Radar Batang

Waspada, Lima Kecamatan Masuk Kategori Rawan Narkoba

Waspada, Lima Kecamatan Masuk Kategori Rawan Narkoba

SOSIALISASI – Wakil Bupati Batang, Suyono, menyampaikan materi pada acara sosialisasi Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), kemarin.
M DHIA THUFAIL

BATANG – Peredaran dan penyalahgunaan narkoba semakin merajalela dan masuk ke segala lini. Tidak saja di kota, tapi juga sudah masuk ke semua segmen pelajar dan anak hingga ke pelosok desa.

Kepala BNN Kabupaten Batang, Teguh Budi Santoso mengatakan, ada lima kecamatan di Kabupaten Batang yang rawan penyalahgunaan narkoba, karena letak geografisnya yang berada di wilayah pantura, yang sangat memungkinkan terjadinya peredaran gelap narkoba.

“Dari lima kecamatan tersebut kita bentengi dengan mendatangi sekolah – sekolah, komunitas masyarakat untuk sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN),” ungkap Teguh saat ditemui di Hotel Sahid mandarin Pekalongan, Selasa (18/9).

Untuk lima kecamatan itu di antaranya dimulai dari Kecamatan Batang, Subah, Banyuputih, Limpung, dan Gringsing yang indikasinya ada pada lokalisasi prostitusi dan tempat hiburan yang rawan terhadap peredaran gelap narkoba.

“Maka harus ada komitmen bersama untuk mau membenci dan memberantas narkoba, karena hal ini merupakan bagian dari kejahatan yang luar biasa,” ungkap Wakil Bupati Batang Suyono.

Ia pun berharap, agar ada proteksi di lingkungan masyarakat dan sekolah, dengan cara mendoktrin untuk membenci narkoba. Menurutnya, saat ini para pelaku kejahatan terus melakukan inovasi dan kreatifitas untuk mengedarkan narkoba. Terlebih, kecepatan peredaran narkoba itu sendiri menyamai kecapatan perubahan tekhnologi.

“Perkembangan narkoba dengan tekhnologi kecepatanya hampir sama, narkoba sekarang berubah bentuk dan cara peredarannya, maka kita jangan sampai kecolongan,” kata Suyono.

Sosialisasi P4GN menurutnya bagian dari bentuk proteksi, maka sebagai kader pembenci narkoba Suyono meminta agar terus meningkatkan kulitas, kontinyuitas, dan komitmen. “Narkoba didatangkan ke Indonesia sebagai bentuk proxy war, yaitu perang ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga untuk melumpuhkan generasi muda melalui narkoba, merusak bangsa, merusak idiologi bangsa sehingga sumber daya alam dikuasai oleh pihak asing,” kata Suyono.

Suyono juga meminta karakter dan budaya kearifan lokal bangsa untuk terus ditingkatkan dan perlu ada kreatifitas dan inovasi dalam mensosialisasikan agar masyarakat benci terhadap narkoba, terutama bagi pemuda dan remaja.

“Di setiap kunjungan ke desa dan lingkungan sekolah, saya tak bosan – bosan selalu tekankan agar menjauhi dan benci narkoba, karena bahayanya menggunakan narkoba akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara,” tandasnya. (fel)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments