Radar Kajen

Mengenang Tata, Relawan PMI Pekalongan yang Meninggal di Lombok

Afni Fastabiqul Strata Utama, Relawan PMI asal Kabupaten Pekalongan yang meninggal dunia saat bertugas di Lombok pada Agustus lalu, mendapatkan penghargaan pahlawan kemanusiaan. Bagaimana kisahnya? M Hadiyan, Kajen

Mengenang Tata, Relawan PMI Pekalongan yang Meninggal di Lombok

TERIMA PENGHARGAAN – Muhammad Afib, ayah dari almarhum Afni Fastabiqul Strata Utama, KSR Unit Markas PMI Kabupaten Pekalongan, Senin (17/9) kemarin, menerima penghargaan dari Menteri Sosial Agus Gumiwang, untuk anaknya yang meninggal dunia saat bertugas di Lombok.
MUHAMMAD HADIYAN

ALMARHUM Afni Fastabiqul Strata Utama, KSR Unit Markas PMI Kabupaten Pekalongan, yang meninggal saat bertugas di Lombok pada Jumat 24 Agustus 2018 lalu, mendapat penghargaan pahlawan kemanusiaan oleh Palang Merah Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Temu Karya Relawan Tingkat Nasional VI Tahun 2018 yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun PMI ke 73, di Purwakarta, Jawa Barat, Senin (17/9) kemarin.

Dalam acara yang dihadiri 5.000 orang dari perwakilan PMI Provinsi se-Indonesia dan Palang Merah Negara Sahabat itu, Muhammad Afib, ayah dari almarhum Tata, sapaan akrab Afni Fastabiqul Strata Utama, mendapat penghargaan itu bersama dua orang tua relawan lain yang meninggal saat bertugas di Lombok.

Penerimaan penghargaan itu disambut haru oleh 19 anggota tim Water Sanitation Hygiene (WASH) PMI yang bertugas bersama Tata saat terjadi gempa di Lombok. Tata sendiri dikenal dikenal sebagai relawan WASH PMI yang menyukai anak-anak. Bahkan, setiap sore ia yang paling semangat memberikan air bersih untuk keperluan mandi anak-anak korban gempa di camp pengungsian. Tidak hanya rekan WASH yang kehilangan sosok supel Tata, namun juga beberapa anak di camp pengungsian merasa kehilangan relawan PMI asal Kota Santri tersebut. Anak-anak korban pun banyak yang membuat mainan truk PMI karena kedekatan almarhum bersama mereka.

Meninggalnya Tata juga membawa spirit baru pada 19 anggota WASH PMI yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia itu. Semangat yang diberi nama Spirit Tata (Tabung Air Untuk Tanah Air), menjadi misi kesembilanbelas anggota WASH untuk mencintai dan menjaga alam agar bumi kembali bersahabat dengan manusia.

Sebagai ayah, Muhammad Afib, meski tak mampu menyembunyikan kesedihannya, namun ia mengaku bangga, lantaran sejak Tata bergabung dengan PMI empat tahun lalu, jiwa kemanusiaan telah merasuk ke jiwa anak bungsunya itu, hingga meninggal dunia di usianya yang belum genap 25 tahun.

“Jiwa relawan yang bermanfaat untuk sesama telah tertanam dalam diri Tata, hingga ia tak memikirkan dirinya sendiri. Dengan keikhlasan sebagai relawan, lelah pun tak terasa. Karena fisik terlalu lelah, Tata meninggal saat bertugas di Lombok. Itulah bentuk mengabdi kepada kemanusiaan, sebagai hamba Tuhan,” ungkap Afib, kemarin.

Diceritakan, saat Tata tengah bertugas di Lombok, mengabarkan kepada orangtuanya bahwa guncangan luar biasa terjadi terus menerus. Sampai Tata tak mampu membedakan antara guncangan gempa dengan kepala pusing. “Guncangan yang luar biasa ini sempat dikabarkan Tata lewat pesan telepon. Kami masih ingat, bagaimana ia memberikan pesan itu,” kata Afib, yang juga menjabat Kepala Dinas PMD P3A DAN PPKB Kabupaten Pekalongan.

Sebagai ayah dari Tata, ia berpesan kepada para relawan, khususnya relawan PMI di Kabupaten Pekalongan, untuk tetap semangat bermanfaat kepada sesama dan turut mengemban misi menjaga alam. “Kejadian di Lombok adalah cerminan bahwa bumi sudah tak bersahabat dengan manusia. Maka, perlu kembali menanamkan cinta kepada alam dan menjaganya, agar bumi kembali bersahabat,” tandasnya.

Sebelumnya, Ridwan Hidayat, Ketua PMI NTB mengatakan, Tata bertugas di Lombok pada 18 Agustus 2018, bergabung dalam tim Water Sanitation Hygiene (WASH). Almarhum selalu menjadi yang terdepan mengantarkan kebutuhan air bersih bagi pengungsi yang tersebar di sejumlah titik.

“Almarhum memiliki tugas yang cukup berat. Kenapa berat? karena memang mendistribusikan sesuatu yang sangat dibutuhkan masyarakat terdampak bencana, yaitu air. Almarhum ini bidangnya WASH, ambil air, olah air, dan mendistribusikannya,” ungkap Ridwan. (*)

Penulis: Nur Kholid Ms | Radar Pekalongan
Redaktur: Akhmad Saefudin

Facebook Comments