Radar Batang

14 Tahun Terbaring Sakit, Afandi Ajukan Suntik Mati

Minta Suntik Mati

TERBARING – Afandi hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur kamarnya. Dia praktis tak bisa melakukan aktivitas selama 14 tahun terakhir.
M DHIA THUFAIL

Seorang pria bernama Afandi (48) warga Desa Timbang Rt 5 Rw 2, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengajukan permohonan suntik mati ke Kejaksaan Negeri Batang. Loh, kenapa? M Dhia Thufail, Batang

Afandi rupanya sudah tidak tahan lagi dengan penyakit yang dideritanya. Ditambah, mahalnya biaya kesehatan ditengah pemerintah pusat maupun daerah setempat gencar mempromosikan kartu jaminan kesehatan.

Kondisi pria dari pasangan Salehati (47) sendiri saat ini hanya bisa berbaring di dalam kamarnya sejak 14 tahun yang lalu. Ayah dari dua anak tersebut, seperti mayat hidup lantaran dari waktu kewaktu dirinya tak bisa apa-apa.

Mulai dari makan minum hingga mandi sampai buang airpun Afandi harus dilayani sang istri serta kedua anaknya. Entah penyakit apa yang dideritanya, hingga kini dari dunia medispun belum bisa menyembuhkan, hanya sekadar diberi tahu kalau dirinya mengidap penyakit lambung dan magh. Namun hingga kini belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit yang deritanya.

Hari demi hari Afandi hanya di dalam kamar, menunggu bantuan dari istri dan anak-anaknya untuk sekadar menemani maupun membantunya dalam beraktifitas keperluan mendesak.

Diceritakan Afandi saat ditemui Kamis (13/9) di kediamannya, sebelumnya ia sudah berusaha berobat baik tradisional maupun medis. Namun hingga harta simpananya sudah habis dan hanya tersisa rumah yang saat ini ditinggali bersama istri dan kedua anaknya, penyakitnya tersebut tak kunjung ada perubahan apalagi sembuh.

Berjalannya waktu, kata Afandi, fasilitas dari pemerintah yakni BPJS pun sudah pernah digunakan, akan tetapi tak bisa lagi atau kehabisan dana di kartu kesehatan tersebut. Selain itu, masih adanya perbedaan pelayanan juga membuatnya enggan lagi berurusan dengan rumah sakit. Putus asa dengan penyakit yang dideritanya sejak tahun 2004 tersebut membuat dirinya memutuskan untuk mengajukan suntik mati (eutanasia).

“Hingga kini belum ada perhatian khusus dari pemerintah setempat, meskipun dari Bupati yang baru ini tengah menggalakan warganya untuk bisa mendapatkan Kartu Batang Sehat (KBS). Namun informasi saja tidak tahu menahu, apalagi didaftarkan untuk memperoleh KBS,” katanya.

Sementara itu, istri Afandi, Salehati mengaku dirinya tak bisa berbuat banyak. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hanya mengandalkan dari bantuan dan belas kasihan saudara serta tetangganya yang empati terhadap penderitaan yang sedang dialami.

Ia pun kini berharap kepada pemerintah setempat untuk bisa membantu biaya pengobatan dan meringankan beban hidup yang semakin berat, terlebih masih ada tanggungan dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah.

“Sekitar tahun 2017 lalu saya sudah menyurati ke Kejaksaan Negeri Batang dan Kejati Jawa Tengah terkait permohonan suntik mati, namun sampai saat ini belum ada jawaban,” bebernya.

Afandi sendiri, kata Salehati, sebelum mengidap penyakit yang membuat dirinya tak berdaya tersebut berwirausaha sebagai perajin tahu tempe di desanya Timbang, Kecamatan Banyuputih.

Sementara itu, Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang Mohammad Said mengatakan, sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) Batang nomor 46 tahun 2017 tentang jaminan kesehatan masyarakat dengan program KBS hingga saat ini baru mendaftarkan peserta yang mengajukan program Bupati Batang Wihaji yakni klKartu Batang Sehat sebesar 1424 jiwa.

“Terkait Afandi sudah atau belum mendaftar Kartu Batang Sehat (KBS) kita belum bisa mengetahuinya, karena perlu waktu untuk memverivikasi lagi data yang ada,” tandasnya. (*)

 

Facebook Comments