Radar Kajen

Piye Kiye, Gara-gara Dolar Menguat Industri Konveksi dan Batik Terpukul

Konveksi

PENGARUH DOLAR – Bupati Pekalongan Asip Kholbihi akui kenaikan dolar berpengaruh terhadap industri konveksi di Kota Santri.

KAJEN – Nilai mata uang dolar AS yang masih menguat terhadap rupiah, diakui Bupati Pekalongan mempengaruhi sektor industri konveksi dan batik di daerah. Hal ini dikarenakan basis bahan produksi industri sebagian besar impor dan transaksinya menggunakan dolar.

“Yang agak memukul akibat menguatnya dolar ini adalah industri hulu di Kabupaten Pekalongan, seperti batik dan konveksi. Sebab, untuk harga morinya saja sudah naik, sehingga harga jualnya juga naik juga,” kata dia.

Dikatakan, berdasarkan informasi yang didapat, bahan produksi yang naik itu seperti kain, benang, pewarna, mesin produksi dan lain-lain harganya melonjak akibat melemahnya rupiah.

“Tadi malam saya bertemu dengan pengusaha-pengusaha. Diakui memang bahan produksi naik,” lanjut Bupati Asip.

Meski demikian, kenaikan ini belum terlalu berpengaruh terhadap perekonomian secara keseluruhan di Kota Santri. Seperti toko-toko bangunan yang masih tetap laris, dan daya beli terhadap kebutuhan yang masih normal meskipun terjadi kenaikan harga.

“Kita berdoa saja, semoga pemerintah pusat segera kembali menstabilkan rupiah. Karena itu tadi, bagaimanapun industri konveksi menyumbang 60 persen dari PDRB di Kabupaten Pekalongan. Sehingga, kau turunnya dolar itu lama, bisa berpengaruh pada pengusaha-pengusaha konveksi kita,” jelasnya.

“Sebab, kenaikan dolar ini berasa di kalangan pengusaha konveksi,” tandasnya.

Sementara, kenaikan semua bahan produksi konveksi telah terjadi beberapa bulan terakhir. Kondisi ini sempat membuat banyak pengusaha konveksi di Kabupaten Pekalongan kelimpungan.

Pasalnya, kenaikan yang mencapai 10 persen dari harga sebelumnya ini seiring dengan menurunnya permintaan pasar terhadap produk konveksi.

Beberapa bahan produksi konveksi yang mengalami kenaikan di antaranya, harga kain, benang, kancing, plastik, hingga aksesoris untuk pelengkap pakaian dan celana.

Mirza (29), salah seorang pengusaha konveksi asal Desa Pajomblangan, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, mengatakan, bahan produksi seperti kain, benang, kancing, plastik dan lain-lain mengalami kenaikan. Kenaikan rata-rata 10 persen ini dinilai cukup besar dibandingkan beberapa tahun terakhir. Imbasnya, biaya produksi yang harus dikeluarkan membengkak.

“Kalau bahan produksinya naik, otomatis biaya produksi juga naik,” kata dia. (yan)

Facebook Comments