebanyakan kasus kondisi BHS dapat sembuh dengan sendirinya setelah 1 minggu.

Membedakan BHS dengan serangan jantung

BHS dengan serangan jantung agak sulit untuk dibedakan. Serangan jantung terjadi akibat adanya sumbatan pada arteri yang memperdarahi jantung. Sumbatan dapat berupa plak ateroskelosis pada dinding arteri. Sedangkan pada broken heart syndrome, tidak terdapat sumbatan pada arteri namun aliran darah ke jantung mengalami penurunan.

Beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan guna menegakkan diagnosis BHS, yaitu dengan:

  1. Tes darah dan EKG. Tes darah untuk melihat adanya kerusakan pada jantung. Sedangkan EKG akan membedakan apakah kondisi ini disebabkan oleh BHS ataukah serangan jantung.
  2. Angiogram. Menunjukkan tidak adanya sumbatan pada arteri koroner seperti yang telah dijelaskan di atas.
  3. MRI scan. Pada hasil MRI akan terlihat gambaran bilik kiri jantung yang membesar (apical ballooning).

Selain adanya faktor pencetus berupa stres dan kesedihan, berikut adalah faktor risiko lain yang dapat memicu terjadinya BHS:

  • Jenis kelamin. Lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.
  • Usia. Lebih sering dan berisiko dialami mereka yang berusia di atas 50 tahun.
  • Riwayat kelainan saraf. Orang dengan riwayat cedera bagian kepala dan adanya riwayat kejang (epilepsi) lebih berisiko.
  • Riwayat kelainan psikis, seperti depresi dan kecemasan.

Untuk mencegah terjadinya BHS, Anda harus mampu mengontrol stres dan kesedihan Anda. Lakukan kegiatan yang positif dan bermanfaat, seperti menjalankan hobi, berkumpul bersama teman-teman dekat dan keluarga, berolahraga, berlibur sejenak, terapi relaksasi (meditasi, teknik pernapasan), dan sebagainya.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli kejiwaan atau psikiatri jika merasa tidak mampu mengatasi patah hati Anda yang berlarut-larut. Selain itu, jika mengalami nyeri dada yang mungkin merupakan tanda broken heart syndrome, segeralah periksakan diri ke dokter agar dapat ditangani dengan tepat dan cepat. (klikdokter)

Facebook Comments