Metro Pekalongan

Sejarah Koperasi di Pekalongan sebagai Pilar Ekonomi Indonesia

Kantor Grosir Setono

GROSIR SETONO – Salah satu koperasi tertua di Pekalongan adalah grosir Setono.
M FURQON FS

Perkembangan koperasi di Pekalongan sangat diperhitungkan. Bahkan, koperasi di Pekalongan sangat maju pesat hingga tahun 1964. Bagaimana kisahnya? M FURQON FS, PEKALONGAN

Siapa sangka, koperasi di Pekalongan memiliki riwayat yang luar biasa. Koperasi benar-benar menjadi soko guru perekonomian di Indonesia. Kondisi itu terjadi sebelum Indonesia menyatakan merdeka. Saat itu tahun 1940-an. Muncul koperasi batik yang menjadi salah satu cikal bakal berdirinya organisasi ekonomi yang berbasis kelompok ini.

Hal itu berawal dari kepopuleran Batik yang kian dikuasai oleh pihak asing, yakni Belanda yang bekerjasama dengan etnis Cina. Masyarakat melawan dan mendirikan organiasi ekonomi kerakyatan sebagai wujud dari kemandirian sodagar pribumi untuk membentuk Koperasi Batik guna mewujudkan ekonomi masyarakat yang lebih sejahtera.

Dahulu Koperasi merupakan kumpulan sodagar yang diberi nama Serkiat Dagang Islam (SDI). Mayoritas SDI beranggotakan pribudi dan muslim. Kerkembangan SDI mampu menjadi salah satu pilar ekonomi kerakyatan. Karena keberanian kepengurusan SDI, salah satu pencetak koperasi ada yang diculik karena dianggap sebagai tokoh perjuangan pribumi. Namun hal itu tak mematahkan untuk melanjutkan perjuangan. Sampai akhirnya, salah satu tokoh Koperasi diberi wewenang oleh Bung Hatta.

“Dan dari itupula lahirlah Dekopin (Dewan Koperasi Indonesia), awalnya bernama Cokri berdiri 2 tahun setelah merdeka, yakni 12 juli 47 yang kini diperingati sebagai hari Koperasi Indonesia,” kata Ketua Umum Dekopinda Pekalongan, Rusdi.

Koperasi pun terus berkembang. Di Pekalongan sendiri, berdiri Koperasi batik yakni PPIP mulai tahun 1952 yang tergabung ke dalam GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia). Organisasi ini merupakan Koperasi sekunder membawahi Koperasi-koperasi di Indonesia. Hingga akhirnya kepercayaan diberikan penuh oleh pemerintah sebagai distributor. Tahun 1955, GKBI diberikan wewenang menjadi importir tunggal, menjadi suplai bahan batik, obat-obatan untuk pemasok anggota-anghotanya.

“Salah satunya Koperasi Batik Pekalongan PPIP dan Koperasi Grosir Setono menjadi beberapa koperasi tertua di Pekalongan. Sangat lumayan, bisa selisih perbedaan harga bahan baku yang dulunya dimainkan oleh Belanda,” tambah Rusdi.

“Hampir setiap Koperasi Batik berjaya hingga punya pabrik mori sendiri, Gamer punya pabrik. Bahkan Setono sebelum menjadi grosir juga punya pabrik, Pekajangan, Wonopringgo, dan Buaran juga punya pabrik. Pabrik-pabrik itu bisa memenuhi kebutuhan bahan produksi batik mereka sendiri. Yang tadinya sebagaian besar impor, rata-rata mandiri punya pabrik sendiri,” imbuhnya.

Karena perkembangan itu mampu menjadikan perbedaan harga yang bisa diambil sebagai keuntungan. Hal itu menjadikan koperasi terus berjaya. Anggota koperasi bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kejayaan korperasi terus berlanjut hingga Tahun 1960-1964. Bahkan karena kejayaannya, GKBI ditunjuk sebagai program sandang Nasional. Dimana produksi batik sandang untuk keperluan sandang Indonesia diamanatkan pada GKBI melalui anggota-anggotanya. Tak hanya itu, Koperasi Mina di Pekalongan juga menangani urusan perikanan, seperti berbekalan, pelelangan dan keperluan lainnya.

Perkembangan koperasi di Pekalongan tak hanya sampai disitu. Di tahun 1973, berdiri Kospin Jasa. Koperasi ini berjenis simpan-pinjam. Awal dari kebutuhan pinjaman anggota koperasi batik yang jika diambil dari jaminan pinjaman akam membuat koperasi sulit untuk berkembang. Akhirnya dengan menggandeng 3 etnis besar di Pekalongan, Etnis Jawa, Cina dan Arab, muncullah Kospin Jasa sebagai Koperasi Simpan-Pinjam yang sampai menjadi cikal bakal koperasi paling populer.

“Sampai akhirnya bermunculan Koperasi simpan-pinjam baik konvensional atau Syariah. Sekarang bermunculam Koperasi-koperasi retail, Koperasi pegawai negri, Koperasi usaha, koperasi kantor dan lain-lain,” ungkap Rusdi.

Tak dipungkiri, Pekalongan menjadi salah satu inspirator Koperasi di Indonesia yang patut diperhitungkan. Koperasi mampu menjadi perekat persatuan berbagai etnis, agama dan golongan. Karakteristik masyarakt Pekalongan yang legaliter menjadikan koperasi cepat berkembang.

“Saat itu, pengaruhnya sangat besar, perbankan belum begitu berkembang, orang dulu serba koperasi, menjadikannya lebih dominan. Mau tidak mau, kini Perbankan makin membayangi. Geliat perbankan yang makin besar dengan tekonologi canggih dan pelayanan nyaman membuatnya berkembang. Jika Koperasi tidak berbenah, tidak memperbaiki SDM, memperbarui teknologi yang kini serba digital dan dalam genggaman. Tidak menutup kemungkinan akan tertinggal. Apalagi kini Bank-bank besar pun tak segan bermain kelas mikro kecil. Jika tak ada kolerasi khususnya mereka para UMKM mikro bisa menjadi bumerang. Pengaruhnya pasti ada. Untungnya menuju perbankan lebih ribet dan Koperasi lebih mudah. Orang-orang yang kurang bakable, mikro kecil, dan untungnya lagi Pekalongan kebanyakan mikro kecil. Jadi tetap banyak yang lari ke koperasi karena lebih mudah dan cepat,” tuturnya.

Minimalnya teknologi menjadi PR tersendiri. Target meningkatkan teknologi seperti sistem online, gencatkan teknologi modern yang serba memudahkan anggota. Tanpa itu koperasi bisa saja tertinggal. (*)

Facebook Comments