Metro Pekalongan

Beberapa Persoalan Ini Dikeluhkan Pengusaha Batik kepada Sandiaga Uno

Sandiaga Uno di Pekalongan

MEMBATIK – Cawapres nomor urut 2, Sandiaga Uno saat mencoba membatik dalam kunjungannya ke Kampung Batik Pesindon, Selasa (25/9). Sandi menerima berbagai keluhan dan masukan warga dalam dialog yang digelar di salah satu rumah warga.
M. AINUL ATHO’

Calon Wakil Presiden nomor urut 2, Sandiaga Solahudin Uno, melakukan kunjungan ke Kampung Batik Pesindon, Selasa (25/9). Dalam dialog bersama masyarakat, Sandi mendapat banyak masukan mengenai masalah-masalah yang dihadapi para pengusaha batik. Seperti Apa ? M. AINUL ATHO, Pekalongan

Seperti yang biasa terjadi di lokasi lain saat Sandiaga Uno berkunjung. Antusiasme masyarakat membludak. Berebut selfie dan salaman dengan sang cawapres, merupakan pemandangan yang jamak terjadi. Tak berbeda saat Sandi berkunjung ke Kampung Batik Pesindon, Kota Pekalongan. Puluhan warga sudah mengerubutinya sejak rombongan Sandi masuk ke kawasan Kampung Batik Pesindon menuju ke lokasi acara dialog dengan para pengusaha batik.

Acara dialog bersama masyarakat menjadi agenda awal kunjungan Sandi di Kota Pekalongan, sebelum bersama Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, memberikan pengarahan kepada caleg dari PAN. Di lokasi dialog, puluhan warga sudah menunggu. Mulai dari pengusaha batik hingga pedagang pasar, siap menyampaikan uneg-unegnya.

Benar saja, ketika diberikan kesempatan untuk bertanya maupun menyampaikan aspirasi, berbagai masalah diungkapkan para peserta dialog. Masalah bahan baku batik yang mahal, masalah keberadaan jalan tol yang dikhawatirkan berdampak pada usaha penjualan batik hingga permasalahan rob yang terus menerus terjadi di Kota Pekalongan, diungkap secara berurutan.

Ediwan, pemilik Batik Larissa, menjadi salah satu warga yang berkesempatan menyampaikan aspirasinya. Ediwan mengeluhkan terkait keberadaan jalan tol yang kini melintas di Kota Pekalongan. Ia menyatakan bahwa sejak adanya jalan tol, Kota Pekalongan hanya menjadi kota lintasan. Kondisi itu sudah terjadi setidaknya dalam dua tahun terakhir, sejak tol mulai dibuka setiap momen arus mudik dan arus balik Idul Fitri.

“Masalah tol, adanya jalan tol membuat Kota Pekalongan tidak dilewati langsung oleh pemudik maupun wisatawan. Untuk itu kami berharap agar ada rest area yang mengakomodir para pedagang batik. Karena dalam dua tahun terakhir kita hanya dilewati saja karena adanya jalan tol ini,” ungkap Ediwan.

Setelah Ediwan, berturut-turut berbagai masukan disampaikan. Mulai mahalnya harga bahan baku batik, permintaan agar pembangunan Pasar Banjarsari dipercepat, hingga kondisi bencana rob yang tak pernah usai, disampaikan oleh para peserta dialog. Mereka berharap, kehadiran Sandi dapat mengakomodir langsung apa yang menjadi keluhan dan aspirasi sebagian masyarakat Kota Pekalongan.

Menanggapi keluhan-keluhan tersebut, Sandi yang ditemui usai dialog mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Sandi menyebut, dari dialog bersama masyarakat dapat disimpulkan bahwa saat ini batik Pekalongan masih mendapatkan beberapa tantangan.

“Tadi hasil diskusi, masukan dari pelaku batik dan paguyuban bahwa harga bahan baku sekarang naik. Ini karena pengaruh dolar juga yang hampi kembali menyentuh Rp15 ribu. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap biaya produksi, sementara daya beli masyarakat masih terkendala. Itu yang menjadi harapan para pelaku usaha batik ini dapat diselesaikan. Kedepan bersama para pelaku ekonomi kreatif ini akan kami upayakan untuk juga membantu pemasaran batik,” kata Sandi.

Selanjutnya terkait pembangunan infrastruktur yang belum memberikan dampak secara langsung kepada UMKM, Sandi menyatakan bahwa kedepan harus ada konektifitas melalui rest area. “Rest area ini harus berpihak pada UMKM. Dulu pengalaman saya di Cirebon, dengan adanya rest area batik Cirebon tetap bisa berkembang walaupun ada tol Cipali. Ini yang kami harapkan pembangunan infrastruktur bisa mengarah pada pemberdayaan UMKM,” tambahnya.

Kemudian masalah pemasaran produk UMKM di Kota Pekalongan, dia ingin agar kedepan pemasaran produk bisa mendapat perhatian lebih dari kemitraan pemerintah dengan badan usaha. Paling tidak, lanjutnya, pemerintah bisa berpartisipasi 20 persen dan 80 persen lainnya dari dunia usaha langsung sehingga pihaknya dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk pengrajin batik terutama yang UMKM.

Terkait masalah rob, Sandi menyatakan bahwa pengelolaan pesisir harus komperhensif dan integratif. Menurutnya, mengatasi rob tidak hanya dengan membangun infrastruktur tapi juga melihat ekosistem lingkungan hidup di sekitarnya yang perlu diperhatikan. “Kami memiliki pendekatan yang berbeda, kami ingin menata pesisir lewat audit lingkungan hidup. Setiap masalah rob di pesisir tidak semuanya harus diatasi dengan pembangunan infrastruktur tapi juga audit dampak lingkungan yang berkelanjutan. Kalau kami ada kesempatan, kami akan menata SDM dan ekonomi di sekitar pesisir yang diharapkan dapat membantu mengatasi dampak bencana banjir rob yang sangat mengganggu aktivitas dunia usaha,” katanya.

Usai menggelar dialog bersama warga, Sandi bersama Zulkifli Hasan menghadiri kegiatan pertemuan kader dan caleg PAN di Dupan Convention Hall untuk memberikan arahan. (*)

Facebook Comments