Radar Kendal

Penggiat Lingkungan Ini Ditahan Karena Dugaan Korupsi Bansos

Penggiat Lingkungan Ini Ditahan Karena Dugaan Korupsi Bansos

KETERANGAN – Plh Kasi Intel Kejari Kendal, Suwono, membenarkan penahanan Penggiat Lingkungan Sutriatmo, tersangka kasus dugaan korupsi Bansos Kemensos 2015.
NUR KHOLID MS

KENDAL – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal melakukan penahanan terhadap Sutriatmo, penggiat lingkungan asal Desa Purwosari, Kecamatan Patebon. Dia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana bansos Kementerian Sosial (Kemensos) 2015 yang merugikan negara Rp 52 juta.

Penahanan dilakukan setelah berkas kasusnya dinyatakan lengkap dan dilimpahkan ke JPU. Plh Kasi Intel Kejari Kendal, Suwono, mengatakan, pelimpahan perkara sudah dilakukan dari penyidik kepada penuntut umum. “Setelah melalui pertimbangan, kami lakukan penahanan kepada tersangka di Lapas Kelas II A Kendal. Selanjutnya, kami limpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang yang akan menyidangkan perkara,” ungkapnya, Rabu (26/9)

Suwono menjelaskan, penahanan dilakukan dengan pertimbangan sesuai KUHAP, yakni agar tersangka tidak melarikan diri, tidak merusak atau menghilangkan barang bukti dan agar tersangka tidak mengulangi perbuatannya. Pihaknya secepatnya akan melimpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang. Mengingat masa penahanan sesuai KUHAP hanya 20 hari. “Jika memungkinkan, pekan ini atau pekan depan sudah kami limpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang,” ungkapnya.

Saat ini JPU tengah menyusun dakwaan yang akan didakwakan kepada tersangka di persidangan. Ada empat jaksa yang sudah ditunjuk sebagai JPU nantinya, yakni Muhammad Gandara, Leli Maelinda, Fitria Eka dan Joko Sutrino. Rencananya Sutriatmo akan dijerat dengan dakwaan yang disusun secara subsideritas. Yakni Primer, Pasal 2 ayat 1 Juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dalam UU 20 Tahun 2001 tentang Pembrantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Sedangkan subsider Pasal 3 undang-undang yang sama. “Ancaman pidana buat tersangka Sutriatmo maksimal 20 tahun penjara,” tukasnya.

Kasi Pidsus Kejari, Muhammad Gandara menerangkan, kasus itu bermula 2015 silam. Tersangka sebagai Penggiat Lingkungan membentuk Koperasi Usaha Bersama (KUb) dan mengajukan bantuan budidaya cacing ke Kemensos melalui Dinsos Kendal. Ada sembilan KUB penerima bantuan dengan nominal setiap KUB Rp 20 juta. “Dari Kementerian Sosial bantuan ditransfer ke KUB langsung, tapi oleh tersangka diminta dengan alasan akan dibelanjakan bibit cacing. Selain itu, sejak awal proposal permohonan dana bansos cacing juga atas jasa tersangka,” katanya.

Lanjut Gandara, pengelola KUB selanjutnya mentransfer dana yang telah diterima kepada tersangka melalui rekening istri tersangka. Dari dana yang terima tersangka, ternyata tidak dibelanjakan seluruhnya, hanya sebagian. Sebagian dana yang tidak dibelanjakan digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka.

Dari hasil pemeriksaan Inspektorat Kendal, total kerugian negara sebesar Rp 52 juta. Kerugian tersebut memang tidak begitu besar. Sebenarnya dari kejari sudah sejak awal berupaya untuk melakukan mediasi agar tersangka melakukan upaya pengembalian kerugian negara. “Namun, tersangka tidak kooperatif dan tidak mengembalikan uangnya. Akhirnya kami naikkan perkara ini ke penyidikan,” pungkasnya. (nur)

Penulis: Nur Kholid Ms

Facebook Comments