Nasional

Awas Bahaya Provokasi PKI

Anti PKI

Anti PKI

*Tak Hanya Idelogi

JAKARTA – Bangsa Indonesia terutama generasi muda milenial harus tahu persis sejarah keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Terutama dua kali kudeta pengkhianatannya kepada NKRI serta kebiadabannya kepada umat beragama khususnya umat Islam dan para jendral korban gerakan G30 S PKI.

Jurubicara Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, Siane Indriani mengatakan antusiasme generasi muda Surabaya dalam menonton film tersebut luar biasa.

“Saya memang diundang oleh FKPPI acara nonton bareng semalam, memang sebagian besar anak-anak muda di Surabaya itu bagus ya,” kata Siane, Minggu (30/9).

Caleg Partai Gerindra Dapil Jawa Timur I ini pun mengingatkan akan bahaya laten PKI untuk generasi muda khususnya Surabaya dan Jawa Timur. Sebab, dari film tersebut bisa diambil sejarah akan kejamnya pemberontakan yang dilakukan partai berlambang palu arit itu.

“Film itu akan terus mengingatkan kita semua agar tidak melupakan sejara bahwa peristiwa itu ada. Luka itu terlalu dalam,” tegasnya.

Dia pun menekankan generasi muda agar tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang adu domba dengan mengklaim paling pancasila.

“Anak-anak milenial harus kritis, jangan menuduh orang lain tidak Pancasialis. Saya melihat 5 tahun ini ada kelompok yang mengkalim pihaknya paling Pancasila, itu adalah langkah adu domba yang menuduh kelompok lain tidak Pancasialis,” paparnya.

Anggota Komnas HAM periode 2012-2017 ini dikenal vokal mengkritik berbagai kasus-kasus pelanggaran HAM antara lain penggusuran, penganiayaan dan kriminalisasi yang seringkali menimpa masyarakat.

Termasuk penggusuran waduk Pluit di era Jokowi dan Ahok saat menjadi pemimpin DKI, reklamasi Teluk Jakarta dan Teluk Benoa Bali. Terakhir Siane juga menangani kasus kriminalisasi yang menimpa para ulama dan aktivis dalam gerakan 212.

Partai Gerindra menjadi pilihannya tidak lepas dari pengaruh Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia dikenal dekat dengan Gus Dur sejak menjabat sebagai Ketua PBNU, hingga saat-saat akhir menjelang Gus Dur meninggal dunia.

NOBAR

Tak hanya, Surabaya, Bandung dan Jakarta pun juga menggelar nonton bareng film penumpasan dan pengkhianatan G30S/PKI.

Bandung menggelar nonto bareng, Sabtu (29/9) malam lalu di halaman Masjid Darul Hikam, Dago yang juga dibarengi dengan acara diskusi bersama politisi Partai Gerindra Sodik Mudjahid.

Saat dikonfirmasi, Sodik Mudjahid mengatakan di luar soal ideologi komunis atheis, yang harus diwaspadai adalah prinsip dan pola kerjanya di mana tujuan (boleh) menghalalkan segala cara. “Maka agitasi, provokasi, dusta, hoax, fitnah, pemutarbalikan fakta, adu domba, persekusi dan aneka ragam kekerasan menjadi hal yang biasa,” katanya, Minggu (30/9).

Wakil Ketua Komisi VIII DPR ini pun mengajak semua elemen bangsa untuk tidak memberi ruang sedikitpun terhadap gerakan komunis di tanah air.

“Segala profesi semua elemen bersama TNI dan Polri yang menginginkan Indonesia aman, damai adil dan makmur lahir dan batin. Rapatkan barisan agar selalu waspada dan solid untuk tidak membuka ruang sedikitpun kepada faham komunis, terutama budaya tidak beradab yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang sekarang mewabah,” paparnya.

Dia juga menyerukan agar masyarakat tidak pernah memberi kesempatan untuk lahir dan berkembangnya pemerintah yang memberi angin kepada faham komunis di Indonesia.

“Pegang tauhidmu, jaga Pancasila yang sejati yakni Pancasila yang berbasis ketuhanan yang Maha Esa. Kata Bung Karno, Jas Merah, jangan lupakan sejarah,” tegasnya.

Sementara, Jakarta juga akan menggelar nonton bareng film penumpasan dan pengkhianatan G30S/PKI. Bertempat di Bioskop Sinema Hall Pusat Perfilman Usmar Ismail, Rasuna Said, Jakarta Selatan ini akan dimulai pukul 19.30 WIB.

Sebelumnya, penayangan Film penumpasan dan pengkhianatan G30S/PKI menuai pro kontra, ada pihak yang menilai tidak perlu untuk memutarkan film bersejarah tersebut, lalu ada juga pihak pihak yang meminta agar seluruh masyarakat menonton film G30S/PKI untuk mengingat sejarah kelam yang pernah terjadi.

Polemik itu makin runcing setelah Mantam Pangliman TNI Gatot Nurmantyo ‘menantang’ Panglima TNI Masekal TNI Hadi Tjahjanto dan KSAD Jenderal TNI Mulyono untuk menggelar nonton bareng Film penghiatan G40S/PKI.

“Kalau KSAD tdk berani memerintahkan nonton bareng film G-30S/PKI, bgaimana mau mimpin prajurit pemberani & jagoan2 spt Kostrad, Kopassus, & semua prajurit TNI AD. Kok KSAD-nya penakut… ya sudah pantas lepas pangkat. Ingat! Tdk ada hukuman mati utk perintah nonton bareng,…,” tulis Gatot di akun Twitternya @Nurmantyo_Gatot

Setelah ramai diperbincangkan, akhirnya Panglima TNI mempersilahkan kepada seluruh masyatakat yang ingin memutarkan atau menonton Film tersebut.

(Lan/FIN)

Facebook Comments