Metro Pekalongan

Miris, Bejo Sekeluarga Nekat Tinggal di Rumah yang Nyaris Roboh

Rumah Nyaris Roboh

NYARIS ROBOH – Camat Pekalongan Timur Sukirno mengecek kondisi rumah Bejo Sutrisno di Gang Dahlia, RT 5 RW 15, Kelurahan Poncol, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan yang nyaris roboh, Jumat (28/9).
WAHYU HIDAYAT

KOTA PEKALONGAN – Kondisi memprihatinkan dialami Bejo Sutrisno (43), warga Gang Dahlia RT 05 RW 12 No 12, Kelurahan Poncol, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.

Dia bersama putri tunggalnya yang masih kelas 1 SD dan dua keponakannya terpaksa tetap menghuni rumahnya yang nyaris roboh. Meskipun hal itu bisa membahayakan keselamatan jiwa mereka.

Pantauan Radar Pekalongan, Jumat (28/9), kondisi rumah yang ditinggali Bejo dan keluarganya itu jauh dari layak huni. Dinding rumah terbuat dari kayu yang sudah keropos dan berlubang di sana sini. Lantai masih tanah. Atap genteng, sudah bocor dan berlubang di sana sini.

Lebih miris lagi, bangunan rumah tersebut sudah miring dan harus disangga dengan kayu seadanya. Bagian rangka atap ataupun kuda-kuda banyak yang keropos dan patah. Dinding bagian depan sudah miring, harus disangga beberapa kayu.

Apalagi di ruang kamar satu-satunya di rumah tersebut. Kayunya sudah miring tak karuan. Sehingga, kamar itu sudah tidak difungsikan. Penghuni rumah pun menyulap ruang depan untuk tempat tidur.

Menurut Bejo, kondisi rumahnya yang seperti itu sudah sejak tiga tahun lalu. Karena tidak punya biaya, rumahnya dibiarkan dalam kondisi seperti itu. “Saya kerja buruh serabutan, kadang jadi tukang parkir. Ngak punya biasa buat rehab,” katanya.

Bejo mengungkapkan, kondisi keluarganya memang serba kesulitan. Kurang lebih tujuh tahun lalu, Bejo kehilangan istri tercintanya, beberapa waktu setelah melahirkan putri mereka. “Saya tinggal di sini bareng ibu saya dan dua keponakan. Tetapi ibu sudah meninggal dunia, baru sekitar setengah bulan lalu,” ungkap pria yang sudah tinggal di rumahnya itu sejak sekitar dua puluh tahun lalu.

TANAH BENGKOK

Bejo menyadari kondisi rumahnya yang seperti itu sangat membahayakan. Namun ia hanya bisa pasrah. Ia hanya bisa berharap ada bantuan dari orang lain maupun pemerintah daerah.

“Keinginan kami tidak muluk-muluk. Mohon bantuan supaya atap tidak lagi bocor. Kemudian kayu yang sudah banyak keropos, dinding yang sudah miring ini diperbaiki biar lebih aman dan layak huni,” tuturnya.

Dia pun menyadari kalau dirinya kesulitan untuk mendapatkan bantuan program bedah rumah yang didanai pemerintah lantaran rumah tersebut berdiri di atas tanah bengkok. “Tetapi kami berharap bisa dibantu. Yang penting tidak bocor dan tidak lagi membahayakan,” ujarnya.

Mengetahui kondisi warganya tersebut, Camat Pekalongan Timur, Sukirno, bersama unsur Muspika setempat, diantaranya Kapolsek Pekalongan Timur Kompol I Ketut Lanus dan Danramil Kapten CZI Agus Pujiatmo sudah datang ke lokasi untuk mengambil tindakan selanjutnya.

Camat Pekalongan Timur, Sukirno, menyatakan pada Jumat (28/9) sore sudah menjadwalkan menggelar rapat koordinasi bersama muspika dan pihak kelurahan. Khusus membahas penanganan terhadap apa yang dialami Bejo Sutrisno.

“Tentunya kami prihatin dengan kondisi warga seperti ini. Kami mendapat informasi ini dari rekan wartawan. Sudah langsung kami cek ke lokasi. Ini akan segera kita tindaklanjuti,” jelas Sukirno, saat ditemui di rumah Bejo kemarin.

Dia akan berkoordinasi dengan Muspika dan kelurahan tentang bantuan seperti apa yang akan diberikan. Yang jelas, katanya, pasti akan ada bantuan. “Karena walaupun rumahnya berdiri di atas tanah bengkok yang notabene sulit untuk disentuh bantuan, tetap akan kita cari solusi dan kita bantu. Mudah-mudahan setelah rakor sore ini (Jumat sore, 28/9, red) ditemukan solusi terbaik. Mungkin akan diperbaiki rangka atap dan kuda-kudanya dulu, agar lebih kuat,” paparnya. (way)

Facebook Comments