Radar Batang

Populasi Kambing Jateng Tertinggi Nasional

Populasi Kambing Jateng Tertinggi Nasional

KUNJUNGI – Dirjen PKH Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita didampingi Bupati Batang Wihaji melihat pameran peternakan di Hutan Kota Rajawali, Kabupaten Batang.
M DHIA THUFAIL

BATANG – Melalui program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), sektor peternakan hewan di wilayah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Populasi kambing dan ayam burasnya bahkan tertinggi nasional.

Berdasarkan data laporan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah, sektor peternakan Jawa Tengah mampu merealisasikan 658.179 ekor akseptor sapi atau sebesar 127,81 persen dari target 514.984 ekor akseptor sapi.

“Melalui prestasi itulah, Jawa Tengah berhasil memperoleh peringkat 1 nasional untuk pelaksanaan program ‘Upsus Siwab’,” terang Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir Agus Wariyanto, saat menghadiri Gelar Potensi Peternakan dan Gebyar Upsus Siwab, Jum’at (28/9).

Selain itu, kata dia, kini Provinsi Jateng juga menempati urutan pertama tingkat nasional pada jumlah populasi kambing sebanyak 4.066.654 ekor (22,79 persen) dan ayam buras 41.976.727 ekor (14,27 persen).

“Adapun, untuk populasi sapi potong, sapi perah, dan domba di Jawa Tengah menempati urutan ke-2 tingkat nasional yaitu masing-masing sebanyak 1,674 juta ekor (10,46 persen) untuk sapi potong, 137 ribu ekor (25,72 persen) sapi perah, dan 2,340 juta ekor (14,9 persen) domba,” jelasnya.

Dengan adanya segudang prestasi itu, lanjut Agus, membuat Jateng dijadikan sebagai satu di antara provinsi prioritas pelaksanaan program Upsus Siwab. “Hal ini yang bisa dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan populasi sapi dan kerbau sekaligus sebagai upaya mendukung kedaulatan pangan nasional,” katanya.

Melihat potensi peternakan yang dimiliki Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan bahwa populasi hewan ternak di Jateng masih bisa ditingkatkan lagi.

“Keberhasilan peningkatan populasi hewan ternak, sesungguhnya di tangan para inseminator. Mereka (para inseminator) adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam usahanya untuk meningkatkan populasi hewan ternak di setiap daerah,” ucapnya.

Menurut Ketut, upaya peningkatan populasi ternak di Indonesia tidak seimbang antara jumlah ternak inseminasi dengan jumlah ternak bunting. “Saya minta agar seimbang, maka laporan ternak inseminasi dan ternak bunting harus dengan data yang valid. Untuk itu, kerjasama antara Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan sangat penting, jangan sampai data yang dilaporkan tidak sesuai kenyataan. Ini (ujungnya) bisa berurusan dengan hukum,” katanya.

Guna memacu tingkat populasi ternak, Ketut mengungkapkan, pemerintah pusat sangat mengharapkan terjadinya lonjakan populasi ternak di sejumlah provinsi, yakni Jateng, Jtim, Jabar, Banten, Lampung, Bali, NTB, NTT, yang merupakan daerah penghasil ternak, termasuk (yang terbaru), Sumatera Utara dan Aceh. (fel)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments