Metro Pekalongan

Memaknai Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekalongan

Diana Dwi Susanti, Statistisi Ahli Muda BPS Kota Pekalongan

Diana Dwi Susanti, Statistisi Ahli Muda BPS Kota Pekalongan

Nilai PDRB Kota Pekalongan secara nominal mengalami peningkatan sebesar 0,78 triliun dalam setahun terakhir. Tahun 2017 mencapai 9,28 triliun rupiah meningkat dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai 8,50 triliun rupiah. Peningkatan nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga produksi di hampir semua lapangan usaha dan adanya pengaruh inflasi.

Dengan menghilangkan faktor inflasi, pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan pada tahun 2017 mengalami perlambatan yaitu 5,32 persen dibandingkan tahun 2016 sebesar 5,36 persen. Perlambatan ini dipengaruhi oleh melambatnya produksi lapangan usaha di sektor jasa dan sektor pertanian.

Struktur Ekonomi Kota Pekalongan

Besarnya peranan berbagai lapangan usaha ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa sangat menentukan struktur ekonomi suatu daerah. Struktur ekonomi yang terbentuk dari nilai tambah yang diciptakan oleh setiap lapangan usaha menggambarkan seberapa besar ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi dari setiap lapangan usaha.

Sektor perdagangan, industri pengolahan dan sektor konstruksi memberikan sumbangan terbesar terhadap perekonomian Kota Pekalongan. Jadi setiap pertumbuhan atau perlambatan tiga sektor berpengaruh tersebut, akan berimbas secara langsung pada perekonomian Kota Pekalongan.

Di antara ketiga lapangan usaha tersebut, konstruksi adalah kategori yang mengalami peningkatan peranan dalam perekonomian. Sebaliknya perdagangan dan industri dua sektor yang sangat berpengaruh dalam roda perekonomian Kota Pekalongan peranannya berangsur-angsur menurun.

Salah satu penyebab menurunnya peranan sektor perdagangan berkaitan erat dengan penurunan produksi industri pengolahan yang dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami kelesuan. Hal ini disebabkan oleh rob (air laut pasang naik) yang menggenangi pusat-pusat industri pengolahan di kecamatan Pekalongan Utara dan Pekalongan Barat.

Pertumbuhan Ekonomi Kota Pekalongan

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator makro untuk melihat kinerja perekonomian secara riil di suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai pertambahan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua lapangan usaha kegiatan ekonomi yang ada di suatu wilayah selama kurun waktu setahun.
Pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan walaupun sedikit melambat selama 2017 tetapi kehadiran interchange di jalan tol yang akan beroperasi menjadi penopang berdirinya hotel-hotel. Hal ini terlihat dari pertumbuhan lapangan usaha kontruksi yang tumbuh positif selama tahun 2017. Nilai tambah kategori kontruksi mencapai 1,33 triliun rupiah atau secara distribusi terhadap total perekonomian Kota Pekalongan sebesar 14,37 persen dan menduduki peringkat ketiga setelah kategori perdagangan dan industri pengolahan. Angka tersebut meningkat dibandingkan pada tahun 2013 dengan rata-rata peningkatan sebesar 5,34 persen per tahun. Menggeliatnya proyek perbaikan jalan, dan perbaikan saluran air, serta meningkatnya permintaan akan properti ikut mendorong peningkatan kontribusi di sektor kontruksi.

Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi lapangan usaha industri pengolahan yang menjadi produk unggulan dan peranannya cukup besar dalam mewarnai perekonomian Kota Pekalongan. Pertumbuhannya mengalami pelemahan dan kelesuan yang cukup signifikan dalam lima tahun terakhir. Tahun 2013 pertumbuhannya mencapai 10,48 persen dan menurun tajam hingga mampu tumbuh hanya 4 persen pada tahun 2017.

Dari segi penyerapan tenaga kerja (hasil SE 2016) industri pengolahan mampu menyerap tenaga kerja paling besar dibandingkan kategori lapangan usaha lainnya. Tapi dalam waktu sepuluh tahun daya serapnya berkurang drastis. Tahun 2006 kegiatan industri pengolahan rata-rata setiap industri mampu menyerap 10 tenaga kerja. Tahun 2016 rata-rata setiap industri pengolahan hanya mampu menyerap 4 tenaga kerja.

Berdasarkan analisis model rasio pertumbuhan (MRP) industri pengolahan Kota Pekalongan masuk dalam kategori sektor unggulan tetapi pertumbuhannya tertekan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemangku kebijakan untuk lebih mendorong pertumbuhan industri pengolahan.

Pada sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan industri besar dan sedang juga mengalami kemerosotan hingga 40 persen. Beberapa ada yang tutup atau berubah menjadi industri mikro kecil.Perubahan ini yang menyebabkan penurunan daya serap tenaga kerja industri pengolahan.

Kebijakan Daerah

Industri pengolahan di Kota Pekalongan 72 persen didominasi oleh industri tekstil dan pakaian jadi. Industri tekstil didominasi oleh pembuatan kain batik dengan berbagai jenis yaitu batik cap, batik printing maupun batik tulis.
Kota Pekalongan yang di dalam RPJMD menempatkan industri batik dan perikanan menjadi produk unggulan ternyata memiliki kendala dalam berjalannya waktu. Sentra-sentra industri pengolahan yang berpusat di kecamatan Pekalongan Barat dan Pekalongan Utara perlu mendapat perhatian khusus mengingat daerah tersebut sering terkena dampak rob (air laut pasang naik).

Regenerasi pembatik juga perlu terus dilakukan. Selama ini kemajuan dan perkembangan batik tidak di imbangi dengan regenerasi para pembatik, terutama seni batik tulis. Sangat minimnya regenerasi menjadikan jumlah perajin batik semakin lama semakin sedikit dan hanya didominasi oleh kalangan lanjut usia. Semua kenyataan ini jangan sampai menggerus imej yang telah dibangun yaitu Pekalongan Word City of Batik.

Usaha batik 96 persen di dominasi oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). PR pemerintah adalah mendorong UMKM untuk terus mengembangkan usaha dengan bimbingan dari pemerintah terutama dalam hal teknologi. Untuk mendapatkan persaingan pasar teknologi ini mutlak dibutuhkan dalam pengembangan industri. (*)

Facebook Comments