Radar Batang

Begini Kondisi Afandi Setelah Dirawat di RSUD Kalisari Batang

Dok Istimewa
DIRAWAT – Afandi saat ini tengah menjalani perawatan intensif di ruang Melati RSUD Kalisari Batang.

*Hasil Rekam Medis, Afandi Sakit Maag Kronis

BATANG – Afandi (48) saat ini tengah menjalani perawatan intensif di ruang Malati RSUD Kalisari Batang. Pria warga Desa Timbang Rt 5 Rw 2, Kecamatan Banyuputih yang mengalami sakit menahun, hingga meminta disuntik mati ini, kini kondisinya sudah mulai tenang dan membaik.

“Alhamdulillah pak Afandi sudah membaik, beliau sudah tenang. Beliau sudah mempercayakan perawatannya kepada tim medis yang ada di RSUD Kalisari Batang. Selain itu, pasien juga sudah tenang karena Bupati Batang sudah turun langsung dan siap memback up biaya pengobatannya,” ujat Kasi Pelayanan Medis RSUD Kalisari Batang, dr Nur Hidayati kepada wartawan.

Nur Hidayati menjelaskan, bila melihat hasil rekam medis yang ada, kondisi Afandi tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun ada faktor psikologi yang membuat dia dalam kondisi kecemasan, sehingga menimbulkan kondisi nyeri akibat dari asam lambung yang berlebihan. Karena itulah, dukungan keluarga dan orang-orang disekitarnya sangat diperlukan untuk membantu proses penyembuhan.

“Selain itu, ada jaminan pemerintah daerah yang akan menanggung biaya pengobatannya juga diharapkan bisa memberinya ketenangan. Dengan begitu, proses penyembuhannya akan lebih cepat. Mengingat potensi kesembuhan sendiri nomor satu tergantung dari niat psikis pasien, sehingga dukungan keluarga dan orang sekitar sangat diperlukan,” jelas Nur Hidayati.
Sebelumnya Afandi pada Jumat (14/9) dibawa ke. RSUD Kalisari Batang atas instruksi Bupati Wihaji.

Didampingi Kepala Dinas Kesehatan, Wihaji langsung menginstruksikan agar Afandi dibawa ke RSUD Kalisari Batang untuk mendapat perawatan intensif. Selain itu, biaya perawatan juga diinstruksikan agar gratis, alias ditanggung pemkab.

“Saya perintahkan hari ini juga pak Afandi di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perwatan intensif. Untuk masalah biaya, Pemkab Batang yang akan menanggungnua,” ujar Wihaji.

Pada kesempatan itu, bupati juga memberikan motivasi kepada Afandi agar tidak putus asa. Menurut Wihaji, semua penyakit ada obatnya dan semua masalah pasti ada jalan solusinya.

“Kita harus percaya bahwa hidup, mati, rezeki jodoh sudah ada yang ngatur. Kita hanya menjalani hidup sesuai dengan apa yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Dan bila sakit, kita juga harus selalu berikhtiar untuk mencari kesembuhan. Sebagai umat muslim, kita harus percaya akan adanya bantuan dari Allah, dan dengan berdoa, yakinlah Allah akan menolong hambanya,” jelas Wihaji pada Afandi.

Afandi sendiri kepada bupati menceritakan penyakit yang sudah dideritanya sejak 14 tahun lalu. Akibat kondisinya itu, bapak dua orang anak ini mengaku sudah frustasi dan putus asa. Sehingga sekitar tahun 2017 lalu dia sempat mengajukan permohonan ke Kejaksanaan Negeri Batang dan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah agar diakhiri hidupnya dengan cara disuntik mati.

“Pada 2017 lalu saya sudah menyurati ke Kejaksaan Negeri Batang dan Kejati Jawa Tengah meminta permohonan suntik mati, namun sampai saat ini belum ada jawaban,” ungkap Afandi yang terbaring di ranjang kamarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang dr Hidayah Basbhet mengatakan, sesuai dengan rekam medis terdahulu Afandi hanya mengalami sakit mag kronis. Hal itu terlihat dari Rekam medisnya berupa hasil USG dan Foto Endhos Copy.

“Dari hasil rekam medis kita berkesimpulan Afandi sakit mag kronis, namun kondisinya saat ini lebih pada tekanan psikis karena tidak ujung sembuh,” kaya Hidaya Basbhet.

Hidaya Basbhet juga mengungkapkan bahwa selama empat tahun terakhir ini, Afandi tidak mau minum obat – obatan dari dokter. Dia hanya berobat ke alternatif, sehingga kondisinya semakin ngedrop, hingga pada akhirnya menggangu psikisnya.

“Oleh karena itu, kita rujuk ke rumah sakit agar ada penanganan intensif dari dokter. Dan kita akan konsultasikan dengan dokter, apakah perlu juga mendapatkan perawatan psikisnya dengan dokter kejiwaan,” beber Hidaya Basbhet.

Sementara itu, istri Afandi, Salehati mengaku dirinya tak bisa berbuat banyak dengan kondisi suaminya saat ini. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia hanya mengandalkan bantuan dan belas kasihan saudara serta tetangganya yang empati terhadap penderitaan yang sedang dialami suaminya.

Ia pun kini berharap kepada pemerintah setempat untuk bisa membantu biaya pengobatan dan meringankan beban hidup yang semakin berat. Terlebih masih ada tanggungan dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah.

“Kami sangat berharap agar suami saya bisa dibantu pengobatannya agar sembuh. Selain itu, juga ada bantuan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hati,” harap Salehati. (don)

Facebook Comments