Metro Pekalongan

Mahasiswa Dibekali Literasi dan Inklusi Ekonomi Syariah

Mahasiswa Dibekali Literasi dan Inklusi Ekonomi Syariah

PAPARKAN – Analis Departemen Ekonomi Syariah BI Jakarta, Zulmi Ramdy saat memaparkan materi dalam seminar ekonomi syariah yang diikuti mahasiswa ekonomi dari sejumlah perguruan tinggi di Pekalongan, Selasa (25/9).
M. AINUL ATHO

KOTA PEKALONGAN – Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Pekalongan, mendapatkan pembekalan literasi dan inklusi tentang ekonomi syariah. Pembekalan tersebut diberikan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal bekerjasama dengan IAIN Pekalongan lewat seminar nasional yang digelar di Hotel Santika, Selasa (25/9).

Selain kepada mahasiswa, pembekalan juga diikuti oleh perwakilan ormas Islam, MUI dan perwakilan dari pondok pesantren.

Analis Departemen Ekonomi Syariah BI Jakarta, Zulmi Ramdy, yang bertindak sebagai narasumber menjelaskan bahwa melalui pembekalan tersebut diharapkan mahasiswa dapat turut berkecimpung dalam ekonomi syariah sehingga pertumbuhannya dapat semakin meningkat.

“Kami dari BI berkomitmen untuk mengembangkan ekonomi syariah, salah satunya lewat kegiatan literasi dan inklusi ekonomi syariah. Dengan begitu kami harapkan pertumbuhan ekonomi syariah bisa meningkat dan memberikan kontribusi untuk ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Karena dikatakan Zulmi, meski sudah dicetuskan sejak 1992 namun ekonomi syariah di Indonesia belum tumbuh dengan optimal. Penyebab utamanya, masih banyak masyarakat yang belum paham terhadap ekonomi syariah.

“Karena pemahamannya masih belum tinggi, jadi masyarakat masih takut untuk terlibat. Padahal ekonomi syariah ini sejak tahun 1992 sudah disosialisasikan secara terus menerus,” tambahnya.

Dia melihat, sejauh ini pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah masih berkisar pada komersil. Padahal ekonomi syariah tidak hanya tentang perbankan komersil, tapi juga keuangan syariah secara umum. “Jadi ekonomi syariah tidak fokus ke perbankan saja tapi perkembangan ekonomi secara umum. Kita harus fokus pengembangan dari hulu ke hilir, jika semuanya hidup maka ekonomi syariah akan berkembang,” katanya.

Ketika pengembangan dari hulu ke hilir berjalan dengan baik, maka masyarakat dapat berani turun berbisnis dan mengakses pembiayaan lewat sistem syariah. Selama ini dikatakan Zulmi pengembangan ekonomi syariah masih terhambat karena belum membangun sektor usaha syariah. “Usaha syariah tidak hanya halal dan haram, tapi juga terkait karakteristik pemiliknya sehingga ketika berhasil dapat turut berkontribusi kepada masyarakat lewat kegiatan sosial,” kata Zulmi.

Manajer Unit Pengawasan Sistem Pembayaran dan Keuangan Inklusi BI Tegal, Setyo Hantoro, menambahkan saat ini perkembangan ekonomi syariah baru mencapai 6 persen. “Selama ini BI Tegal sudah mendorong seluruh stakeholder dan tidak hanya di sektor keuangan namun juga di aektor riil. Untuk pengembangan ini kami juga menggandeng stakeholder dari mulai praktisi, hingga mahasiswa dan akademisi,” tandasnya. (nul)

Penulis: M Ainul Atho | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Facebook Comments