Radar Pendidikan

Belajar Bahasa Asing Dengan Permainan Tradisional

Keterampilan berbahasa merupakan sebuah kebutuhan bagi manusia untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Kini, penguasaan bahasa asing menjadi keharusan agar manusia bisa berkembang di era informasi terbuka ini. Melihat kebutuhan akan keterampilan berbahasa asing, sekelompok pemuda di Kaliketing Doro berinisiatif mendirikan Sanggar Pandhita yang mengajarkan keterampilan berbahasa asing kepada anak-anak sekitar. Seperti apa? Fakhrun Nisa, Doro

Belajar Bahasa Asing Dengan Permainan Tradisional

BERMAIN – Sanggar Pandhita mengajarkan keterampilan berbahasa Inggris sambil bermain dengan anak-anak.
FAKHRUN NISA

Berawal dari kegelisahan dalam melihat minat belajar anak-anak, sekelompok pemuda yang dipandu oleh Halim Ahmad mulai mencanangkan pendirian sanggar belajar di Desa Kaliketing Doro pada Agustus 2017. Setelah beberapa kali melaksanakan musyawarah antar pemuda, sanggar belajar bernama Sanggar Pandhita resmi berdiri pada September 2017. Pandhita, dalam Bahasa Sansekerta berarti orang-orang pintar. Diharapkan, melalui sanggar ini anak-anak bisa menjadi orang yang pintar serta mampu menghadapi persaingan hidup ke depan.

“Kami sempat senang ketika ada mahasiswa-mahasiswa KKN datang ke desa, karena anak-anak di sini bisa belajar secara terorganisir di luar jam sekolah. Tetapi itu kan sifatnya temporer dan tidak setiap hari ada. Setelah mereka pergi, minat belajar anak-anak turun, sehingga kami menginisiasi untuk membuat kegiatan agar semangat belajar mereka tinggi lagi,” ujarnya kepada Radar, Selasa (25/9).

Halim, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa Sanggar Pandhita tengah fokus pada pengembangan pendidikan non formal. Sanggar ini berkomitmen untuk membekali anak-anak desa dengan berbagai keterampilan, diantaranya keterampilan berbahasa, menggambar, mengarang, bercerita, dan tari. Keterampilan berbahasa Inggris menjadi satu unggulan di Sanggar Pandhita. Beberapa kali, pihak sanggar sengaja mendatangkan volunteer dari luar negeri untuk menjadi tutro belajar dan memotivasi anak-anak.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, para tutor memadukannya dengan aneka permainan tradisional, diantaranya main ular-ularan, domikado, dan sluku-sluku bathok. Permainan tersebut dilakukan untuk menarik minat anak-anak dalam belajar, termasuk dalam menghafal kosa kata Bahasa Inggris.

Menurut Halim, kegiatan belajar sembari bermain menjadi sangat menyenangkan bagi anak-anak karena mereka lebih antusias dengan pelajaran. Bahkan, inovasi pembelajaran ini pernah mendapatkan penghargaan dalam ajang Kreasi dan Inovasi (Kreanova) yang diselenggarakan oleh Bappeda Kabupaten Pekalongan pada awal 2018 yang lalu.

“Dengan kegiatan ini kami ingin anak-anak mempunyai keterampilan berbahasa Inggris yang mumpuni agar mereka bisa belajar secara mandiri dan bisa belajar banyak hal di era informasi terbuka ini. Kemudian kami sengaja padukan dengan permainan tradisional agar anak-anak tidak lupa identitas asli bangsa Indonesia. Mereka tahu bahwa kita kekayaan intelektual berupa permainan tradisional, sehingga mereka harus bangga,” imbuh Halim.

Pada awal berdiri, Sanggar Pandhita sempat menemui banyak kendala diantaranya ketiadaan tempat belajar. Selama enam bulan Sanggar Pandhita melaksanakan kegiatan pembelajaran di teras rumah warga. Setelah mendapatkan bantuan dari warga sekitar, tempat belajar pun mulai dibangun dengan bahan bambu dan jerami.

Halim mengaku, bantuan dari warga sekitar sangat berperan penting dalam melaksanakan kegiatan Sanggar Pandhita. Meskipun tidak berkontribusi dengan menjadi tutor, menurut Halim warga sekitar mendukung kegiatan dan membantu pendirian gubuk sanggar. Kini sekitar 30 anak rajin mengikuti kegiatan belajar di Sanggar pandhita setiap Senin malam. Anak-anak yang mengikuti kegiatan di Sanggar Pandhita tidak dipungut biaya.

Selain di Doro, Halim bersama beberapa pemuda lain juga tengah merintis pendirian Sanggar Pandhita di Desa Sidomulyo Lebakbarang. Sejak Juni 2018 Halim dan pemuda sekitar telah melakukan beberapa aktivitas serupa di sana. Tidak berpuas diri, sekelompok pemuda ini juga terus bergerilya ke desa-desa lain di Kabupaten Pekalongan untuk dijadikan tempat belajar dan berbagi ilmu, terutama keterampilan berbahasa Inggris. (*)

Penulis: Fakhrun Nisa | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments