Radar Kajen

Piye Kiye, Gara-gara Ini Satwa Petung Terancam Punah

KAJEN – Adanya Praktik perburuan liar ulah orang tak bertanggungjawab mengancam kelestarian satwa di kawasan hutan lindung Petungkriyoo. Hutan hujan tropis yang tersisa di Pulau Jawa ini menyimpan kekayaan satwa langka dan dilindungi, di antaranya owa jawa, lutung, surili, macan, dan sebagainya.

Pegiat Komunitas Peduli Owa Petungkriyono, Wawan, Kamis (20/9), menyatakan, praktik perburuan liar marak di kawasan hutan lindung Petungkriyono sudah sejak dua bulan terakhir ini. Pemburu bukan sekedar memburu binatang dan burung yang tak dilindungi, namun satwa langka endemik Petungkriyono yang dilindungi pun menjadi sasarannya.

“Sekitar dua bulan terakhir ini agak ramai orang-orang membawa senjata. Satwa yang dilindungi juga jadi incarannya, seperti kidang, kalong, dan lutung,” terang dia.

Menurutnya, satwa langka di dunia owa Jawa disinyalir juga tak luput dari incaran para pemburu liar tersebut. Namun, untuk owa Jawa masih dilakukan secara tertutup, dan diduga melibatkan sindikat.

“Untuk owa kami menelusuri grup jual beli yang ada. Untuk owa memang tidak terang-terangan. Namun indikasinya sudah ada perdagangan gelap owa dan seperti sindikat,” ujar Wawan.

Wawam juga mendapatkan laporan dari warga sekitar hutan jika pernah ada warga yang mendapat pesanan owa.

“Ada yang pernah dapat anaknya, dan induknya ditembak. Kita cek grup-grup jual beli memang ada sellernya. Kalau owa Jawa pasti dari Jawa Tengah, Jateng darimana pasti dari Petungkriyono. Namun untuk masuknya dari Petungkriyono atau daerah lain belum tahu,” terang dia.

Untuk populasi owa Jawa di kawasan hutan lindung Petungkriyono hanya sekitar 51 ekor hingga 71 ekor. Untuk satwa jenis lutung, pihaknya belum memiliki data lengkap. Namun, populasi lutung di kawasan hutan Sokokembang ada sekitar 25 kelompok, dimana satu kelompoknya terdiri atas 7 ekor hingga 15 ekor lutung.

Dalam mengantisipasi maraknya perburuan liar tersebut, pihaknya melakukan penguatan masyarakat desa hutan. Masyarakat yang menjumpai pemburu liar agar bisa mengingatkannya. Sebab, satwa-satwa langka dan endemik di Petungkriyono itu merupakan satu identitas, budaya, dan kekayaan yang luar biasa bagi Kabupaten Pekalongan.

“Pelan-pelan dari beberapa desa kita dorong ada peraturan desa tentang perlindungan satwa dilindungi. Hutan alam Petungkriyono yang luasannya sekitar 5 ribu hektare ini kaya akan satwa endemis dan langka, seperti owa, lutung, surili, kukang, macan tutul Jawa, burung elang Jawa, dan masih banyak lagi. Di Jateng paling tinggi endemiksitasnya di Petungkriyono ini. Seperti owa Jawa tertinggi di Jateng,”tandasnya. (yon)

Facebook Comments